Arti wa dalam bahasa arab

malam dan berpuasa separuh tahun, serta banyak beramal salih. Keberaniannya luar biasa, dia tidak melarikan diri ketika bertemu musuh. Ia mempunyai suara yang sangat merdu dan tidak ada bandingannya. Apabila ia membaca kitab Zabur, maka gunung- gunung dan burung-burung ikut bertasbih bersama Nabi Dawud a.s. Dari kisah tersebut, keteladanan yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu …. A. rajin puasa sunnah dan salat malam B. rajin beribadah dan sabar C. pemberani dan percaya diri D. percaya diri dan salat malam​

Daftar Isi

  • Wakafa Billahi Syahida Arab dan Artinya

Di dalam ajaran agama Islam terdapat salah satu lafadz yang cukup terkenal, yaitu wakafa billahi syahida. Lafadz ini ternyata memiliki makna yang begitu baik dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, apa sih arti dari lafadz wakafa billahi syahida? Lalu bagaimana penulisan dalam bahasa Arab serta terjemahannya? Simak semuanya secara lengkap dalam artikel ini yuk detikers.

Wakafa Billahi Syahida Arab dan Artinya

Lafadz wakafa billahi syahida merupakan penggalan dari surat Al Fath ayat 28. Sebagai informasi detikers, surat Al Fath termasuk surat Madaniyah, artinya surat ini diturunkan di kota Madinah.

Berikut ini adalah arti wakafa billahi syahida beserta dengan penulisan bahasa Arab, latin, dan terjemahannya:

  • وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا
  • Wa kafaa billaahi syahiidaa
  • Artinya: Dan cukuplah Allah SWT sebagai saksi

Nah, itu tadi adalah penggalan lafadz wakafa billahi syahida. Biar lebih jelas, simak yuk bacaan Al Quran Surat Al Fath ayat 28 secara lengkap, yang mana terdapat lafadz wakafa billahi syahida di dalamnya.

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Huwallażii arsala rasulahu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuẓ-hirahụ ‘alad-diini kullih, wa kafaa billaahi syahiidaa

Artinya: Dialah yang mengutus Rasul-nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al Fath:28).

Setelah membaca surat Al Fath ayat 28 secara menyeluruh, kini detikers tahu di mana letak lafadz wakafa billahi syahida. Yap, lafadz tersebut terletak di akhir ayat 28 dari surat Al Fath. Lalu, apa sih arti dari lafadz tersebut?

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sebagai rasul yang telah diutus oleh Allah SWT kepada manusia untuk membawa petunjuk dan agama Islam secara luas. Selain itu, diutusnya Rasulullah SAW juga untuk menyempurnakan agama dan syariat tentang Islam secara baik dan benar.

Dari lafadz tersebut juga bisa diartikan bahwa datangnya Rasulullah SAW dengan membawa ajaran agama Islam, maka agama-agama yang lain tidak diakui sebagai agama yang sah di sisi Allah SWT. Selain itu, semua yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW dan umatnya pasti terjadi, lalu tidak ada satu hal pun yang dapat menghalangi hal tersebut terjadi.

Lafadz “syahida” di dalam wakafa billahi syahida juga diartikan sebagai salah satu nama di dalam asmaul husna, yaitu nama-nama baik yang dimiliki Allah SWT. Hal ini merujuk pada nama asmaul husna as-syahid (الشَّهِيدُ) yang artinya maha menyaksikan.

Dari sini, Allah SWT dapat mengawasi, mendengar segala ucapan, serta melihat perbuatan mereka terhadap seluruh hambanya di mana pun dan kapan pun. Meski berusaha bersembunyi dari orang lain namun tetap dapat diawasi oleh Allah SWT.

Penjelasan lain mengenai Allah SWT maha mengawasi juga terdapat pada sejumlah ayat di Al Quran. Seperti yang terdapat di dalam surat Al Hijr ayat 86 berikut ini.

  • إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلْخَلَّٰقُ ٱلْعَلِيمُ
  • Inna rabbaka huwal-khallaqulalim(u)
  • Artinya: Sesungguhnya Tuhanmulah yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Hijr:86).

Selain itu, terdapat juga penjelasan mengenai Allah SWT maha mengetahui di dalam surat Saba ayat 26. Berikut penulisannya dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
Qul yajma’u bainana rabbuna summa yaftahu bainana bil-haqq(i), wa huwal-fattahul-‘alīm(u).

Artinya: Katakanlah, “Tuhan kita (pada hari Kiamat) akan mengumpulkan kita, kemudian memutuskan (perkara) di antara kita dengan hak. Dialah Yang Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. (QS. Saba:26).

Nah itu dia detikers penjelasan mengenai arti wakafa billahi syahida beserta dengan penulisan dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi detikers khususnya yang beragama Islam, sehingga dapat mengamalkan isi ayat di dalam Al Quran dengan baik sehingga mendapatkan pahala.

Simak Video “

Ada Terduga Teroris, Standar Masuk MUI Dipertanyakan


[Gambas:Video 20detik]
(ilf/fds)

Penulis : Ahmad Zubaidi

Dosen PAI- FIAI UII

 

Fenomena Ana dan Antum

Dalam akhir-akhir ini, tak jarang kita mendengarkan orang lain atau bahkan diri kita sendiri bebicara dengan seseorang dalam bercakap-cakap menggunakan kata berbahasa Arab yakni yang paling dominan adalah Ana dan Antum, mengesampingkan tujuan instrinsik pembawaan pembicaraan itu sendiri (bisa jadi karena pergaulan, kebiasaan, pembiasaan, atau bahkan ideologi). Beberapa orang mungkin menganggap ana dan antum adalah hal yang biasa dan wajar digunakan untuk bercakap-cakap tetapi sebagian yang lain menganggap aneh, mungkin karena belum terbiasa dengan bahasa Arab. Secara lebih dalam penggunaan 2 (dua) kata tersebut hanyalah untuk merubah bahasa Indonesia itu sendiri ‘saya’ dan ‘kamu’ menjadi bahasa Arab yakni ‘ana’ dan ‘antum’. Banyak orang ketika sedang bercakap-cakap, ia mencampurkan antara penggunaan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia yakni penggunaan 2 (dua) kata di atas berbahasa Arab kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan bahasa Indonesia dalam meneruskan percakapannya.

In Theory

Dalam teori ilmu Nahwu yang kita pelajari sudah terlalu jelas bahwa antum adalah kata ganti orang atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan isim dhomir yang bermakna ‘kalian’ atau bisa kita maknai dengan ‘kamu dalam jumlah orang lebih dari 2 (dua) orang’. Dalam menggunakan tunggalnya yang bermakna ‘kamu dalam jumlah 1 (satu) orang’ menggunakan anta. Bahkan di negara Arab sendiri akan menjadi hal yang ‘lucu’ ketika misalnya fulan berbicara dengan fulan menggunakan kata ganti orang ‘antum’ dalam melakukan percakapan. Begitu juga dalam kita memanggil Alloh SWT misalnya dalam berdoa, sudah sangat jelas Nabi memberikan do’a yang diucapkan oleh Khadijah ketika itu ‘Allohumma anta as-Salam wa minka as-Salam…..’ dengan arti ya Alloh engkau adalah Dzat yang Maha Penyelaman dan dariMu juga sebuah keselamatan… tidak ada disana memakai ‘Allohumma antum as-Salam… serta dalam menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW memakai ‘Assalamualaika ya Ayyuhan Nabi’ bukan ‘Assalamualaikum ya Ayyuhan Nabi’. Bahasa Arab itu bersifat egaliter dan menghargai kesederajatan dalam menggunakan kata ganti orang. Sehingga kata ganti anta (kamu laki-laki 1) akan berlaku untuk semua pelaku tunggal, sedangkan antum (kalian >2 laki-laki) adalah untuk pelaku jamak.

In Fact

Sedangkan yang terjadi pada kita di negara Indonesia, banyak yang menggunakan kata antum untuk diposisikan pada orang laki-laki 1 (satu) dengan dalih sebagai penghormatan kepada mukhotob/orang yang sedang diajak berbicara. Memang, dalam bahasa Jawa di Masyarakat Indonesia sangat kental sekali dengan unggah-ungguh/sopan santun bahkan dalam memakai bahasa yang digunakan dalam percakapan misalnya ‘kowe’ adalah bahasa kasar yang kemudian diganti dengan ‘jenengan’ untuk merubah menjadi bahasa yang lebih halus atau sebagai penghormatan kepada yang sedang diajak berbicara. Di negara kita, banyak sekali yang memposisikan antum itu sebagai ‘jenengan’ dan anta sebagai ‘kowe’.  Jadi seakan-akan dalam klausul bahasa Arab pun ada stratifikasi penghormatan dalam memakai kata ganti orang dalam sebuah percakapan, padahal sebenarnya sesuai dengan pembahasan in theory di atas. Secara tidak langsung, hal ini termasuk transformasi nahwu dalam penerapan teorinya di kehidupan sehari-hari. Jika sedikit melihat pada aspek hermeneutika-budaya sebagaimana yang telah di ungkapkan oleh Fazlur Rahman dalam teorinya hermeneutika kontekstual bahwa transformasi tersebut dapat dilakukan sebagai jawaban terhadap kasus baru berdasarkan nilai ideal-moral yang ada dalam masyarakat maka yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

Pertama, boleh digunakan sebagai dasar kultur yang sudah ada di masyarakat Indonesia sebagai jawaban nilai ideal-moral yang hanya ada pada kasus di Indonesia sendiri. Jika dalam penggunaannya di negara Arab maka, harus memakai kata ganti yang sesuai dan apa adanya tidak lantas menyamakan hal tersebut dengan budaya yang ada di Arab.

Kedua, adanya kesadaran belajar lebih dalam memahami konteks tersebut (dalam hal ini adalah bahasa Arab) serta memahami adanya kesalahan yang ada pada konteks kata ganti orang yang digunakan, tetapi mengarahkannya kepada konsep ideal-moral masyarakat Indonesia saja.

Ketiga, adanya saling sepemahaman (sama perspektif) dalam menggunakan kata ganti orang dengan tujuan sebagai penghormatan tersebut. Antara mutakallim (orang yang berbicara) dengan mukhotob (orang yang sedang diajak berbicara/lawan bicara) sudah mengetahui kaidah ideal-moral transformasi tujuan penggunaannya dalam melakukan percakapan.

Keempat, tidak menggunakan dengan tujuan lain yang menjadikannya sebagai kaidah baku, tetapi hanya sebagai pembiasaan dalam persamaan pembawaan kultur yang ada di Indonesia saja.

So,

Lebih bijak dalam menggunakan kaidah tersebut akan lebih memberikan makna yang berarti bagi orang yang berbicara maupun orang yang sedang diajak bicara/lawan bicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *