Mengapa sultan hasanudin dijuluki sebagai ayam jantan dari timur

Tokoh yang memimpin perlawanan terhadap VOC di Makassar adalah Sultan Hasanuddin (1653-1669). Ia adalah raja Gowa-Tallo yang menolak monopoli dan keberadaan VOC di Makassar. Pada tahun 1660, terjadilah pertempuran hebat antara pasukan Gowa dengan Belanda. Pertempuran itu kemudian berakhir dengan perjanjian perdamaian. Namun Belanda melanggar perjanjian yang merugikan Gowa. Sultan Hasanuddin pun menyerang dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan de Leeuwin. Karena usaha dan keberaniannya itu, Belanda kemudian menjulukinya “Ayam Jantan dari Timur”. Akibat penyerangan tersebut, Belanda marah dan menyerang Gowa dengan pasukan besar. Sultan Hasanuddin yang semakin terdesak akhirnya bersedia berunding dan menghasilkan Perjanjian Bongaya (18 November 1667) yang merugikan Gowa.

Dengan demikian, Sultan Hasanuddin mendapatkan julukan ”Ayam Jantan dari Timur” karena kegigihan dan usaha kerasnya dalam menghadapi VOC.

Sultan Hasanuddin merupakan salah satu pahlawan nasional yang memiliki kegigihan dan cerdas mengatur strategi perang saat melawan Belanda, Sultan juga pandai dalam berdagang. Maka dari kegigihan diserati agresif ketika berperang membuat Sultan Hasanuddin dijuluki Ayam Jantan Dari Timur oleh Belanda, hal ini didukung dengan sebutan ayam jantan karena ayam jantan memiliki makna tentang kekuasaan, keperkasaan serta kekuataan yang hebat.

Pembahasan

Sultan Hasanuddin memiliki nama lahir Muhammad Bakir I Mallombasi, nama lahir tersebut berganti menjadi Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangka dikarenakan beliau naik tahta menjadi Raja kerajaan Gowa yang ke 16. Pada masa kepemimpinan beliau, Kerajaan Gowa-Tallo mencapai masa-masa hebat keemasannya sebagai pusat perdagangan terbesar di Indonesia bagian timur, hal ini tentu saja membuat Kerajaan ini terhubung ke berbagai wilayah di Indonesia.

Pelajari lebih lanjut

  1. Penjelasan asal kesultanan Sultan Hasanuddin brainly.co.id/tugas/9269660
  2. Penjelasan siapa Sultan Hasanuddin brainly.co.id/tugas/2243667
  3. Julukan untuk Sultan Hasanudin brainly.co.id/tugas/14376868

Detail jawaban

Kelas: 10

Mapel: Sejarah

Bab: Bab 5 – Zaman Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Kode: 10.3.5

#TingkatkanPrestasimu

PORTAL PURWOKERTO – Mengapa Sultan Hasanudin dijuluki ‘Ayam Jantan dari Timur’ ? Kunci jawaban kelas 4 SD tema 5 subtema 1.

Halo adik-adik, kali ini kita akan membahas tentang alasan mengapa salah satu raja dari Indonesia yakni Sultan Hasanudin dijuluki ‘Ayam Jantan dari Timur’?

Sebagai pengingat, materi tersebut merupakan pedoman atau panduan jawaban bagi orang tua siswa dan siswi kelas 4 SD MI dan diharapkan adik-adik tetap dapat bereksplorasi lebih lanjut dari jawaban pada artikel ini.

Sebelum kita memasuki jawaban dari soal diatas, mari simak ulasan materi tentang Sultan Hasanudin, bersama alumni FIP Unsoed, Muhammad Iqbal, S.Pd dengan Portal Purwokerto.

Sultan Hasanudin adalah salah satu raja dari wilayah timur yang dikenal arif dan bijaksana dan ide-ide cemerlangnya.

Baca Juga: Apa Prestasi Gusnadi Wiyoga? Kunci Jawaban Kelas 4 SD Tema 5 Subtema 2, Halaman 62-64

Berasal dari kesultanan Gowa Tallo, Sultan Hasanudin terkenal lantaran memiliki ide besar, yakni menolak monopoli perdagangan oleh perusahaan besar Belanda/VOC.

Sultan Hasanudin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631 dari pasangan Sultan Malikussaid yang menjabat sebagai raja Gowa ke 15 dengan I Sabbe To’mo Lakuntu.

Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas, Sultan Hasanudin memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan pandai berdagang.

Sultan Hasanuddin diabadikan sebagai salah satu perangko

Sultan Hasanuddin (Dijuluki Ayam Jantan dari Timur oleh Belanda) (12 Januari 1631 – 12 Juni 1670) adalah Sultan Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape sebagai nama pemberian dari Qadi Islam Kesultanan Gowa yakni Syeikh Sayyid Jalaludin bin Ahmad Bafaqih Al-Aidid, seorang mursyid tarekat Baharunnur Baalwy Sulawesi Selatan yang juga adalah gurunya, termasuk guru tarekat dari Syeikh Yusuf Al-Makassari. Setelah menaiki takhta, ia digelar Sultan Hasanuddin, setelah meninggal ia digelar Tumenanga Ri Balla Pangkana. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.[1]

Sultan Hasanuddin, merupakan putera dari Raja Gowa ke-15, I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Muhammad Said. Sultan Hasanuddin memerintah Kesultanan Gowa mulai tahun 1653 sampai 1669. Kesultanan Gowa adalah merupakan kesultanan besar di Wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Makam Sultan Hasanuddin di Sungguminasa, Gowa

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631. Dia lahir dari pasangan Sultan Malikussaid, Sultan Gowa ke-15, dengan I Sabbe To’mo Lakuntu. Jiwa kepemimpinannya sudah menonjol sejak kecil. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas, dia juga pandai berdagang. Karena itulah dia memiliki jaringan dagang yang bagus hingga Makassar, bahkan dengan orang asing.

Hasanuddin kecil mendapat pendidikan keagamaan di Masjid Bontoala. Sejak kecil ia sering diajak ayahnya untuk menghadiri pertemuan penting, dengan harapan dia bisa menyerap ilmu diplomasi dan strategi perang. Beberapa kali dia dipercaya menjadi delegasi untuk mengirimkan pesan ke berbagai kerjaan.

Saat memasuki usia 21 tahun, Hasanuddin diamanatkan jabatan urusan pertahanan Gowa. Ada dua versi sejarah yang menjelaskan kapan dia diangkat menjadi raja, yaitu saat berusia 24 tahun atau pada 1655 atau saat dia berusia 22 tahun atau pada 1653. Terlepas dari perbedaan tahun, Sultan Malikussaid telah berwasiat supaya kerajaannya diteruskan oleh Hasanuddin.

Selain dari ayahnya, dia memperoleh bimbingan mengenai pemerintahan melalui Mangkubumi Kesultanan Gowa, Karaeng Pattingaloang. Sultan Hasanuddin merupakan guru dari Arung Palakka, salah satu Sultan Bone yang kelak akan berkongsi dengan Belanda untuk menjatuhkan Kesultanan Gowa.

Pada pertengahan abad ke-17, Kompeni Belanda (VOC) berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis. Kompeni Belanda memaksa orang-orang negeri menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, selain itu Kompeni menyuruh tebang pohon pala dan cengkih di beberapa tempat, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak. Maka Sultan Hasanuddin menolak keras kehendak itu, sebab yang demikian adalah bertentangan dengan kehendak Allah katanya. Untuk itu Sultan Hasanuddin pernah mengucapkan kepada Kompeni “marilah berniaga bersama-sama, mengadu untuk dengan serba kegiatan”. Tetapi Kompeni tidak mau, sebab dia telah melihat besarnya keuntungan di negeri ini, sedang Sultan Hasanuddin memandang bahwa cara yang demikian itu adalah kezaliman.

Pada tahun 1660, VOC Belanda menyerang Makassar, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Tahun 1667, VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar. Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak dan semakin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya. Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi. Pertempuran kembali pecah pada Tahun 1669. Kompeni berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 karena penyakit ari-ari.

Dinamai sebagai Hasanuddin

[

sunting

|

sunting sumber

]

Namanya kini diabadikan untuk Universitas Hasanuddin, Kodam XIV/Hasanuddin dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, KRI Sultan Hasanuddin dan Jl. Sultan Hasanuddin di berbagai kota di Indonesia.

  1. ^Buku Pintar Pahlawan Nasional.

    Peranginangin, Marlon dkk; Banten : Scientific Press, 2007

Lihat juga

[

sunting

|

sunting sumber

]

Baca Juga: Profil S Parman, Pahlawan Revolusi Lengkap dengan Agama, Umur, Asal, Perjalan Karir hingga Akhir Hayat

Karena hak para pekerja banyak yang dilanggar akhirnya, Arung Palakka yang juga teman masa kecil Sultan kasihan melihatnya.

Arung Palakka termasuk petinggi Bone, ia mengajak Tobala Arung untuk mengadakan pemberontakan kepada Gowa.

Dalam pemberontakan itu, Arung Palakka dapat lolos dan Tobala Arung tewas. Setelahnya Arung Palakka meminta bantuan ke Sultan Buton.

Bertahun-tahun setelahnya Sultan Hasanuddin berperang melawan Belanda yang bekerjasama dengan rakyatnya yang berkhianat.

Pada tahun 1669 akhirnya Sultan Hasanuddin kalah dalam peperangan selama 16 tahun.

Baca Juga: 10 Nama Pahlawan Revolusi yang Gugur saat G30S PKI

Belanda mengakui bahwa perang melawan Sultan Hasanuddin adalah perang Makassar yang hebat dalam menguasai perdagangan.

Kegigihannya dalam melawan Belanda hingga dujuluki De Haantjes van Het Osten atau Ayam Jantan dari Timur.

Demikian asal usul Sultan Hasanuddin hingga dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur.***

Sejarah

Sebelum Kerajaan Gowa terbentuk, terdapat 9 (sembilan) Negeri atau Daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang penguasa yang merupakan Raja Kecil. Negeri ini ialah Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada suatu waktu Paccallayya bersama Raja-Raja kecil itu masygul karena tidak mempunyai raja, sehingga mereka mengadakan perundingan dan sepakat memohon kepada Dewata agar menurunkan seorang wakilnya untuk memerintah Gowa.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1320 (Hasil Seminar Mencari Hari Jadi Gowa) dengan diangkatnya Tumanurung menjadi Raja Gowa maka kedudukan sembilan raja kecil itu mengalami perubahan, kedaulatan mereka dalam daerahnya masing-masing dan berada di bawah pemerintahan Tumanurung Bainea selaku Raja Gowa Pertama yang bergelar Karaeng Sombaya Ri Gowa.

Raja kecil hanya merupakan Kasuwiyang Salapanga (Sembilan Pengabdi), kemudian lembaga ini berubah menjadi Bate Salapang (Sembilan Pemegang Bendera).

MASA KERAJAAN

Pada tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan kelompok kaum yang disebut Kasuwiyang-Kasuwiyang dan merupakan kerajaan kecil yang terdiri dari 9 Kasuwiyang yaitu Kasuwiyang Tombolo, Lakiyung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero.

Pada masa sebagai kerajaan, banyak peristiwa penting yang dapat dibanggakan dan  mengandung citra nasional antara lain Masa Pemerintahan I Daeng Matanre Karaeng Imannuntungi Karaeng Tumapa’risi Kallonna berhasil memperluas  Kerajaan Gowa melalui perang dengan menaklukkan Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkaje’ne), Sidenreng, Lempangang, Mandalle dan lain-lain kerajaan kecil, sehingga Kerajaan Gowa meliputi hampir seluruh dataran Sulawesi Selatan.

Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa’risi Kallonna tersebutlah nama Daeng Pamatte selaku Tumailalang yang merangkap sebagai Syahbandar, telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari  18 huruf yang disebut  Lontara Turiolo.

Pada tahun 1051 H atau tahun 1605 M, Dato Ribandang menyebarkan Agama Islam di Kerajaan Gowa dan tepatnya pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1051 H atau 20 September 1605 M, Raja I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk agama Islam dan mendapat gelar Sultan Alauddin. Ini kemudian diikuti oleh Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dengan gelar Sultan Awwalul Islam dan beliaulah yang mempermaklumkan shalat Jum’at untuk pertama kalinya.

Raja I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Bakir Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI dengan gelar Ayam Jantan dari Timur, memproklamirkan Kerajaan Gowa  sebagai kerajaan maritim yang memiliki armada perang yang tangguh dan kerajaan terkuat di Kawasan Indonesia Timur.

Pada tahun 1653 – 1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijaksanaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Hal ini mendapat tantangan dari VOC yang menimbulkan konflik dan perseteruan yang mencapai puncaknya saat Sultan Hasanuddin menyerang posisi Belanda di Buton.

Akibat peperangan yang terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan VOC mengakibatkan jatuhnya kerugian dari kedua belah pihak, oleh Sultan Hasanuddin melalui pertimbangan kearifan dan kemanusiaan guna menghindari banyaknya kerugian dan pengorbanan rakyat, maka dengan hati yang berat menerima permintaan damai VOC.

Pada tanggal 18 November 1667 dibuat perjanjian yang dikenal  dengan Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya). Perjanjian tidak berjalan langgeng karena pada tanggal 9 Maret 1668, pihak Kerajaan Gowa merasa dirugikan. Raja Gowa kembali dengan heroiknya mengangkat senjata melawan Belanda yang berakhir dengan jatuhnya Benteng Somba Opu secara terhormat. Peristiwa ini mengakar erat dalam kenangan setiap patriot Indonesia yang berjuang gigih membela tanah airnya.

Sultan Hasanuddin bersumpah  tidak sudi bekerja sama dengan Belanda dan pada tanggal 1 Juni 1669 meletakkan jabatan sebagai Raja Gowa ke XVI setelah hampir 16 tahun melawan penjajah. Pada hari Kamis tanggal 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin mangkat dalam usia 36 tahun. Berkat perjuangan dan jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, maka dengan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 16 Nopember 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Dalam sejarah berdirinya Kerajaan Gowa, mulai dari Raja Tumanurung Bainea sampai dengan setelah era Raja Sultan Hasanuddin  telah mengalami 36 kali pergantian Somba (raja) sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

Nama-Nama Raja Kerajaan Gowa dari Tahun 1320 s/d 1957

No.  

Nama Raja

Periode

1.

Tumanurung Bainea (Putri Ratu)

2.

Tamasalangga Baraya

1320 – 1345

3.

I Puang Loe Lembang

1345 – 1370

4.

I Tuniata Banri

1370 – 1395

5.

Karampang Ri Gowa

1395 – 1420

6.

Tunatangka Lopi

1420 – 1445

7.

Batara Gowa Tuniawangngang Ri Paralakkenna

1445 – 1460

8.

IPakere’ Tau Tunijallo Ri Passukki

1460

9.

Dg. Matanre Krg. Mangngutungi Tumapa’risi Kallonna

1460 – 1510

10.

I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng.

1510 – 1546

11.

I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data’ Tunibatta

1546 – 1565

12.

I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo.

1565 (40 hari)

13.

I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Karaeng Bontolangkasa Tunipasulu Tumenanga Ri Butung.

1565 – 1590

14.

I Mangngerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga Ri Gaukanna

1590 – 1593

15.

I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenanga Ri Papan Batuna.

1593 – 1639

16.

I Mallombasi Dg Mattawang Muhammad Basir Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Ballapangka.

1639 – 1653

17.

I Mappasomba Daeng Nguraga Karaeng Lakiung Sultan Amir Hamzah Tumammalianga Ri Allu.

1653 – 1669

18.

I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei Sultan Muhammad Ali Tumenanga Ri Jakattara.

1669 – 1674

19.

I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanro BoneSultan Abdul Jalil Tumenanga Ri Lakiung.

1674 – 1677

20.

La Pareppa Tu Sappewalia Karaeng Ana’ Moncong Sultan Ismail Tumenanga Ri Somba Opu.

1677 – 1709

21.

I Mappau’rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Tumenanga Ri Passiringanna.

1709 – 1711

22.

I Manrabia Karaeng Kanjilo Sultan Najamuddin Tumenanga Ri Jawaya.

1712 – 1724

23.

I Mappau’rangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Tumenenga Ri Passiringanna (Kedua kalinya)

1724 – 1729

24.

I Mallawagau Karaeng Lempangang Sultan Abdul Khair Al Mansyur Tumenanga Ri Gowa.

1729 – 1735

25.

I Mappababbasa Sultan Abdul Kudus Tumenanga Ri Bontoparang.

1735 – 1742

26.

Amas Madina ‘Batara Gowa II’ Sultan Usman (diasingkan ke Sailon oleh Belanda)

1742 – 1753

27.

I Mallisu Jawa Daeng Riboko Karaeng Tompobalang Sultan Maduddin Tumenanga Ri Tompobalang.

1753 – 1767

28.

I Temmasongeng / I Makkaraeng Karaeng Katangka Sultan Zainuddin Tumenanga Ri Mattoanging.

1767 – 1769

29.

I Mannawarri / I Sumaele Karaeng Bontolangkasa Karaeng Mangasa Sultan Abdul Hadi Tumenanga Ri Sambungjawa.

1769 – 1778

30.

I Mappatunru / I Manginyarang Krg Lembangparang Sultan Abdul Rauf Tumenanga Ri Katangka.

1778 – 1810

31.

La Oddangriu Daeng Mangeppe Karaeng Katangka Sultan Muhammad Zainal Abidin Abd. Rahman Amiril Mu’minin Tumenanga Ri Suangga

1825 – 1826

32.

I Kumala Daeng Parani Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Aididin Tumenanga Ri Kakuasanna.

1826 – 1893

33.

I Mallingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Muhammad Idris Tumenanga Ri Kala’biranna.

1893 – 1895

34.

I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Muhammad Husain Tumenanga Ri Bundu’na.

1895 – 1906

35.

I Mangngi-mangngi Daeng Mattutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Karaeng Ilanga Tumenaga Ri Sungguminasa.

1906 – 1946

36.

Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin Tumenanga Ri Jongaya.

1946 – 1957

Masa Kemerdekaan

Pada tahun 1950 berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1950 Daerah Gowa terbentuk sebagai Daerah Swapraja dari 30 daerah Swapraja lainnya dalam pembentukan 13 Daerah Indonesia Bagian Timur.

Sejarah Pemerintahan Daerah Gowa berkembang sesuai dengan sistem pemerintahan negara. Setelah Indonesia Timur bubar dan negara berubah menjadi sistem Pemerintahan Parlemen berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara  (UUDS) tahun 1950 dan Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1957, maka daerah Makassar bubar.

Pada tanggal 17 Januari 1957 ditetapkan berdirinya kembali Daerah Gowa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai daerah Tingkat II . Selanjutnya dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 tentang Pemerintahan Daerah untuk seluruh wilayah Indonesia tanggal 18 Januari 1957 telah dibentuk Daerah-daerah Tingkat II.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 tahun 1957 sebagai penjabaran Undang-Undang Nomor 1 tahun 1957 mencabut Undang-Undang Darurat No. 2 Tahun 1957 dan menegaskan Gowa sebagai Daerah Tingkat II yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk operasionalnya dikeluarkanlah Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U.P/7/2/24 tanggal 6 Pebruari 1957 mengangkat Andi Ijo Karaeng Lalolang sebagai Kepala Daerah yang memimpin  12 (dua belas) Daerah bawahan Distrik yang dibagi dalam 4 (empat) lingkungan kerja pemerintahan yang disebut koordinator masing-masing :

a. Koordinator Gowa Utara, meliputi Distrik Mangasa, Tombolo, Pattallassang, Borongloe, Manuju dan Borisallo. Koordinatornya berkedudukan di Sungguminasa.

b. Koordinator Gowa Timur, meliputi Distrik Parigi, Inklusif Malino Kota dan Tombolopao. Koordinatonya berkedudukan di Malino.

c. Koordinator Gowa Selatan, meliputi Distrik Limbung dan Bontonompo. Koordinatornya berkedudukan di Limbung.

d. Koordinator Gowa Tenggara, meliputi Distrik Malakaji, koordinatornya berkedudukan di Malakaji.

Pada tahun 1960 berdasarkan kebijaksanaan Pemerintah Pusat di seluruh Wilayah Republik Indonesia diadakan Reorganisasi Distrik menjadi Kecamatan. untuk Kabupaten Daerah Tingkat II Gowa yang terdiri dari 12 Distrik diubah menjadi 8 Kecamatan masing-masing :

a. Kecamatan Tamalate dari Distrik Mangasa dan Tombolo.

b. Kecamatan Panakkukang dari Distrik Pattallassang.

c. Kecamatan Bajeng dari Distrik Limbung.

d. Kecamatan Pallangga dari Distrik Limbung.

e. Kecamatan Bontonompo dari Distrik Bontonompo

f. Kecamatan Tinggimoncong dari Distrik Parigi dan Tombolopao

g. Kecamatan Tompobulu dari Distrik Malakaji.

h. Kecamatan Bontomarannu dari Distrik Borongloe, Manuju dan Borisallo.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1971 tentang perluasan Kotamadya Ujung Pandang sebagai Ibukota Propinsi, Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Gowa menyerahkan 2 (dua) Kecamatan yang ada di wilayahnya, yaitu Kecamatan Panakkukang dan sebagian Kecamatan Tamalate dan Desa Barombong Kecamatan Pallangga (seluruhnya 10 Desa) kepada Pemerintah Kotamadya Ujung Pandang.

Terjadinya penyerahan sebagian wilayah tersebut, mengakibatkan makna samarnya jejak sejarah Gowa di masa lampau, terutama yang berkaitan dengan aspek kelautan pada daerah Barombong dan sekitarnya. Hal ini mengingat, Gowa justru pernah menjadi sebuah Kerajaan Maritim yang pernah jaya di Indoneia Bagian Timur, bahkan sampai ke Asia Tenggara.

Dengan dilaksanakannya Undang-Undang Nomor 51 tahun 1971, maka praktis wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Gowa mengalami perubahan yang sebelumnya terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dengan 56 Desa menjadi 7 (tujuh) Kecamatan dengan 46 Desa.

Sebagai akibat dari perubahan itu pula, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa berupaya dan menempuh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang didukung oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan membentuk 2 (dua) buah Kecamatan yaitu Kecamatan Somba Opu dan Kecamatan Parangloe.

Guna memperlancar pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan masyarakat Kecamatan Tompobulu, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan No.574/XI/1975 dibentuklah Kecamatan Bungaya hasil pemekaran Kecamatan Tompobulu. Berdasarkan PP  No. 34 Tahun 1984, Kecamatan Bungaya di defenitifkan sehingga jumlah kecamatan di Kabupaten Gowa menjadi 9 (sembilan).

Selanjutnya pada tahun 2006, jumlah kecamatan di Kabupaten Gowa telah menjadi 18 kecamatan akibat adanya pemekaran di beberapa kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan definitif pada tahun 2006 sebanyak 167 dan 726 dusun/lingkungan.

Dalam sejarah perkembangan pemerintahan dan pembangunan mulai dari zaman kerajaan sampai dengan era kemerdekaan dan reformasi, wilayah Pemerintah Kabupaten Gowa telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sebagai daerah agraris yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan menjadikan Kabupaten Gowa sebagai daerah pengembangan perumahan dan permukiman selain Kota Makassar.

Kondisi ini secara gradual menjadikan daerah Kabupaten Gowa yang dulunya sebagai daerah agraris sentra pengembangan pertanian dan tanaman pangan yang sangat potensial, juga menjadi sentra pelayanan jasa dan perekonomian.

Dalam sejarah keberadaan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II sejak tahun 1957  sampai sekarang telah mengalami 12 (dua belas) kali pergantian Bupati. 11 (sebelas) kali diantaranya berdasarkan pengangkatan secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri. Satu kali berdasarkan hasil pemilihan secara langsung oleh rakyat Kabupaten Gowa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:

Bupati Kabupaten Gowa Dari Tahun 1957 sampai sekarang

  1. Andi Idjo Karaeng Lalolang (1957-1960)

  2. Andi Tau (1960-1967)

  3. H. M. Yasin Limpo ( Karetaker)

  4. Andi Bachtiar (Karetaker)

  5. K. S. Mas’ud (1967-1976)

  6. H. Muhammad Arif Sirajuddin (1976-1984)

  7. H. A. Kadir Dalle (1984-1989)

  8. H. A. Azis Umar (1989-1994)

  9. H. Syahrul Yasin Limpo, SH., M.Si. (1994-2002)

  10. Drs. H. Hasbullah Djabar, M.Si. (2002-2004)

  11. H. Andi Baso Machmud (Karetaker)

  12. H. Ichsan Yasin Limpo, S.H. (2005-2015)

  13. Adnan Purichta Ichsan., S.H., M.H. (2015 sampai sekarang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *