Siapa yang menciptakan lagu cicak

MEDIA BLORA – Lagu Cicak Cicak di Dinding sangatlah populer dari masa ke masa, dari jaman dahulu sampai sekarang lagu Cicak Cicak di Dinding masih saja melekat dan hangat di telinga.

Lagu legendaris ini sangat mudah dihafal dan dinyanyikan, karena liriknya yang  pendek dan sangat gampang.

Namun, masyarakat Indonesia jarang yang tahu siapa pencipta lagu Cicak Cicak di Dinding ini?

Mari Kita simak selengkapnya terkait lagu Cicak Cicak di Dinding ini, siapa penciptanya dan lagaimana lirik lengkapnya.

Baca Juga: Lirik Lagu Cicak Cicak Di Dinding, Lagu Lawas Anak-Anak Lengkap Siapa Penciptanya

walaupun semua hafal lirik lagunya, tapi mereka tidak sampai mengetahui siapa penciptanya.

Dirangkum MEDIA BLORA dari berbagai sumber inilah Pencipta lagu Cicak di Dinding beserta pencipta lagunya.

Pencipta lagu Cicak di Dinding adalah Abdullah Totong Mahmud atau biasa dikenal dengan nama AT Mahmud.

AT Mahmud lahir di Palembang, Sumatera Selatan pada 3 Februari 1930. AT Mahmud meninggal pada 6 Juli 2010.

Pengarang lagu CICAK CICAK DI DINDING adalah NN atau tidak diketahui. NN sendiri adalah singkatan dari No Name atau tak ada nama. Meski begitu, beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh A.T. Mahmud.

Pembahasan

A.T Mahmud sendiri diketahui memang sangat aktif menciptakan lagu khususnya untuk anak-anak. Pada situs temankita(dot)com disebutkan bahwa sewaktu AT Mahmud ditugaskan mengajar di sebuah taman kanak-kanak di Jakarta Selatan, ia menciptakan lagu Cicak Cicak Di Dinding untuk kepentingan belajar. Lagu tersebut disebutkan sebagai lagu pertama yang diciptakan oleh AT Mahmud.

Meski begitu, sepertinya informasi ini meragukan sebab lebih banyak sumber lain yang menuliskan NN untuk lagu cicak-cicak di dinding ini.

Pelajari lebih lanjut:

  • Materi tentang profil At Mahmud brainly.co.id/tugas/14940023
  • Materi tentang 10 lagu ciptaan AT Mahmud brainly.co.id/tugas/13946839
  • Materi tentang 5 judul ciptaan AT Mahmud brainly.co.id/tugas/15673868

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Detil Jawaban

Kode           : –

Kelas          : SD

Mapel         : Seni Budaya

Bab             : Lagu anak-anak

Kata Kunci : Cicak, Dinding, Pencipta, AT Mahmud

Bakat Anak – Bagaimana AT Mahmud sukses berkarier sebagai penulis lagu anak?

Jika Ayah Ibu saya tantang untuk menyebut nama-nama penulis lagu anak di Indonesia, siapa saja yang bisa Anda sebutkan? Di antara nama-nama tersebut, tentu Anda juga mengenal sosok AT Mahmud. Penulis lagu anak yang tenar dengan lagu “Pelangi”, “Cicak di Dinding”, “Ambilkan Bulan”, dan ratusan lagu anak lainnya ini ternyata punya kisah menarik yang membawanya menggeluti karier sebagai pencipta lagu anak. Seperti apa kisahnya? Kita simak bersama, yuk.

Kenangan masa kecil

AT Mahmud yang kita kenal sebagai pencipta lagu anak-anak memiliki kenangan yang tak terlupakan tentang musik. Saat belajar di Hollandse Indische School (HIS), sekolah setara SD, ia terpukau oleh guru musik yang mengajarkan cara membaca notasi angka. Seperti apa, ya, cara guru tersebut mengajar?

Ayah Ibu pasti mengenal satu oktaf, alias menyanyikan nada do rendah sampai do tinggi – do re mi fa sol la si do. Nah, sang guru musik memperkenalkan nada-nada tersebut dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih melafalkan do re mi, sang guru menggunakan suku kata yang lebih mudah diingat para murid. Coba sekarang Anda nyanyikan do re mi, namun dengan suku kata berikut:

do  dol  ga  rut  e  nak  ni  an

Sekarang, coba nyanyikan dari nada do tinggi ke do rendah dengan suku kata di bawah ini:

e  nak  ni  an  do  dol  ga  rut

Nah, terdengar menarik dan lebih mudah ditangkap, bukan? Setelah menguasai “dodol garut enak nian” barulah AT Mahmud dan murid-murid lainnya dikenalkan pada notasi angka yang sesungguhnya. Bagi anak yang pada akhirnya berkarier sebagai pencipta lagu ini, belajar bernyanyi yang demikian sangatlah menyenangkan.

Saat Belanda menyerah pada Jepang pada 1942, AT Mahmud yang duduk di kelas lima pindah ke Muaraenim untuk melanjutkan sekolah di Kanzen Syogakko (pengganti HIS). Kepindahannya ke Muaraenim mengenalkannya lebih lanjut pada musik, serta sosok Ishak Mahmuddin, seorang anggota orkes musik Ming di kota tersebut. Ishak mengajari AT Mahmud cara memainkan gitar sampai mengarang lagu.

Kerinduan akan musik

Selepas hiruk-pikuk kemerdekaan dan urusan dengan Belanda usai sehingga RI berdaulat, AT Mahmud kembali ke bangku sekolah setelah menjadi anggota Tentara Pelajar. Lulus SMP pada Agustus 1950 namun tak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah, sang paman mengajak AT Mahmud bekerja di sebuah bank milik Belanda yang masih beroperasi. Tidak memiliki pilihan lain, ajakan tersebut akhirnya diterima.

Namun seiring berjalannya waktu, AT Mahmud merasakan kekosongan. Dari tempatnya bekerja, ia melihat langsung jalan dan lalu lintas, keramaian, serta para siswa yang membawa buku sekolah. Benar bahwa dengan bekerja ia bisa mendapatkan uang, namun ini bukan jalan yang benar-benar dipilihnya. AT Mahmud gelisah; ia ingin kembali ke sekolah.

Akhirnya, kesempatan pun datang. Sekolah Guru bagian A (SGA), sekolah setara SMA di Palembang dibuka untuk murid baru, dan memberikan tunjangan belajar selama 3 tahun. Syaratnya hanyalah setelah tamat sekolah, harus bersedia ditempatkan di mana saja sebagai guru.

Melihat kesempatan ini sebagai hal baik, AT Mahmud pun langsung berhenti bekerja di bank dan mendaftar sebagai siswa baru. Bersekolah di SGA menjadi salah satu momen pertamanya dalam mencipta lagu, sayang teksnya hilang. Namun jika diingat-ingat, kira-kira penggalan lagunya berbunyi: “Betapa dalam laut, betapa tinggi gunung, tidak dapat melebihi dalam dan tingginya kasih Ibu.”

Dukungan mencipta lagu dari sekitar

Jalur keguruan yang ditempuhnya membuat AT Mahmud melanjutkan sekolah di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta untuk memperoleh gelar sarjana. Kebetulan, waktu itu ia juga ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jakarta Selatan. Di sinilah ia pada akhirnya benar-benar berkomitmen untuk berkarier di dunia musik, sebagai pencipta lagu anak.

Di SGTK, kepala sekolahnya menyukai musik, dan guru musik di sana piawai memainkan piano dan mengarang lagu. Tidak hanya itu, para calon guru di SGTK pun turut andil dalam perjumpaan AT Mahmud kembali dengan musik. Beberapa tugas praktik memerlukan lagu anak yang mudah diajarkan kepada anak-anak. Saat itu, mencari lagu anak yang cocok untuk anak-anak termasuk sulit, sehingga para murid kemudian meminta A.T. Mahmud untuk mengarang lagu. Salah satu lagu pertamanya adalah “Cicak di Dinding” yang kemudian menjadi kesukaan anak-anak!

Mencipta lagu anak dari sudut pandang anak

Pengalaman tersebut membuat AT Mahmud semakin tekun mengarang lagu anak-anak, dan ini membuatnya mengambil keputusan untuk meninggalkan kuliah Bahasa Inggrisnya untuk fokus pada arah karier yang dicintainya. Sebagian besar lagunya diciptakan berdasarkan ide yang diperolehnya saat berinteraksi dengan anak-anak, termasuk anak-anaknya sendiri.

Semisal, lagu “Pelangi” terinspirasi saat sang ayah tiga anak ini mengantarkan Rika, anak keduanya, ke sekolah. Di tengah perjalanan, Rika yang saat itu berusia lima tahun mendongak ke langit dan melihat bianglala. Sontak sang anak berteriak, “Pelangi!” Saat itu sang ayah mencoba mencari kata-kata yang tepat tentang pelangi dari sudut pandang anak kecil. Setibanya di rumah, AT Mahmud mengiringi kata-kata tersebut dengan gitar, menjadi lagu anak yang kita pasti hapal di luar kepala.

Lagu “Ambilkan Bulan” pun punya latar belakang penulisan yang menarik. Saat malam tiba, salah satu anak AT Mahmud sedang bermain di teras rumah. Tiba-tiba ia menarik lengan sang ayah, memintanya untuk berjalan keluar. Tiba-tiba sang anak berkata, “Pa, ambilkan bulan.” Kalau Ayah Ibu mendapat permintaan yang demikian, apa respon Anda? Terkejut? Bingung?

Ya, sebagai seorang ayah ia juga bingung, tidak mengerti buat apa sang anak meminta bulan. Meskipun kejadian tersebut berlalu begitu saja, permintaan sang anak melekat dalam benaknya. Mencoba memahami permintaan tersebut dari dunia anak-anak, sang ayah akhirnya menuliskan keinginan sang anak dalam sebuah lagu. Agar lebih lembut, ia pun mengubah “Ambilkan bulan, Pa” menjadi “Ambilkan bulan, Bu”.

Ternyata, saat anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, belajar seasyik bermain, anak bisa menaruh minat pada bidang tersebut, bahkan menekuninya sampai ke jenjang karier! Perjalanan karier AT Mahmud juga membuktikan bahwa dorongan dalam diri untuk mencipta lagu anak-anak juga dipicu dari dukungan dari lingkungan sekitarnya. Itu berarti, Ayah Ibu juga berperan dalam pengembangan bakat dan karier anak. Setuju?

 

Ingin merintis karier anak Anda? Nantikan buku “Karier Bukan Tanda Titik”, ya!

 

Foto dicuplik dari sini

Bagikan ke teman dengan klik tombol di bawah ini

About Malang, 6 Januari 2022 – Lirik lagu Cicak Cicak di Dinding yang merupakan lagu anak Indonesia dapat kamu peroleh dari artikel ini.

Lirik lagu Cicak Cicak di Dinding ini diciptakan oleh komposer lagu anak ternama Indonesia, yakni A. T. Mahmud.

Nah, berikut ini merupakan lirik lagu Cicak Cicak di Dinding yang merupakan lagu anak Indonesia.

Baca Juga: Ini 10 Daftar Lirik Lagu Anak-anak Indonesia yang Cocok Dinyanyikan untuk Menghibur Anak

Cicak cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap lalu ditangkap

Cicak cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap lalu ditangkap

Cicak cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap lalu ditangkap

Cicak cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap lalu ditangkap

Itu tadi adalah lirik lagu Cicak Cicak di Dinding yang diciptakan oleh AT Mahmud.

Jakarta

Detikers, apakah kalian akrab dengan lagu Aku Anak Indonesia? Jika kalian merupakan generasi 90-an pasti kalian cukup akrab dengan lagu tersebut. Bagi detikers yang belum mengetahuinya, berikut adalah lirik lagu Aku Anak Indonesia yang dilansir dari laman resmi Kemdikbud.

Tetapi sebelum membahas liriknya, alangkah lebih baik mengetahui sejarahnya terlebih dahulu. Lagu yang berjudul Aku Anak Indonesia adalah lagu yang dinyanyikan oleh AT Mahmud pada awal dekade 60-an.

Kemudian pada tahun 2011, lagu Aku Anak Indonesia dinyanyikan ulang oleh Ruth Manurung yang berkolaborasi dengan Terence.

Berikut adalah lirik lagu Aku Anak Indonesia yang diciptakan oleh A.T Mahmud:

Aku anak Indonesia

Anak yang merdeka

Satu nusaku

Satu bangsaku

Satu bahasaku

Indonesia

Indonesia

Aku bangga menjadi

Anak Indonesia

Pending di khatulistiwa

Tanahku Indonesia

Ribu pulaunya

Ragam sukunya

Satu jiwa raganya

Indonesia

Indonesia

Aku bangga menjadi

Anak Indonesia

Aku anak Indonesia

Anak yang merdeka

Satu nusaku

Satu bangsaku

Satu bahasaku

Indonesia

Indonesia

Aku bangga menjadi

Anak Indonesia

Baca juga

Selain menciptakan lagu Aku Anak Indonesia, A.T Mahmud juga menciptakan lagu yang berjudul Cemara. Lagu tersebut mengisahkan tentang anak-anak yang merasakan suasana di tengah banyaknya pohon cemara yang ramping dan menari saat tertiup angin.

Berikut adalah liriknya:

Cemara pohon ranting, daunnya halus langsing

Bergerak-gerak kian kemari, seperti camar menari

Ketika angin lalu menyentuh daun cemara

Terdengar desir di telingaku, sebuah lagu merdu

(Ulangi sesuka hati)

Lagu Cicak-Cicak Di Dinding juga diciptakan oleh AT. Mahmud. Dalam lagu Cicak-Cicak di Dinding dalam liriknya diajarkan untuk selalu giat berusaha.

Tersirat dari lirik, ‘diam-diam merayap’, ini berarti kita harus bergerak, tidak berdiam diri dan berusaha untuk mencapai sesuatu. Hingga akhirnya usaha tersebut akan mengantar pada tujuan seperti dalam kalimat ‘hap! lalu ditangkap.’

Berikut lirik lagu Cicak-Cicak di Dinding:

Cicak cicak di dinding

Diam diam merayap

Datang seekor nyamuk

Hap lalu ditangkap

Nah itu tadi adalah lirik lagu Aku Anak Indonesia dan lagu AT Mahmud yang lainnya. Sudah akrab di telinga kan detikers?

Simak Video “

Bintang Kecil, Cahaya Dalam Krisis Lagu Anak Indonesia


[Gambas:Video 20detik]
(atj/lus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *