Lulusan s1 keperawatan tanpa ners bisa kerja dimana

“Dimana saja lulusan S1 Keperawatan  tanpa gelar Ners bisa bekerja?”

Tak dipungkiri, lulusan S1 Keperawatan ada yang tidak melanjutkan ke program profesi Ners. Berbagai alasan penyebabnya, sehingga setelah mendapat gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep), langsung mencari pekerjaan.

Beberapa orang tamatan S1 Keperawatan yang penulis kenal, yang tidak melanjutkan ke program profesi Ners, ada yang bekerja sebagai sales obat-obatan, dan alat kesehatan. Sales mobil, dan ada juga yang bekerja di Asuransi Kesehatan.

Bahkan, ada pula yang jauh melenceng, bekerja di Bank. Namun, itu tidak menjadi persoalan, sepanjang pihak Bank mau menerimanya. Sebetulnya, masih banyak lagi lulusan S1 Keperawatan tanpa gelar Ners diterima bekerja di instansi non kesehatan.

BACA JUGA : Acuan Perhitungan Kecepatan Obat Untuk Terapi Titrasi dan Berbagai Hal yang Perlu diperhatikan

Lanjut pertanyaan berikutnya, “apakah lulusan S1 Keperawatan tanpa gelar Ners, bisa bekerja di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan? Nah, jawabnya lulusan S1 Keperawatan bisa saja diterima bekerja di rumah sakit atau di layanan kesehatan.

Tapi, hanya diterima bekerja bukan sebagai perawat. Bisa saja ditempatkan di bagian administrasi, atau yang tidak berkaitan dengan pelayanan perawat profesional. Kecuali, lulusan S1 Keperawatan tersebut memiliki ijazah D-3 Keperawatan dan STR.

Maka, bisa bekerja sebagai Perawat di rumah sakit dengan ijazah D-3 Keperawatan yang dimiliki, bukan ijazah S1 Keperawatan. Sebab, dalam standar AIPNI, dan peraturan perundangan lulusan S1 Keperawatan wajib mengambil program profesi Ners.

Setelah melanjutkan program profesi Ners, maka wajib pula mengikuti uji kompetensi, kalau lulus akan mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) dari KTKI, berdasarkan rekomendasi organisasi profesi, PPNI. Manakala, seseorang hanya memiliki ijazah S1 Keperawatan, tidak dapat mengikuti ujian kompetensi dimaksud. 

BACA JUGA : 5 Cara Cepat Belajar Membaca EKG Dasar

Jadi, belum bisa dikatakan lulusan S1 Keperawatan sebagai perawat profesional yang bisa menjalankan profesi dan tindakan keperawatan di fasilitas layanan kesehatan. Dan, hanya bisa diterima bekerja sebagai tenaga kesehatan, yang jabatannya bukan sebagai Perawat.

(DOK/ND)

Media Perawat – Perawat merupakan profesi yang mengutamakan pengabdian daripada orientasi profit. Sebagai seorang perawat, sejawat akan merawat dan mendampingi orang sehat maupun sakit secara holistik.

Tentunya perawat tersebut harus menjenjang perkuliahan sebagai lulusan D3 Keperawatan bergelar Amd.Kep (3 tahun)  atau mengambil lulusan S1 Keperawatan S.Kep (4 tahun) sekaligus  wajib menjalankan Program Profesi Ners (1 tahun) bergelar S.Kep,Ners untuk mendapatkan Ijazah+ Surat Tanda Registrasi (STR) agar bisa bekerja sesuai dengan prosedur yang ada hal ini sesuai dengan KEMENKES RI No. 83 (2) bahwa setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).

Tentunya untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) ini bukan perkara yang gampang. Membutuhkan kerja keras, kedisiplinan, melatih kesabaran serta ketekunan untuk melatih terus menerus agar berkompeten LULUS menghadapi uji kompetensi, dengan menjawab soal 180/kasus secara kritis.

BACA JUGA : DOWNLOAD MATERI (Revisi) : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Covid-19

Bahkan ada yang tidak LULUS untuk menghadapi uji kompetensi untuk mendapatkan STR tersebut lantas, apakah tenaga kesehatan terkhusus perawat bisa bekerja tanpa STR? Tentu saja bisa. Apabila sejawat mempunyai skill dan kemauan yang keras untuk bekerja pasti ada jalan keluarnya.

Tenaga kesehatan seperti perawat makin banyak dibutuhkan apalagi dalam menghadapi pandemi seperti ini kebutuhan akan tenaga perawat semakin meningkat. Tidak selamanya lulusan dari keperawatan bekerja di rumah sakit. Ada banyak intansi yang membutuhkan tenaga kerja perawat baik itu perawat terampil lulusan D3 mapun perawat profesional yang telah menempuh pendidikan di S1 keperawatan tanpa STR.

Berikut 5 contoh yang sudah terbukti lulusan tenaga kesehatan melingkup keperawatan dapat bekerja di luar rumah sakit tanpa STR yang sudah admin rangkum:

1.     Sebagai Dosen

Salah satu fungsi perawat adalah sebagai pendidik. Perawat bisa saja mengajar sebagai dosen apabila dia memiliki sertifikat sebagai pengajar dan telah menempuh pendidikan minimal S1 Keperawatan Ners. Namun prospek sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi tentu saja lebih sedikit daripada perawat pelaksana di rumah sakit, mengingat jumlah perguruan tinggi kesehatan ilmu keperawatan lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan perawat di sebuah rumah sakit.

2.     Sebagai pengajar di sekolah kejuruan (SMK Kesehatan)

Pekerjaan lain yang membutuhkan lulusan keperawatan selain di rumah sakit adalah pengajar di sekolah kejuruan kesehatan. Memang saat ini sekolah kejuruan di bidang kesehatan bisa dibilang tidak sebanyak beberapa dekade silam. Meskipun demikian, mereka tetap saja membutuhkan tenaga keperawatan sebagai pengajarnya minimal berijazah S1 keperawatan.

3.     Sebagai Homecare

Saat ini banyak perusahaan home care di Indonesia yang dapat sejawat jadikan batu loncatan untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan langsung di lapangan. Lulusan D3 atau S1 Keperawatan baik yang belum mempunyai STR dapat mendaftar home care dengan cukup mudah berbeda dengan mendaftar di rumah sakit. Namun tetap dalam hal tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi tidak diperkenankan karena belum legal, tapi bisa fokus dibagian administrasi atau hanya sebagai pendamping pasien

BACA JUGA : Praktik Keperawatan Mandiri, Salah Satu Wujud Profesionalisme Perawat. Berikut Syaratnya!

4.     Sebagai Caregiver

Caregiver saat ini sedang dibutuhkan baik didalam maupun diluar negeri dengan melaksanakan perawatan dasar pada orang sakit sesuai dengan ilmu  dan keterampilan yang diperolehnya, mendampingi proses pemulihan kesehatan/penyembuhan sehingga pasien merasa ditemani dan diberi semangat untuk sembuh. Hal ini apabila sejawat ingin bekerja diluar negeri sebagai caregiver akan diberikan pelatihan bahasa asing selama 9-12 bulan. Tentunya gajih yang diperoleh lebih besar ditambah tunjangan dan bonus tahunan. (OHM Studi Jepang, 2019)

5.     Sebagai Asuransi Kesehatan

Perawat juga berpeluang bekerja di asuransi kesehatan atau badan lainnya yang sejenis, misalnya bekerja di BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Tentu saja apabila bekerja di asuransi kesehatan kita tidak memberikan layanan kesehatan atau tindakan langsung kepada pasien. Melainkan harus bekerja dengan urusan data-data administratif terkait dengan kepesertaan dan anggota.

6.     Sebagai Tenaga Pengelola Pelayanan Kesehatan

Bagi perawat yang berminat untuk bekerja di ruang lingkup Rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Departemen, Dinas Kesehatan Pusat atau Daerah sangat cocok mengambil karier sebagai Tenaga Pengelola Pelayanan Kesehatan. Tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada penduduk di suatu daerah mulai dari desa hingga provinsi di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia.

Jadi, jangan bilang susah kerja hanya karena tidak punya STR. Kenyataan di atas, peluang kerja tanpa STR jauh lebih banyak dan bisa dibayar jauh lebih mahal dari pada yang punya STR. Mau kerja di dalam negeri bagus sekali. Mau kerja di luar negeri pun boleh berkali-kali.

Persoalannya, terkadang kita malas.

Kita harus ingat, bahwa hasil, tidak akan pernah menghianati perjuangan. Orang yang rajin tidak pernah mengenal istilah susah mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya, hanya orang malas yang bilang, sulit sekali mencari kerja.

BACA JUGA : Tips and Trick Atasi Pressure Mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir

Sumber:

PERMENKES RI. Nomor 83. 2019. Registrasi Tenaga Kesehatan

www.blogs.insanmedika.co.id

www.mhomecare.co.id

www.nagomi.co.id

www.ayokerjadijepang.com

(DOK/ NP)

Ilustrasi 
Literasi Perawat ~ PROFESI NERS itu penting untuk yang ngambil jurusan S1 Keperawatan dan mungkin udah tergolong wajib. Kenapa? Karna tanpa Ners, seorang graduate of nursing tak berarti apa-apa di Indonesia. Saya berargumen karna sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang sarjana keperawatan tapi bukan seorang perawat. Ketika gelar Ners tidak ada dan parahnya STR juga tidak punya, jadilah ibarat seseorang yang tersesat di hutan,  tak tahu arah dan pasrah.

Saat memasuki dunia kerja pun, seringkali saya menemukan ada kualifikasi pengecualian bagi seorang sarjana keperawatan; sehingga bisa dibilang tak mudah untuk menemukan pekerjaan yang tepat. Pekerjaan dengan kualifikasi all major banyak,  tapi kebanyakan hanya bagian marketing atau bahasa kasarnya sales. Kalau tidak ada pengalaman organisasi atau kerja sebelumnya yang dapat diunggulkan dihadapan interviewer, semua akan sia-sia saja.

Harusnya seorang sarjana itu tidak mengukur gaji dengan diri sendiri, tetapi gaji lah yang harusnya menyesuaikan. Sayangnya, untuk jurusan S1 Keperawatan, apalagi fresh graduate, kita sudah kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Berdalih dgn alasan cari pengalaman dulu atau syukur-syukur ada yang nerima. Kerja sekian jam, dibayar tidak profesional dan dapat tekanan juga. Memang tidak mudah, kawan.

 Apalagi memutuskan untuk hidup di ibukota, serba mahal; apalagi gaya hidupnya. Memang banyak peluang pekerjaan disini, tetapi saingannya pun sama banyak. Interval saya dapat pekerjaan sejak efektif jadi job seeker itu ada sekitar 2 bulan, itu pun setiap minggunya saya antusias untuk interview baik karena panggilan atau walk in interview. Sibuknya seorang job seeker sama sibuknya dengan karyawan. Bedanya waktunya lebih fleksibel.

Saya merantau ke Jakarta tidak dengan modal kecil. Selama 2 bulan saya harus merengek ke orangtua untuk transfer biaya hidup selama masa pengangguran. Memang hanya cukup untuk biaya hidup saja untuk bilangan jutaan itu. Belum lagi kebutuhan yang mendesak. 2 bulan itu masa yang cukup lama untuk seorang job seeker. Karena saya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan banyaknya pengecualian untuk jurusan saya.

Setidaknya, Ners itu sudah di posisi aman. Sudah jelas tujuan kita mencari kerja di bagian apa. Lebih spesifik sebuah pekerjaan tentu bayarannya juga lebih tinggi. Dengan catatan harus ada kelebihan yang bisa diunggulkan, terutama bahasa internasional. Dengan bahasa inggris kamu bisa jadi apapun yang kamu mau. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya menemukan sendiri faktanya, saat saya interview kelompok di sebuh perusahaan yang berada di lantai 19, di antara 4 orang ada yang jago sekali bahasa inggrisnya, dan di antara kami ber 4 pun hanya dia yang langsung menuju user, sisanya melewati tahapan-tahapan yang cukup rumit dan menggunakan sistem gugur.

Tidak hanya itu saja, ketika saya interview di sebuah perusahaan, user terjun langsung menanyakan di antara yang ingin interview siapa yang aktif berbahasa inggris. Dari puluhan orang, hanya 3 orang saja yang stand up, lagi-lagi mereka yang jago bahasa inggris itu tak perlu berlama-lama, langsung ke user. Jika masih tidak percaya, menganggap saya mengada-ada, coba saja cari kualifikasi di Jobsite tak seberapa perusahaan yang tidak menampilkan active for speaking english both written or oral. Kurang lebih begitu tulisannya.

Kemudian yang terpenting juga adalah kemampuan dalam mengetik atau menggunakan komputer;  spesifiknya ms word dan excel. Hampir 100% saya dapat panggilan jika saya mengajukan lamaran via online dengan menuliskan bahwa saya mahir dalam menggunakan ms word dan excel di kolom ‘kenapa perusahaan harus memilih kamu’; kurang lebihnya begitu. Kebenaran mahir atau tidaknya nanti saja, yang penting kamu ada kesempatan untuk mengekspresikan kemampuanmu di hadapan interviewer. Tetapi, juga jangan hanya omongan doang, sebab yang kamu tulis di profil kamu, akan di tes oleh perusahaan. Tetapi untuk ms word atau excel itu bisa dipelajari menurut saya.

Yang juga tak kalah penting adalah kamu juga harus punya kualifikasi bisa kerja tim; teamwork. Karna umumnya perusahaan lebih mengutamakan orang yang bisa kerja tim dibandingkan kerja hanya berorientasi pada individu. Menurut saya sih, orang yang bisa kerja tim, pasti bisa kerja individu  tetapi orang yang bisa kerja individu belum tentu bisa kerja tim.

So, bagi adik-adik yang sering chat saya menanyakan apakah harus ambil ners atau tidak lepas S.Kep, sayang sekali saya harus memberi jawaban bahwa ambil Ners itu wajib hukumnya. Jika ada beberapa yang menanyakan kenapa saya tidak mengambil Ners, terlepas dari alasan internal, saya bisa bilang bahwa saya cukup menyesal mengambil keputusan ini. Makanya sering setiap adik-adik chat tidak ingin ambil Ners, pasti saya selalu menanggapi “MAU JADI APA?”.

Sorry to say, memang itulah faktanya.

Penulis: Winda Harir

PROFESI NERS itu penting untuk yang ngambil jurusan S1 Keperawatan dan mungkin udah tergolong wajib. Kenapa? Karna tanpa Ners, seorang graduate of nursing tak berarti apa-apa di Indonesia. Saya berargumen karna sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang sarjana keperawatan tapi bukan seorang perawat. Ketika gelar Ners tidak ada dan parahnya STR juga tidak punya, jadilah ibarat seseorang yang tersesat di hutan, tak tahu arah dan pasrah.Saat memasuki dunia kerja pun, seringkali saya menemukan ada kualifikasi pengecualian bagi seorang sarjana keperawatan; sehingga bisa dibilang tak mudah untuk menemukan pekerjaan yang tepat. Pekerjaan dengan kualifikasi all major banyak, tapi kebanyakan hanya bagian marketing atau bahasa kasarnya sales. Kalau tidak ada pengalaman organisasi atau kerja sebelumnya yang dapat diunggulkan dihadapan interviewer, semua akan sia-sia saja.Harusnya seorang sarjana itu tidak mengukur gaji dengan diri sendiri, tetapi gaji lah yang harusnya menyesuaikan. Sayangnya, untuk jurusan S1 Keperawatan, apalagi fresh graduate, kita sudah kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Berdalih dgn alasan cari pengalaman dulu atau syukur-syukur ada yang nerima. Kerja sekian jam, dibayar tidak profesional dan dapat tekanan juga. Memang tidak mudah, kawan.Apalagi memutuskan untuk hidup di ibukota, serba mahal; apalagi gaya hidupnya. Memang banyak peluang pekerjaan disini, tetapi saingannya pun sama banyak. Interval saya dapat pekerjaan sejak efektif jadi job seeker itu ada sekitar 2 bulan, itu pun setiap minggunya saya antusias untuk interview baik karena panggilan atau walk in interview. Sibuknya seorang job seeker sama sibuknya dengan karyawan. Bedanya waktunya lebih fleksibel.Saya merantau ke Jakarta tidak dengan modal kecil. Selama 2 bulan saya harus merengek ke orangtua untuk transfer biaya hidup selama masa pengangguran. Memang hanya cukup untuk biaya hidup saja untuk bilangan jutaan itu. Belum lagi kebutuhan yang mendesak. 2 bulan itu masa yang cukup lama untuk seorang job seeker. Karena saya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan banyaknya pengecualian untuk jurusan saya.Setidaknya, Ners itu sudah di posisi aman. Sudah jelas tujuan kita mencari kerja di bagian apa. Lebih spesifik sebuah pekerjaan tentu bayarannya juga lebih tinggi. Dengan catatan harus ada kelebihan yang bisa diunggulkan, terutama bahasa internasional. Dengan bahasa inggris kamu bisa jadi apapun yang kamu mau. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya menemukan sendiri faktanya, saat saya interview kelompok di sebuh perusahaan yang berada di lantai 19, di antara 4 orang ada yang jago sekali bahasa inggrisnya, dan di antara kami ber 4 pun hanya dia yang langsung menuju user, sisanya melewati tahapan-tahapan yang cukup rumit dan menggunakan sistem gugur.Tidak hanya itu saja, ketika saya interview di sebuah perusahaan, user terjun langsung menanyakan di antara yang ingin interview siapa yang aktif berbahasa inggris. Dari puluhan orang, hanya 3 orang saja yang stand up, lagi-lagi mereka yang jago bahasa inggris itu tak perlu berlama-lama, langsung ke user. Jika masih tidak percaya, menganggap saya mengada-ada, coba saja cari kualifikasi di Jobsite tak seberapa perusahaan yang tidak menampilkan active for speaking english both written or oral. Kurang lebih begitu tulisannya.Kemudian yang terpenting juga adalah kemampuan dalam mengetik atau menggunakan komputer; spesifiknya ms word dan excel. Hampir 100% saya dapat panggilan jika saya mengajukan lamaran via online dengan menuliskan bahwa saya mahir dalam menggunakan ms word dan excel di kolom ‘kenapa perusahaan harus memilih kamu’; kurang lebihnya begitu. Kebenaran mahir atau tidaknya nanti saja, yang penting kamu ada kesempatan untuk mengekspresikan kemampuanmu di hadapan interviewer. Tetapi, juga jangan hanya omongan doang, sebab yang kamu tulis di profil kamu, akan di tes oleh perusahaan. Tetapi untuk ms word atau excel itu bisa dipelajari menurut saya.Yang juga tak kalah penting adalah kamu juga harus punya kualifikasi bisa kerja tim; teamwork. Karna umumnya perusahaan lebih mengutamakan orang yang bisa kerja tim dibandingkan kerja hanya berorientasi pada individu. Menurut saya sih, orang yang bisa kerja tim, pasti bisa kerja individu tetapi orang yang bisa kerja individu belum tentu bisa kerja tim.So, bagi adik-adik yang sering chat saya menanyakan apakah harus ambil ners atau tidak lepas S.Kep, sayang sekali saya harus memberi jawaban bahwa ambil Ners itu wajib hukumnya. Jika ada beberapa yang menanyakan kenapa saya tidak mengambil Ners, terlepas dari alasan internal, saya bisa bilang bahwa saya cukup menyesal mengambil keputusan ini. Makanya sering setiap adik-adik chat tidak ingin ambil Ners, pasti saya selalu menanggapi “MAU JADI APA?”.Sorry to say, memang itulah faktanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *