Perbedaan almarhum dan almarhumah

Jakarta

Bagi masyarakat Indonesia, gelar almarhum dan almarhumah biasanya disematkan untuk orang yang sudah meninggal. Gelar almarhum untuk jenazah yang berjenis kelamin laki-laki, kemudian gelar almarhumah untuk jenazah perempuan.

Lantas, apa makna di balik gelar ini dan seperti apa penggunaannya yang tepat?

A. Makna Almarhum dan Almarhumah

Melansir dari laman resmi Muhammadiyah, gelar almarhum dan almarhumah bila ditelisik dari asal katanya, keduanya sama-sama berasal dari bahasa Arab. Keduanya berasal dari kata rahimullah yang artinya semoga Allah merahmatinya.

Jadi, secara istilah, gelar almarhum dan almarhumah pada dasarnya bermakna laki-laki dan perempuan yang dirahmati atau dikasihi.

“Almarhum dan almarhumah berasal dari bahasa Arab yang berarti laki-laki dan perempuan yang dirahmati atau dikasih,” tulis Muhammadiyah.

Namun, setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata almarhum dan almarhumah mengalami perubahan makna.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gelar almarhum dan almarhumah mengandung tiga arti di antaranya, 1) yang dirahmati Allah (sebutan kepada orang Islam yang telah meninggal); 2) yang telah meninggal; mendiang, 3) kata untuk menyebut orang yang telah meninggal.

Meskipun demikian, kedua kata tersebut tetap mengandung doa bagi orang yang telah meninggal. Khususnya untuk orang Islam.

B. Penggunaan Gelar Almarhum dan Almarhumah

Berdasarkan penjelasan dari laman Muhammadiyah, penggunaan gelar almarhum dan almarhumah hanya boleh diperkenankan bagi umat muslim. Di luar dari itu, seperti jenazah bagi orang kafir tidak diperkenankan menggunakan gelar ini.

Umat muslim lebih disarankan untuk menggunakan kata mendiang bagi mereka. Hal ini dilandasi dari salah satu firmanNya melalui surat Al Baqarah ayat 161-162 yang berbunyi,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (161)
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (162)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.”

Selain itu, dijelaskan pula dalam surat Al Baqarah ayat 217,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Berdasarkan dalil di atas juga, gelar almarhum dan almarhumah tidak diperkenankan untuk disematkan bagi jenazah mereka yang murtad. Sebab, disebutkan dalam ayat di atas bahwa orang-oran murtad sudah dapat dipastikan akan meninggal dalam keadaan kufur atau kekafiran.

“(Orang murtad) tidak akan mendapat rahmat dari Allah, bahkan mereka itu mendapat laknat atau kutukan dan mendapat siksaan selama-lamanya di neraka,” bunyi penjelasan dari situs Muhammadiyah.

Wallahu’alam.

Simak Video “

Duka Mendalam atas Meninggalnya Pele


[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

SRIPOKU.COM – Tak banyak yang tahu, ternyata sebutan almarhum atau almarhumah tidak tepat untuk orang yang sudah meninggal, lantas apa yang musti diucapkan? Berikut penjelasannya.

Ada banyak kebiasaan yang berkembang di masyarakat yang ternyata membuat latah, termasuk penggunaan ucapan untuk orang yang telah meninggal dunia.

Biasanya kita sering memakai ucapan atau sebutan almarhum dan almarhumah untuk orang yang telah meninggal dunia.

Sehingga pengucapan kata almarhum dan almarhumah menjadi pola kebiasaan di tengah masyarakat.

Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, arti almarhum dan almarhumah kurang tepat dalam penyebutan untuk orang yang telah meninggal dunia.

Lantas, kenapa sih kok kita tidak diperbolehkan menyebut kata almarhum atau almarhumah untuk orang yang sudah meninggal?

Kemudian, kata apa yang tepat dalam penggunaan penyebutan orang yang telah meninggal dunia?

Berikut ini penjelasan mengenai sebutan tepat untuk orang yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Arti Takziyah Ternyata Bukan Melayat, Ini Arti Sebenarnya Terdapat Dalam Dua Pesan Nabi Berikut Ini

Ilustrasi keranda mayatIlustrasi keranda mayat (istimewa)

Baca juga: Benarkah Adzan saat Pemakaman Jenazah Dianggap Sesat? Ternyata Beginilah Hukumnya Ada Dua Pendapat

Kata almarhum dalam bahasa Indonesia berarti yang dirahmati Allah.

Sedangkan kita tidak pernah tahu orang yang sudah meninggal itu dirahmati Allah atau tidak karena itu adalah perkara yang ghaib.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran surat An-Naml ayat 65.

Artinya:

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali allah.” (QS. An-Naml:65)

Jadi, lebih baik jika kita mendoakan orang yang masih hidup atau orang yang sudah meninggal dengan panggilan rahimahullah yang berarti semoga Allah merahmati.

Sehingga, ucapan yang tepat bagi orang yang telah meninggal dunia adalah rahimahullah (semoga yang dirahmati oleh Allah).

Sementara ucapan Almarhum dihindari lantaran berarti orang yang dirahmati oleh Allah.

Baca juga: Arti Husnul Khotimah dan Khusnul Khotimah Ternyata Punya Perbedaan Makna, Awas Ada yang Artinya Hina

SUBSCRIBE US

:: PENGAJUAN PEMBAYARAN TABUNGAN HARI TUA DAN ASURANSI KEMATIAN DARI PT. TASPEN

PENGERTIAN
a. Apabila PNS atau Pejabat Negara peserta Taspen berhenti karena telah mencapai BUP, maka kepada PNS atau Pejabat Negara tersebut berhak mendapatkan pembayaran Tabungan Hari Tua (THT) dan Pensiun Pertama dari PT. Taspen.
b. Apabila PNS atau Pejabat Negara peserta Taspen meninggal dunia sebelum pensiun, maka kepada ahli waris PNS atau Pejabat Negara tersebut berhak mendapatkan pembayaran Tabungan Hari Tua (THT) dan Asuransi Kematian dari PT. Taspen.

DASAR HUKUM
– PP No. 25 Tahun 1981
– PP No. 26 Tahun 1981

PERSYARATAN

a. Pengajuan Pembayaran THT Taspen dan Pensiun Pertama (bagi PNS telah mencapai BUP)
– Mengisi Formulir SP4A asli dan fotokopi (1 rangkap)
– SK Pensiun dan fotokopi (1 rangkap)
– SKPP asli dan fotokopi (1 rangkap)
– Fotokopi SK CPNS (2 rangkap)
– Fotokopi Kartu Pegawai (2 rangkap)
– Fotokopi Kartu Peserta Taspen (2 rangkap)
– Pas Foto Pemohon ukuran 3 x 4 cm (3 lembar)
– Pas Foto Istri / Suami Pemohon ukuran 3 x 4 cm (3 lembar)
– Fotokopi KTP Pemohon (2 rangkap)
– Fotokopi Buku Tabungan / Rekening Bank apabila ingin dibayarkan melalui bank (2 rangkap)
– Apabila belum memiliki Buku Tabungan/Rekening Bank agar mengisi formulir SP3R
 
b. Pengajuan Pembayaran THT Taspen dan Asuransi Kematian (bagi PNS yang meninggal sebelum BUP tanpa menunggu SK Janda / Duda terlebih dahulu)
– Mengisi Formulir AKT 2 dan 3 dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.
– Surat Keterangan Kematian dari Desa/Kelurahan/RS/Puskesmas asli dan fotokopi (1 rangkap)
– Kutipan Perincian Penerimaan Gaji (2 rangkap)
– Fotokopi SK Pangkat atau Kenaikan Gaji Berkala terakhir (dilegalisir/2 rangkap)
– Fotokopi SK CPNS (2 rangkap)
– Fotokopi Kartu Peserta Taspen (2 rangkap)
– Fotokopi Buku Nikah (dilegalisir KUA, 2 rangkap)
– Fotokopi Karis / Karsu (2 rangkap)
– Fotokopi Daftar Gaji Almarhum / Almarhumah pada bulan saat meninggal dunia (2 rangkap)
– Fotokopi KTP Pemohon (2 rangkap)
– Fotokopi Buku Tabungan / Rekening Bank apabila ingin dibayarkan melalui bank (2 rangkap)
– Apabila belum memiliki Buku Tabungan/Rekening Bank agar mengisi formulir SP3R

c. Pengajuan Pembayaran Nilai Tunai THT Taspen (bagi PNS yang diberhentikan dengan hormat atau tidak dengan hormat tanpa hak pensiun)
– Mengisi Formulir AKT 1
– SK Pemberhentian asli dan fotokopi (1 rangkap)
– SKPP asli dan fotokopi (1 rangkap)
– Fotokopi SK CPNS (2 rangkap)
– Fotokopi Kartu Peserta Taspen (2 rangkap)
– Fotokopi Buku Tabungan / Rekening Bank apabila ingin dibayarkan melalui bank (2 rangkap)
 Apabila belum memiliki Buku Tabungan/Rekening Bank agar mengisi formulir SP3R

d. Pengajuan Pembayaran Asuransi Kematian (bagi PNS aktif yang keluarganya ada yang meninggal dunia)
– Mengisi Formulir AKT 4 dan disahkan oleh Kepala SKPD/Unit Kerja tempat PNS yang bersangkutan bekerja.
– Kutipan Perincian Penerimaan Gaji (2 rangkap)
– Surat Keterangan Kematian dari Desa/Kelurahan/RS/Puskesmas asli dan fotokopi (1 rangkap)
– Fotokopi KTP Pemohon (2 rangkap)
– Fotokopi Kartu Peserta Taspen (2 rangkap)
– Fotokopi Buku Nikah apabila yang meninggal adalah Istri / Suami peserta (dilegalisir KUA, 2 rangkap)
– Fotokopi Akta Kelahiran apabila yang meninggal adalah Anak peserta (dilegalisir Dindukcapil, 2 rangkap)
– Asli Surat Keterangan Sekolah / Kuliah apabila yang meninggal dunia Anak peserta yang berusia 21 s.d 25 tahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *