Arti israel menurut alkitab

Yakub adalah cucu Abraham. Tuhan membuat sebuah perjanjian abadi dengan Abraham yang diperbarui dengan Ishak dan dengan Yakub serta anak-anaknya (lihat bab 15 dalam buku ini; lihat juga visual dalam bab ini, yang menggambarkan Yakub memberkati para putranya). Allah berjanji bahwa bangsa Israel akan menjadi umat perjanjian-Nya sepanjang mereka mau mematuhi perintah-perintah-Nya (lihat Ulangan 28:9–10 ). Mereka akan menjadi berkat bagi semua bangsa di dunia dengan membawa Injil dan imamat kepada mereka (lihat Abraham 2:9–11 ). Jadi, mereka harus menepati perjanjian mereka dengan Tuhan dan Dia akan menepati perjanjian-Nya dengan mereka.

Yakub adalah seorang Nabi besar yang hidup ratusan tahun sebelum zaman Kristus. Karena Yakub setia, Tuhan memberinya nama khusus, Israel, yang berarti “orang yang berjaya dengan Allah” atau “biarlah Allah berjaya” (Bible Dictionary, “Israel,” 708). Yakub memiliki dua belas putra. Para putra ini beserta keluarga mereka belakangan dikenal sebagai dua belas suku Israel, atau bangsa Israel (lihat Kejadian 49:28 ).

Apa manfaat yang telah datang kepada anak-anak Allah karena umat perjanjian-Nya telah diceraiberaikan di seluruh penjuru bumi?

Setelah zaman Kristus, Yerusalem sekali lagi dihancurkan, kali ini oleh serdadu Romawi. Orang-orang Yahudi tercerai-berai di banyak penjuru dunia. Dewasa ini bangsa Israel ditemukan di semua negeri di dunia. Banyak dari orang-orang ini tidak tahu bahwa mereka adalah keturunan dari bani Israel zaman dahulu.

Sekitar 100 tahun setelah penawanan Kerajaan Utara, Kerajaan Selatan ditaklukkan. Ibu kotanya, Yerusalem, dihancurkan pada tahun 586 SM , dan banyak anggota dari dua suku Israel yang tersisa ditawan. Belakangan, sebagian anggota dari suku-suku ini kembali dan membangun Yerusalem kembali. Sesaat sebelum Yerusalem dihancurkan, Lehi dan keluarganya, yang adalah bagian dari bani Israel, meninggalkan kota dan menetap di Benua Amerika.

Tanpa memandang peringatan ini, bangsa Israel terus-menerus melanggar perintah-perintah Allah. Mereka bertikai di antara kalangan mereka dan terpecah menjadi dua kerajaan: Kerajaan Utara, yang disebut kerajaan Israel, dan Kerajaan Selatan, yang disebut kerajaan Yehuda. Sepuluh dari kedua belas suku Israel tinggal di Kerajaan Utara. Pada suatu peperangan mereka ditaklukkan oleh para musuh mereka dan dibawa ke dalam penawanan. Beberapa dari mereka kemudian dapat melarikan diri ke negeri-negeri di sebelah utara dan dinyatakan hilang bagi sisa dunia.

Berulang kali para nabi Tuhan memperingatkan bani Israel tentang apa yang akan terjadi jika mereka jahat. Musa bernubuat, “Tuhan akan menyerakkan engkau ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi” ( Ulangan 28:64 ).

Bani Israel Harus Dikumpulkan

  • Mengapa Tuhan menghendaki umat-Nya dikumpulkan?

  • Bagaimana bani Israel akan dikumpulkan?

Tuhan berjanji bahwa umat perjanjian-Nya suatu hari nanti akan dikumpulkan: “Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka” (Yeremia 23:3).

Allah mengumpulkan anak-anak-Nya melalui pekerjaan misionaris.Sewaktu orang-orang memiliki pengetahuan mengenai Yesus Kristus,menerima tata cara-tata cara keselamatan dan menaati perjanjian-perjanjian yang berkaitan, mereka menjadi “anak-anak perjanjian” (3 Nefi 20:26). Dia memiliki alasan penting untuk pengumpulan anak-anak-Nya. Dia mengumpulkan mereka agar mereka dapat belajar ajaran-ajaran Injil dan mempersiapkan diri mereka untuk bertemu Juruselamat ketika Dia datang lagi. Dia mengumpulkan mereka agar mereka akan membangun bait suci dan melaksanakan tata cara-tata cara sakral bagi leluhur yang telah meninggal tanpa memiliki kesempatan ini. Dia mengumpulkan mereka agar mereka dapat memperkuat satu sama lain dan dipersatukan dalam Injil, menemukan perlindungan dari pengaruh-pengaruh yang tidak benar di dunia. Dia juga mengumpulkan mereka agar mereka dapat mempersiapkan diri mereka untuk berbagi Injil dengan orang lain.

Kuasa dan wewenang untuk mengarahkan pekerjaan pengumpulan bani Israel diberikan kepada Joseph Smith melalui Nabi Musa, yang menampakkan diri pada tahun 1836 di Bait Suci Kirtland (lihat A&P 110:11). Sejak saat itu, setiap nabi telah memegang kunci-kunci untuk pengumpulan bani Israel, dan pengumpulan ini telah menjadi bagian yang penting dari pekerjaan Gereja. Umat perjanjian sekarang sedang dikumpulkan sewaktu mereka menerima Injil yang dipulihkan serta melayani Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub (lihat Ulangan 30:1–5).

Bangsa Israel harus dikumpulkan secara rohani terlebih dahulu dan kemudian secara jasmani. Mereka dikumpulkan secara rohani sewaktu mereka bergabung ke dalam Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir dan membuat serta menepati perjanjian-perjanjian sakral. Pengumpulan rohani ini dimulai selama masa Nabi Joseph Smith dan berlanjut dewasa ini di seluruh dunia. Orang-orang yang diinsafkan ke dalam Gereja merupakan bangsa Israel baik melalui keturunan darah maupun adopsi. Mereka menjadi bagian dari keluarga Abraham dan Yakub (lihat Abraham 2:9–11; Galatia 3:26–29).

Presiden Joseph Fielding Smith berkata: “Ada banyak bangsa yang diwakili di dalam … Gereja .… Mereka telah datang karena Roh Tuhan bersemayam di atas mereka; … menerima roh pengumpulan, mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk kepentingan Injil” (Doctrines of Salvation, dikumpulkan oleh Bruce R. McConkie, 3 jilid [1954–1956], 3:256; cetak miring dalam teks aslinya).

Pengumpulan Israel secara jasmani artinya bahwa umat perjanjian akan “dikumpulkan pulang ke tanah warisan mereka, dan akan ditegakkan di seluruh negeri perjanjian mereka” (2 Nefi 9:2). Suku Efraim dan Manasye akan dikumpulkan di Benua Amerika. Suku Yehuda akan kembali ke kota Yerusalem dan daerah sekitarnya. Sepuluh suku yang hilang akan menerima dari suku Efraim berkat-berkat yang dijanjikan kepada mereka (lihat A&P 133:26–34).

Ketika Gereja pertama kali ditegakkan, Orang-Orang Suci diperintahkan untuk berkumpul di Ohio, kemudian Missouri, dan selanjutnya Lembah Salt Lake. Meskipun demikian, dewasa ini, para nabi modern telah mengajarkan bahwa para anggota Gereja seyogyanya membangun kerajaan Allah di negeri mereka sendiri. Penatua Russell M. Nelson berkata: “Pilihan untuk datang kepada Kristus bukanlah masalah lokasi fisik; itu adalah masalah komitmen individu. Orang-orang dapat ‘dibawa kepada pengetahuan tentang Tuhan Allah mereka’ [3 Nefi 20:13] tanpa meninggalkan negara asal mereka. Benar, pada masa awal Gereja, pertobatan sering kali berarti juga emigrasi. Namun sekarang pengumpulan terjadi di setiap bangsa .… Tempat pengumpulan bagi Orang-Orang Suci berkewarganegaraan Brasil adalah di Brasil; tempat pengumpulan Orang-Orang Suci Nigeria adalah di Nigeria; tempat pengumpulan Orang-Orang Suci Korea adalah di Korea; dan seterusnya. Sion adalah ‘yang murni hatinya’ [A&P 97:21.] Sion adalah di mana pun Orang-Orang Suci yang saleh berada” (dalam Conference Report, Oktober 2006, 85; atau Ensign, November 2006, 81).

Pengumpulan Israel secara jasmani tidak akan selesai sampai Kedatangan Kedua Juruselamat dan terus sampai Milenium (lihat Terjemahan Joseph Smith terhadap Matius 1:37). Kemudian janji Tuhan akan digenapi:

“Sebab itu, demikianlah firman Tuhan, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!,

melainkan: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka” (Yeremia 16:14–15).

  • Dalam cara-cara apa Anda telah dikumpulkan secara rohani sebagai satu dari umat perjanjian Tuhan?

  • Dalam cara-cara apa Anda telah berperan serta dalam pengumpulan yang lain?

Untuk guru: Ketika orang-orang berbagi kisah mereka tentang menjadi diinsafkan ke dalam Injil Yesus Kristus yang dipulihkan, mereka berbagi kisah tentang dikumpulkan secara rohani. Pertimbangkan untuk meminta kepada beberapa orang sebelumnya untuk menceritakan tentang bagaimana mereka diinsafkan ke dalam Injil.

“Mengapa Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel?,” Untuk Kekuatan Remaja, Maret 2022.

Gambar

Lukisan oleh Keith Larson

Yakub adalah putra Ishak dan cucu lelaki Abraham. Seperti mereka, Yakub memiliki hasrat yang saleh dan mencari berkat-berkat Tuhan.

Pada momen penting dalam hidupnya, “Yakub bergumul dengan sebuah tantangan serius. Hak pilihannya sedang diuji. Melalui pergumulan ini, Yakub membuktikan apa yang terpenting baginya. Dia memperlihatkan bahwa dia bersedia untuk memperkenankan Allah berjaya dalam kehidupannya. Sebagai tanggapan, Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel, artinya ‘biarlah Allah berjaya.’ Allah kemudian menjanjikan Israel bahwa semua berkat yang telah dimaklumkan ke atas kepala Abraham juga akan menjadi miliknya” (Russell M. Nelson, “Perkenankan Allah Berjaya,” konferensi umum Oktober 2020 [Ensign atau Liahona, November 2020, 92]). Mengambil nama baru ini adalah tanda menerima perjanjian yang telah diterima ayah dan kakeknya.

Ketika kita dibaptis, kita membuat perjanjian. Kita juga dapat memperlihatkan bahwa kita bersedia untuk mengambil ke atas diri kita sebuah nama baru—nama Yesus Kristus. Selain itu, kita menjadi bagian dari bani Israel—mereka yang telah membuat perjanjian dengan Allah dan telah berjanji untuk “memperkenankan Allah berjaya” dalam kehidupan mereka. Allah kemudian menjanjikan kepada kita berkat yang sama yang Dia janjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Dalam versi-versi Alkitab:

bangsa Israel: TB
Isaril: SBDR
Isjrail: KL1863 KL1870
Isra’el: BABA
Israel: BIS ENDE FAYH SBDR TB TL WBTCDR
Israil: KL1863 SBDR
Jisra`ejl: LDKDR
Jisra`ejlij: LDKDR
kaum Israel: TB
orang Israel: TB
orang-orang Israel: TB
suku Israel: TB
umat Israel: TB
Yahudi: WBTCDR
Yakub: TB

ISRAEL [ensiklopedia]

(Ibrani yisra’el, ‘Allah bergumul’).

1. Nama baru yg diberikan kepada Yakub sesudah malam pergumulannya di Pniel: ‘Namamu’, kata lawannya yg supra alami itu, ‘tidak akan disebut lagi Yakub, tapi Israel, sebab engkau telah bergumul (sarita, dari sara, ‘bergumul’) melawan Allah dan manusia, dan engkau menang’ (Kej 32:28). Cerita ini, yg tergolong pada kelompok J dalam teori dokumen empat, dapat dibandingkan dengan Hos 12:3, ‘dalam kegagahannya dia (Yakub) bergumul (sara) dengan Allah. Dia bergumul (wayyasar, dari kata kerja yg sama) dengan Malaikat dan menang’. Pemberian nama baru. telah ditegaskan di Betel dalam Kej 35:10 (digolongkan pada kelompok P), di mana Allah Yang Mahakuasa menampakkan diri kepada Yakub dan mengatakan: ‘Namamu Yakub, dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yg akan menjadi namamu’. Sejak itu sekali-sekali nama ‘Israel’ dipakai di seluruh PL sebagai sinonim dari Yakub; khususnya apabila keturunan Yakub disebut ‘anak-anak (atau ‘orang’) Israel’ (Ibrani bene yisra’el).

2. Bangsa yg menelusuri leluhurnya hingga kepada ke-12 anak Yakub. Ada beberapa bentuk nama seperti ‘Israel’ (Kej 34:7 dab), ‘orang Israel’ (Kej 32:32 dab), ‘kedua belas suku Israel’ (Kej 49:16, 28 dab). Acuannya paling dini kepada bangsa Israel dalam berita non-Israel tercatat dalam prasasti Merenptah, raja Mesir, kr 1230 sM, ‘Israel bersedih; tidak ada tinggal keturunannya’ (DOTT, hlm 139). Acuan berikutnya yg juga non-Israel tercatat dalam prasasti-prasasti Salamaneser III dari Asyur, kr 853 sM berulang-ulang menyebut Israel, termasuk bualan, ‘Israel binasa sama sekali untuk selamanya’ (DOTT, hlm 196 dab; *MOAB, BATU. Sekedar data gambar lih IBA, gbr 40, 48, 50-51).

I. Awal Israel

Acuan prasasti Merenptah dalam praktiknya adalah bersamaan waktunya dengan awal sejarah nasional Israel, sebab berawal pada peristiwa ‘keluar’ dari Mesir, yg terjadi pada masa pemerintahan Merenptah atau bapaknya, yg mencirikan kelahiran Israel sebagai suatu bangsa. Beberapa generasi sebelumnya, nenek moyang mereka, anggota dari suatu suku ‘penggembala’, hijrah dari Kanaan ke Mesir sewaktu ditimpa bala kelaparan dan tinggal menetap di Wadi Tumilat. Raja-raja pertama Mesir dari dinasti ke-19, memaksa mereka membentuk regu-regu kerja paksa dalam jumlah besar, untuk membangun kota-kota benteng di perbatasan timur laut Mesir. Dalam keadaan demikian, besar kemungkinan semua mereka akan kehilangan identitas dengan akibat tidak saling mengenal sesama budak paksa, seandainya iman kepercayaan nenek moyang mereka tidak dibangun kembali oleh *Musa, yg datang kepada mereka dalam Nama Allah nenek moyang mereka, dan yg membawa mereka ke luar dari Mesir di tengah-tengah rentetan peristiwa. dengan mana mereka diajar untuk mengakui kekuasaan Allah nenek moyang mereka, yg melaksanakan kelepasan mereka.

Di bawah pimpinan Musa, mereka berjalan ke arah timur melalui ‘jalan di padang gurun menuju Yam Suph’, hingga mereka sampai di tempat di mana Allah dari nenek moyang mereka pernah memperkenalkan diriNya kepada Musa dengan Nama perjanjian-Nya, Yahweh, dan menugaskan Musa untuk membawa mereka ke luar dari Mesir. Di situ, di kaki G Sinai, mereka dimasukkan ke dalam hubungan perjanjian khusus dengan Yahweh. Yahweh telah menampakkan diriNya sebagai Allah mereka dengan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir; mereka sekarang berjanji menjadi umat-Nya.

Dalam upaya ini tercakup ketaatan mereka kepada ‘Kesepuluh Hukum’, dengan Hukum mana Yahweh memberitahukan kehendak-Nya kepada mereka. Mereka harus menyembah Dia — dan hanya Dia; mereka tidak boleh mengandaikan diriNya atau kehadiran-Nya walau dalam bentuk apa pun juga; mereka hanya boleh menyebut namaNya dalam rangka penghormatan; mereka harus menguduskan tiap hari ketujuh bagi Dia; dan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan mereka harus bertingkah laku terhadap satu sama lain dalam cara yg sesuai dengan perjanjian yg mengikat mereka bersama-sama. Mereka menjadi bangsa yg khusus diasingkan untuk Yahweh, dan karena itu maka keadilan-Nya, pengasihan-Nya dan kebenaran-Nya akan nampak diterapkan dalam hidup mereka.

Sikap demikian dapat disebut monoteisme praktis. Apakah dewa-dewa dari bangsa-bangsa tetangga hidup atau tidak, tidaklah digubris oleh pikiran Musa atau pengikutnya; tugas mereka ialah mengakui bahwa Yahweh adalah Allah Yang Mahatinggi dan yg satu-satunya.

Musa bukan hanya pembuat undang-undang Israel yg pertama dan terbesar; dalam pribadinya terpadu peranan nahi, imam dan raja. Dia menghakimi perkara-perkara hukum dan mengajar mereka asas-asas kewajiban keagamaan; dia membimbing mereka dari Mesir ke Yordan, dan setelah dia meninggal, suatu generasi setelah generasi Keluaran, dia tinggalkan bukan sebagai kumpulan pekerja budak yg tidak berdisiplin seperti generasi yg dulu mengikutinya ke luar dari Mesir, melainkan suatu pasukan tentara perkasa yg siap menyerbu Kanaan, sebagai penakluk dan penghuni tetap.

Israel, biarpun sebelum menetap di Kanaan, telah diorganisir sebagai satu persekutuan keagamaan dari 12 suku. Memang mereka satu keturunan, tapi pusat kesatuannya adalah saling mengambil bagian dalam perjanjian dengan Yahweh. Pertanda yg kelihatan dari kesatuan perjanjian mereka ialah tabut perjanjian, disimpan di Kemah Suci, ditempatkan di pusat perkemahan bila mereka tidak bergerak, tapi yg mendahului mereka bila mereka bergerak atau dalam pertempuran.

Mereka membentuk persekutuan yg erat dengan kelompok-kelompok pengembara lainnya, seperti orang Keni (punya hubungan keluarga perkawinan), orang Kenas dan orang Yerahmeel, yg di kemudian hari nampak tergabung dalam suku Yehuda. Terjadi pelanggaran atas persekutuan oleh kelompok pengembara lain, yaitu orang Amalek, yg mungkin menimbulkan permusuhan pahit sehingga Israel memusuhi mereka dari generasi ke generasi. Persekutuan dengan suku-suku penggembala seperti itu lain sekali dari persekutuan dengan penduduk petani yg telah menetap di Kanaan, yg pola asasi keagamaannya memuja dewa kesuburan, yg sangat bertentangan dengan penyembahan murni kepada Yahweh. Perjanjian Israel dengan Yahweh sangat keras melarang orang Israel bersekutu dengan orang Kanaan.

Pusat utama kegiatan suku-suku Israel pada periode padang belantara adalah Kadesy-Barnea. Beberapa dari mereka menyusup ke utara terus masuk ke pusat Negeb, tapi jumlah terbesar maju ke wilayah selatan dan timur Laut Mati, menyusuri daerah-daerah dari sanak saudara mereka di Edom, Amon dan Moab, yg baru saja mengorganisir diri sebagai kerajaan-kerajaan yg menetap. Lebih jauh ke utara dalam wilayah Transyordan terletak kerajaan Sihon dan kerajaan Og dari Amori, yg mereka masuki sebagai musuh yg menyelusup. Kekuatan-kekuatan Sihon dan Og yg melancarkan perlawanan dipatahkan, dan daerah-daerah mereka diduduki — inilah daerah-daerah yg di kemudian hari dikenal sebagai Ruben, Gad dan Manasye Timur. Jadi sebagian masyarakat Israel telah tinggal menetap dengan hidup sebagai petani, sebelum bangsa itu menyeberangi Yordan.

\==> Image 00101\

II. Tinggal menetap di Kanaan

Penyeberangan Yordan segera disusuli perebutan dan pemusnahan benteng *Yerikho. Dari Yerikho mereka maju terus sampai ke pedalaman negeri itu, menduduki benteng-benteng pertahanan satu demi satu. Mesir tidak mampu lagi mengirim bantuan kepada pengikut-pengikutnya di Kanaan; Mesir menguasai hanya sepanjang jalan pantai di wilayah barat sampai ke jalur lintas Megido di utara. Bahkan di wilayah ini juga pendudukan Filistin (kr 1190 sM) segera memperlihatkan suatu rintangan pada perluasan kekuasaan Mesir.

\==> Image 00102\

Suatu koalisi lima gubernur militer dari kota-kota benteng Kanaan, mencoba menghalangi orang Israel membelok ke arah selatan dari pusat daerah pegunungan, di mana Gibeon dan kota-kota sekutu dari daerah orang Hewi telah tunduk kepada kelima gubernur itu. Koalisi itu dikalahkan seluruhnya di jalur lintas Bet-Horon, dan jalan ke arah selatan menjadi terbuka bagi penyerbu. Biarpun pasukan kereta perang dari benteng-benteng Kanaan dikerahkan untuk mencegah Israel beroperasi di daerah-daerah datar, namun dalam tempo singkat mereka telah menguasai dan menduduki tanah-tanah tinggi di wilayah pusat dan selatan, juga dataran tinggi Galilea, di utara dari dataran Yizreel.

Suku-suku Israel yg telah menetap di wilayah utara menjadi terputus dari sesama suku mereka di wilayah pusat Kanaan, oleh suatu mata rantai benteng Kanaan di dataran Yizreel, yg bertebaran dari Laut Tengah sampai ke Yordan. Yudea, di Selatan, lebih terputus lagi dari pusat suku-suku oleh kubu Yerusalem, yg tetap bertahan sebagai daerah kantong Kanaan selama 200 thn.

Pada suatu peristiwa luar biasa, suku-suku Israel di wilayah utara dan pusat bersekutu melawan para gubernur militer penguasa daerah Yizreel, yg terus-menerus mengurangi kebebasan mereka. Perlawanan terpadu itu dikaruniai kemenangan gemilang pada pertempuran di Kisyon (kr 1125 sM), ketika tiba-tiba badai mengamuk dan mengakibatkan air sungai meluap, sehingga pasukan kereta perang Kanaan lumpuh total.’ Dengan demikian pasukan Israel yg hanya bersenjata sederhana dapat dengan mudah menghancurkan musuhnya. Dalam peristiwa ini, pada saat seruan supaya bertindak dikirim kepada semua suku di wilayah utara dan pusat, dan juga kepada suku yg tinggal di Transyordan, kelihatannya Yehuda tidak menerima seruan itu karena terputus sama sekali dari suku-suku lainnya.

Pada peristiwa seperti di atas, bila suku-suku Israel mengingat janji persekutuan mereka, kekuatan persekutuan mereka memampukan mereka untuk mengatasi musuh-musuh mereka. Tapi aksi terpadu macam ini jarang sekali terjadi. Berkurangnya bahaya biasanya diikuti oleh suatu periode menyesuaikan diri dengan pola hidup Kanaan. Ini mencakup perkawinan campur dan mengikuti upacara-upacara kesuburan Kanaan, sedemikian rupa, sehingga Yahweh dipikirkan lebih sebagai Baal, dewa hujan yg menyuburkan, daripada sebagai Allah nenek moyang mereka, yg menyelamatkan mereka dari Mesir untuk khusus menjadi umat-Nya yg istimewa. Perjanjian persekutuan itu menjadi lemah, dan mereka menjadi mangsa empuk bagi musuh-musuh mereka. Bukan hanya orang Kanaan yg, mencoba menjerumuskan Israel kepada perbudakan; dari waktu ke waktu mereka menderita serangan dari seberang Yordan, yakni orang-orang Moab dan Amon, dan lebih celaka lagi serangan orang Midian. Pemimpin-pemimpin yg membawahi mereka pada periode-periode sedemikian adalah ‘hakim-hakim’ (periode pemukiman seluruh Kanaan biasanya disebut ‘zaman hakim-hakim’); mereka bukan hanya memimpin Israel maju meraih kemenangan atas musuh-musuh Israel, tapi juga kembali pada kesetiaan kepada Yahweh.

Ancaman terbesar dan paling gigih atas kemerdekaan Israel datang dari barat. Tidak lama setelah orang Israel menyeberangi Yordan, gerombolan bajak laut dari kepulauan ,Aegea dan daerah-daerah pantai, bermukim di daerah pesisir barat Kanaan dan mengatur diri mereka dalam lima negara kota: Asdod, Askelon, Ekron, Gaza dan Gad. Masing-masing diperintah oleh seorang seren — seorang dari ‘lima raja Filistin’. Orang Filistin ini kawin campur dengan orang Kanaan dan segera bersifat Kanaan dalam bahasa dan agama, tapi mereka memelihara tradisi tanah air sendiri dalam bidang politik dan militer. Setelah mereka menetap di kelima negara kota itu, mereka memperluas pengawasan atas bagian-bagian lain wilayah Kanaan, termasuk wilayah-wilayah yg diduduki oleh orang Israel. Secara militer Israel bukanlah tandingan bagi Filistin. Orang Filistin menguasai keterampilan membuat alat besi dan mempertahankannya sebagai monopoli mereka. Sewaktu orang Israel mulai menggunakan alat-alat besi dalam kegiatan pertanian, orang Filistin menuntut agar mereka harus datang kepada tukang-tukang besi Filistin untuk menempanya. Ini guna menjamin agar orang Israel tidak akan mampu menempa alat-alat besi bagi peperangan, dengan mana mereka dapat memberontak terhadap raja atasan Filistin itu.

Pada akhirnya orang Filistin memperluas kekuasaan mereka di dataran Yizreel sejauh Yordan. Kekuasaan mereka tidak mengancam hidup orang Israel, tapi sangat mengancam identitas kebangsaan Israel. Suku-suku Israel pada masa itu telah mendirikan bait di Silo di wilayah Efraim, di mana tabut kudus berada dan di urus oleh golongan imam yg garis leluhurnya sampai kepada Harun, saudara Musa. Imamat ini memegang peranan pimpinan dalam pemberontakan suku-suku Israel menentang Filistin, yg gagal sama sekali. Orang Filistin merebut tabut, Silo dan baitnya dihancurkan, dan imamat hampir punah (kr 1050 sM). Segala ikatan lahiriah yg mengikat suku-suku Israel telah lenyap, dan identitas kebangsaan Israel nampaknya akan lenyap juga bersama mereka.

Bahwa identitas Israel tidak lenyap, bahkan menjadi lebih .tegar dan mantap, adalah berkat sifat keperkasaan dan keberanian daya juang Samuel, tokoh terbesar Israel disamping Musa dan Daud. Samuel, seperti Musa, menggabungkan dalam dirinya peranan nabi, imam dan hakim; dan ia sendiri menjadi pusat kehidupan semangat nasional. Di bawah kepemimpinannya Israel kembali kepada kesetiaan perjanjian, dan dengan kembalinya kesetiaan agamawi itu kembali pula semangat nasional; beberapa thn kemudian Israel sudah mampu mengalahkan Filistin, justru di medan — perang, di mana mereka pernah dihancurkan secara memalukan.

Setelah Samuel menjadi tua, masalah penggantinya menjadi hangat. Timbul tuntutan luas untuk seorang raja — dan akhirnya Samuel menyetujui tuntutan ini — mengurapi Saul dari suku Benyamin untuk memerintah Israel. Awal pemerintahan Saul adalah masa gemilang oleh berkat, berupa jawaban yg tepat dan cepat atas suatu aksi permusuhan dari pihak orang Amon. Hal ini diikuti oleh tindakan gemilang atas orang Filistin di daerah pegunungan pusat.. Selama Saul menerima dan menerapkan petunjuk Samuel dalam bidang agamawi, maka semua berjalan dengan baik, tapi keberjayaan Saul mulai menurun bila ia melanggar petunjuk Samuel. Saul menemui ajalnya pada pertempuran melawan orang Filistin di G Gilboa, yg berkobar akibat tindakannya yg gegabah tapi sia-sia, untuk memasukkan suku-suku Israel di wilayah utara yg tinggal di dataran Yizreel ke dalam kesatuan Israel. Kuasa pengekangan Filistin atas Israel sekarang lebih kuat daripada sebelumnya (kr 1010 sM).

III. Daud dan Salomo

Tokoh yg memampukan Israel untuk meremukkan belenggu kekuasaan Filistin adalah Daud, suku Yehuda, yg pada suatu waktu adalah panglima tentara kerajaan Saul, kemudian menjadi serdadu bayaran Filistin. Setelah Saul meninggal, segera Daud diakui sebagai raja Yehuda, dan 2 thn kemudian seluruh suku Israel meminta dia menjadi raja mereka. Dalam serentetan aksi militer yg gemilang Daud melancarkan pukulan yg melumpuhkan orang Filistin, dan sejak itu Filistin harus hidup sebagai bangsa bawahan Daud. Keberhasilan Daud merebut Yerusalem pada thn ke-7 pemerintahannya, memperlengkapi kerajaannya dengan ibukota yg kuat dan strategis letaknya, juga pusat keagamaan yg baru. Tabut di jemput dari tempat pembuangan dan dengan penuh khidmat ditempatkan di kemah kudus di G Sion, yg di kemudian hari diganti dengan Bait Salomo.

\==> Image 00103\

Setelah kemerdekaan Israel tegak dan berjaya unggul di Kanaan, selanjutnya Daud melalui penaklukan dan diplomasi membangun suatu kerajaan yg terbentang dari perbatasan Mesir dan Teluk Akaba sampai S Efrat. Kerajaan ini diwariskannya kepada anaknya, Salomo, yg terlampau membebani negaranya dengan program pembangunan raksasa dan pemeliharaan istana yg indah sekali, sehingga kemampuan dananya menurun. Guna memanfaatkan pendapatan nasional dengan lebih baik, Salomo membagi kerajaannya menjadi 12 wilayah administratif, menggantikan pembagian lama yg berdasarkan suku. Untuk meningkatkan pendapatan negara, ia bukan hanya menaikkan pajak yg cukup berat, tapi juga memberlakukan kerja paksa umum yg akhirnya juga berlaku atas orang Israel. Kemudian ternyata beban itu terlalu berat, dan pada akhirnya pemerintahannya melemah, kebanyakan dari bangsa-bangsa yg ditundukkan memperoleh kembali kemerdekaan mereka. Dan setelah Salomo meninggal (kr 930 sM) suku-suku Israel sendiri pecah menjadi dua kerajaan — yakni di utara kerajaan Israel, yg meninggalkan kesetiaannya terhadap takhta Daud, dan di selatan kerajaan Yehuda, meliputi wilayah suku Yehuda dan Benyamin, di mana keturunan Daud dan Salomo terus memerintah di ibukota Yerusalem (*YEHUDA, IV).

IV. Kerajaan Israel

Yerobeam, pendiri kerajaan utara yg memisahkan diri itu, mengembalikan kedua tempat suci lama di Dan (jauh di utara) dan Betel (dekat perbatasan dengan Yehuda) menjadi tempat-tempat suci nasional. Dalam kedua tempat itu anak lembu emas disediakan sebagai alas-alas yg kelihatan untuk takhta Yahweh yg tidak kelihatan (demikianlah fungsi kerub-kerub emas dlm Bait di Yerusalem). Pada awal pemerintahan kedua kerajaan Ibrani itu, kedua-duanya diserbu oleh pasukan Mesir di bawah Sisak. Tapi kerajaan selatan kelihatannya lebih menderita; justru di kemudian hari kerajaan utara merasa tidak perlu takut akan usaha dinasti Daud untuk memperoleh kembali kedaulatannya atas semua wilayahnya yg telah memisahkan diri itu.

Tapi ancaman yg lebih serius datang dari utara. Kerajaan Aram dari Damsyik, yg berdiri pada masa pemerintahan Salomo, mulai melanggar batas wilayah Israel pada kr 900 sM. Inilah awal dari perang berulang-ulang selama 100 thn, yg kadang-kadang memojokkan Israel ke dalam kesulitan yg sangat menyedihkan.

Keamanan kerajaan Israel juga diganggu oleh pemberontakan-pemberontakan yg sering terjadi di istana dan oleh pergantian-pergantian dinasti. Hanya dua dinasti — yaitu dinasti Omri (kr 880 sM) dan dinasti Yehu (kr 841 sM) — dapat berlangsung lebih dari 2 generasi. Anak Yerobeam dibunuh oleh Baesa, seorang dari komandan tentaranya, pada thn dia mewarisi kerajaan; setelah Baesa memerintah selama 20 thn, anaknya mengalami nasib yg sama. Kemudian menyusul perang saudara selama beberapa thn, dan Omri muncul sebagai pemenang.

Omri mendirikan ibukota baru untuk kerajaannya di Samaria. Dia memperkuat kedudukannya dengan menundukkan Moab, wilayah timur Laut Mati, dan memasuki perserikatan ekonomi dengan Fenisia. Anaknya, Ahab, mengawini seorang putri Fenisia, Izebel, dan mengakhiri permusuhan antara kerajaannya dengan kerajaan Yehuda melalui suatu perserikatan, yg berlangsung sampai dinasti Omri digulingkan.

Keuntungan dari perserikatan dagang dengan Fenisia adalah besar, tapi dalam bidang agamawi hal ini menjurus kepada kebangkitan kembali penyembahan Baal, dimana Izebel memegang peranan besar. Tokoh utama penyembahan mumi kepada Yahweh adalah Elia, yg juga mencela penyelewengan raja dari kesetiaan mematuhi perjanjian dalam bidang sosial (khususnya hal Nabot dari Yizreel), dan ia menubuatkan malapetaka yg akan menimpa dinasti Omri.

Perang dengan Damsyik berlangsung terus selama pemerintahan Omri dan semua keturunannya, kecuali perang 3 thn selama pemerintahan Ahab, sewaktu raja-raja Israel dan Damsyik dan negara-negara tetangga membentuk suatu koalisi militer untuk melawan raja Asyur yg menyerbu, yaitu Salmaneser III. Mereka menggempur Salmaneser di Qargar, Orontes (853 sM), dan akibatnya Salmaneser tidak menyerbu negeri-negeri di wilayah barat selama 12 thn. Mundurnya Salmanaser ditandai pembubaran koalisi itu dan timbulnya lagi permusuhan antara Israel dan Damsyik.

Permusuhan keluarga Omri dalam pemberontakan Yehu (841 sM) disusuli penghapusan penyembahan Baal secara resmi. Pemberontakan itu didukung oleh golongan nabi yg tidak mengasihi keluarga Omri. Tapi hal ini sangat melemahkan kerajaan Israel terhadap serangan-serangan Aram, dan selama 40 thn pertama pemerintahan dinasti Yehu adalah merupakan masa kesengsaraan yg bersinambungan bagi Israel. Bukan hanya daerah-daerah Transyordan Israel yg diserbu oleh musuh, tapi juga propinsi utara; orang Aram menyerbu dataran Yizreel dan menguasai pantai Laut Tengah sampai Gat di selatan. Israel berada dalam kesukaran yg menyedihkan, dan baru menurun ketika pada thn 803 sM raja Asyur, Adadnirari III, menyerbu Siria, merompak Damsyik dan mengharuskannya membayar upeti. Sejak itu tekanan Damsyik atas Israel menurun, dan orang Israel kembali mampu dan memanfaatkan kesempatan ini, dan memperoleh kembali banyak kota yg dulu direbut orang Aram dari mereka.

Selama masa kesengsaraan ini ada satu orang Israel, yg semangat juang dan kepercayaannya kepada Yahweh tidak pernah tergoyahkan, dan orang itu ialah nabi Elisa. Tepatlah julukan yg diberikan raja Israel kepada dia sewaktu dia meninggal, ‘kereta Israel dan orang-orangnya yg berkuda’ (2 Raj 13:14). Elisa meninggal dengan ramalan kemenangan atas orang Aram di bibirnya.

Parohan pertama abad 8 sM adalah masa kembalinya kemakmuran Israel, teristimewa di bawah Yerobeam II, raja ke-4 dari dinasti Yehu. Kedua kerajaan Ibrani itu bebas dan gangguan negara luar; Damsyik terlalu lemah sesudah hajaran Asyur sehingga tak mungkin memperbaharui agresinya. Yerobeam memperluas batas-batas kerajaannya dan kemakmuran nasional bertambah secara besar-besaran.

Tapi peningkatan kemakmuran nasional ini dinikmati dan dikuasai oleh hanya segelintir orang saja — para pedagang kaya dan tuan-tuan tanah, yg memperkaya diri atas jerih payah para petani. Para petani kecil yg dahulunya mengolah tanah milik sendiri, sekarang dalam jumlah besar terpaksa menjadi buruh pada usaha pertanian raksasa milik tetangga mereka. Akhirnya sebagai budak mereka mengolah tanah, yg sebelumnya adalah milik mereka sendiri dan yg mereka olah secara bebas.

Perbedaan yg makin tajam antara dua kelompok masyarakat Israel yg merdeka, memancing kutukan dari nabi-nabi seperti Amos dan Hosea, dan kutukan itu makin berat karena orang-orang kaya yg mengambil alih tanah tetangga-tetangga mereka yg miskin, sangat cermat melaksanakan apa yang mereka anggap sebagai kewajiban agamawi mereka. Nabi-nabi tanpa pamrih terus menyatakan bahwa yg dituntut oleh Yahweh dari umat-Nya bukanlah persembahan temak yg gemuk-gemuk, melainkan kebenaran dan kesetiaan kepada perjanjian, yg apabila tidak diterapkan maka bangsa itu akan ditimpa malapetaka yg lebih besar dari malapetaka sebelumnya.

Kira-kira thn 745 sM dinasti Yehu berakhir sebagaimana mulai, yaitu dengan pembunuhan dan pemberontakan. Pada thn itu Tiglat-Pileser III menjadi raja Asyur dan memulai suatu gerakan merebut kerajaan lain. Dan pada kurun waktu kurang dari seperempat abad, ia mengakhiri eksistensi kerajaan Israel dan kemerdekaan kerajaan Yehuda. Menahem dari Israel (kr 745-737 sM) membayar upeti kepada Tiglat-Pileser, tapi suatu politik anti-Asyur telah dipupuk oleh Pekah (kr 736-732 sM), yg bersekutu dengan Damsyik untuk tujuan itu. Tiglat-Pileser merebut Damsyik, menghapuskan kerajaan itu, dan menjadikannya propinsi Asyur; wilayah-wilayah utara dipisah dari wilayah Transyordan Israel dan dijadikan dua propinsi Asyur. Kelas lapisan atas dari penduduk kedua daerah ini diasingkan, diganti dengan para imigran dari wilayah-wilayah lain kerajaan Asyur. Sewaktu Hosea, raja terakhir Israel, tidak membayar upeti kepada Asyur atas anjuran Mesir, dia dipenjarakan. Samaria, ibukotanya, direbut pada thn 722 sM sesudah 3 thn pengepungan, dan menjadi pusat pemerintahan propinsi Asyur wilayah Samaria. Pembuangan berikutnya terjadi lagi — menurut data-data Asyur ada 27.290 orang ditangkap dan dibuang dan pemukim-pemukim asing didatangkan untuk mengambil alih tempat mereka.

V. Propinsi Samaria

Pembuangan orang-orang Israel dari wilayah utara dan Transyordan sedemikian cermat, sehingga kedua daerah ini kehilangan sifat ke-Israel-annya. Tapi propinsi Samaria lain. Para imigran di propinsi ini pada waktunya menerima agama Israel — ‘hukum beribadah kepada Allah negeri itu’ (2 Raj 17:26 dab), lalu membaur dengan orang Israel yg tersisa yg tidak diangkut dari sana. Tapi orang Samaria (nama yg kemudian diberikan kepada penduduk propinsi Samaria) dianggap hina sebagai peranakan, baik secara ras maupun agama, oleh orang Yehuda wilayah selatan, khususnya sejak akhir abad 6 sM dan seterusnya.

Raja Hizkia dari Yehuda mencoba (kr 705 sM) membangkitkan kembali semangat kesatuan agama Israel dengan mengundang orang Samaria datang ke Yerusalem untuk beribadat, tapi usahanya gagal karena serbuan Sanherib ke Yehuda (701 sM). Hasil yg agak lumayan diperoleh dalam aksi Yosia, cicit Hizkia, yg mengambil keuntungan dari merosotnya kekuasaan Asyur. Ia memperluas kekuasaan politik dan reformasi ke wilayah-wilayah bekas milik kerajaan Israel (621 sM). Fakta bahwa dia mencoba menghalangi gerak maju Firaun Nekho di Megido, membuktikan adanya usaha dia memperluas kerajaannya, tapi kematiannya di sana (609 sM) mengakhiri pengharapan akan penyatuan kembali seluruh Israel di bawah seorang raja dari keluarga Daud. Negeri Israel berada di bawah hegemoni Mesir, dan beberapa thn kemudian di bawah Babel.

Orang Babel nampaknya mengambil alih organisasi pemerintahan propinsi Asyur wilayah barat. Setelah Gedalya, gubernur Yehuda di bawah pemerintahan Babel terbunuh, negeri Yehuda terkecuali Negeb (sekarang diduduki oleh orang Edom) dimasukkan ke dalam propinsi Samaria (kr 582 sM). Dalam hal ini tidak ada perubahan besar sebagai akibat dari penaklukan Persia (539 sM), kecuali bahwa orang-orang Yehuda yg diasingkan di bawah pemerintahan Nebukadnezar, diizinkan kembali dan bermukim di Yerusalem dan sekitarnya. Daerah ini kemudian menjadi propinsi Yehuda yg terpisah, tapi kecil sekali, di bawah seorang gubernur yg diangkat oleh raja Persia (*YEHUDA, V).

Orang Samaria ingin bersahabat dengan orang Israel bekas buangan yg kembali itu. Mereka menawarkan kerjasama untuk membangun kembali Bait Suci Yerusalem, tapi tawaran ini ditolak oleh orang-orang Yehuda. Mereka jelas takut akan tertelan oleh orang Samaria yg jumlahnya jauh lebih besar, dan mereka juga sangat meragukan ras dan kemurnian agama orang Samaria itu. Akibatnya, putusnya hubungan selama ini yg seyogianya dapat di jalin kembali pada waktu ini, menjadi lebih pahit dari sebelumnya. Dan orang Samaria menggunakan setiap kesempatan menjelek-jelekkan orang Yehuda kepada pemerintahan Persia. Mereka tidak mampu menggagalkan pembangunan kembali Bait Suci Yerusalem, yg telah disetujui oleh Koresy pada thn 538 sM, namun mereka berhasil untuk sementara merintangi usaha orang Yehuda membentengi Yerusalem. Tapi, sewaktu Artaxerxes I mengutus Nehemia ke Yehuda sebagai gubernur pada thn 445 sM, dengan petunjuk langsung untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem, orang Samaria dan tetangga-tetangga Yehuda lainnya tentu memperlihatkan rasa kecewa dengan bermacam cara, tapi mereka tidak dapat melancarkan tindakan efektif terhadap dekrit raja.

Gubernur Samaria pada waktu ini adalah Sanbalat, yg memangku jabatan itu beberapa thn lamanya. Pada thn 408 sM dia disebut dalam naskah persekutuan Yahudi dari Elephantine di Mesir; mereka membutuhkan jasa-jasa baik dari anak-anak Sanbalat guna memperoleh izin pemerintah Persia untuk membangun kembali Bait Suci mereka, yg dihancurkan dalam huru hara anti-Yahudi 2 atau 3 thn sebelumnya. Bait itu dibangun lebih dari satu abad sebelumnya untuk melayani kegiatan agamawi masyarakat Yahudi, yg dimukimkan oleh raja-raja Mesir dari Dinasti 26 di wilayah garis batas selatan, sebagai penghalang atas serangan-serangan Etiopia. Sebelum mengirim surat kepada anak-anak Sanbalat, orang-orang Yahudi di Elephantine berusaha dulu memperoleh bantuan dari imam besar di Yerusalem, tapi sang imam tidak menggubris permohonan mereka; tentu dia tidak menyetujui adanya bait tandingan atas Bait Suci Yerusalem. Anak-anak Sanbalat — dengan wajar, berkaitan dengan hubungan antara Samaria dan Yerusalem — cepat menanggapinya, dan mereka memperoleh izin yg diperlukan untuk membangun kembali Bait Suci Elephantine.

Kenyataan bahwa anak-anak Sanbalat, dan bukan ayah mereka, didekati oleh orang Yahudi Elephantine, memberi kesan bahwa sewaktu Sanbalat masih gubernur, anak-anaknyalah yg melaksanakan sebagian besar tugasnya atas namanya, mungkin karena usianya telah lanjut

Papirus Elephantine yg menginformasikan kepada kita persekutuan Yahudi di Mesir sangat menarik perhatian, karena menggambarkan satu golongan Yahudi yg nampaknya tidak dipengaruhi oleh reformasi pada zaman Yosia. Dalam hal ini mereka sangat berbeda dari orang-orang Yahudi yg pulang dari pembuangan ke Yerusalem dan daerah sekitarnya. Para bekas buangan ini bersama saudara-saudaranya di Babel telah memetik pelajaran dari pembuangan, terbukti dari makin mantapnya dan cermatnya ketaatan mereka kepada Tora, khususnya kepada unsur-unsur Tora yg memisahkan mereka sebagai bangsa bertata hukum dari semua persekutuan lainnya. Munculnya orang Yahudi sebagai bangsa bertata hukum dalam arti paling khusus, adalah terkait teristimewa dengan karya Ezra, yg olehnya hukum Pentateukh menjadi undang-undang negara ‘Bait Yehuda’, kendati masih harus menghormati kekuasaan lebih tinggi dari Persia.

Karya Ezra (didukung sepenuhnya oleh Nehemia sebagai gubernur) berakibat, bahwa harapan untuk memperbaiki perpecahan antara orang Samaria dan orang Yehuda menjadi sangat tipis dibandingkan sebelumnya. Beberapa waktu sebelum 400 sM, seorang keturunan dari keluarga imam besar di Yerusalem, bernama Manasye, yg mengawini putri Sanbalat, dilantik oleh mertua itu menjadi imam besar di tempat kudus lama di G Gerizim, dekat Sikhem, di mana telah didirikan suatu bait atas izin raja. Kultus yg didirikan demikian sebagai tandingan atas kultus Yerusalem bisa terus bertahan sampai masa kini — aneh berdasarkan kitab hukum yg persis sama dengan yg diakui oleh orang Yahudi (*SAMARIA, ORANG).

\==> Image 00104\

VI. Di bawah orang Makedonia

Penaklukan kerajaan Persia oleh Aleksander Agung tidak membawa perubahan konstitusional baik alas Samaria maupun Yehuda. Kedua propinsi ini sekarang di urus oleh gubernur Yunani-Makedonia, pengganti gubernur-gubernur Persia dahulu. Upeti sekarang dibayar kepada raja baru yg mengganti raja lama. Diaspora Yahudi, yg memencar di seluruh wilayah kerajaan Persia — Haman tidak melebih-lebihkan bila menggambarkannya kepada Xerxes sebagai ‘tercerai-berai dan terasing di antara bangsa-bangsa di dalam seluruh daerah kerajaan tuanku’ (Est 3:8) — sekarang mendapat tempat-tempat baru untuk didiami, teristimewa kota Aleksandria dan Kirene. Pengaruh Yunani tidak dapat dielakkan, mulai mempengaruhi keberadaan mereka. Pengaruh ini dalam beberapa segi adalah baik; misalnya situasi di antara orang Yahudi berbahasa Yunani di Aleksandria, mengharuskan penterjemahan Pentateukh dan Kitab-kitab PL lainnya ke bh Yunani pada abad 3 dan 2 sM, dengan demikian membuka pengetahuan akan Allah Israel kepada dunia non-Yahudi (*NASKAH DAN TERJEMAHAN). Sebaliknya, ada kecenderungan untuk meniru kebudayaan Yunani yg terjalin ketat dengan kekafiran, yg tentu akan mengaburkan perbedaan khas ‘bangsa khusus’ pilihan Yahweh itu dari bangsa-bangsa sekitar mereka. Sejauh mana suatu keluarga Yahudi terkemuka dapat menyesuaikan diri kepada aspek-aspek budaya hidup Yunani yg buruk, dilukiskan dalam cerita Yosefus mengenai keuntungan-keuntungan keluarga Tobias, yg memperkaya diri sebagai pemungut-pemungut cukai, mulanya di bawah pemerintahan raja-raja Ptolemeus dan kemudian di bawah raja-raja Seleukus.

Di antara dinasti yg mewarisi kerajaan Aleksander, ada dua dinasti yg paling banyak mempengaruhi sejarah Israel, yakni raja-raja dari dinasti Ptolemeus di Mesir, dan raja-raja dari dinasti Seleukus yg menguasai Aram dan negeri-negeri di seberang Efrat. Dari thn 320 sampai 198 sM pemerintahan raja-raja Ptolemeus meluas dari Mesir ke Asia meliputi Libanon dan pantai Fenisia, termasuk Yehuda dan Samaria. Kemenangan raja Seleukus thn 198 sM di Panion dekat hulu Yordan, berarti bahwa Yehuda dan Samaria sekarang pembayar upeti kepada Antiokhia, bukan lagi kepada Aleksandria. Kekalahan raja Seleukus Antiokhus III kepada orang Roma di Magnesia thn 190 sM, dengan keharusan mengganti kerugian kepada Roma yg jumlahnya sangat besar, mengakibatkan penambahan pajak yg sangat besar pula atas warga negaranya, termasuk orang Yahudi. Sewaktu anaknya, Antiokhus IV, mencoba memperbaiki keadaan itu dengan memaksakan kekuasaannya atas Mesir (melalui dua kampanye pada thn 169 dan 168 sM), orang Roma memaksa dia untuk melepaskan ambisi-ambisi ini.

Yehuda, di perbatasan barat daya kerajaannya, sekarang menjadi daerah penting dan strategis. Antiokhus merasa, ada alasan untuk mencurigai kesetiaan masyarakat Yahudi. Mengikuti nasihat para penasihat yg tidak bijaksana, dia memutuskan untuk menghapuskan nasionalitas dan agama Yahudi yg khas dan khusus itu. Puncak dari kebijaksanaan politik ini ialah penempatan ibadat kafir — menyembah ilah Zeus Olympios (nama yg diganti oleh orang Yahudi dgn ‘pembinasa yg keji’) — di Bait Suci Yerusalem pada bulan Desember 167 sM. Bait Samaria di Gerizim juga dialihkan peranannya menjadi tempat penyembahan Zeus Xenios.

Pada waktu itu banyak orang Yahudi yg saleh memilih lebih baik mati martir daripada mengingkari agama mereka. Orang-orang lain memberontak terhadap raja mereka, di antaranya keluarga imam dari keturunan Hasmonaean, dipimpin oleh Matatias dari Modin dan kelima anaknya. Yg terkemuka dari kelima anak ini ialah Yudas Makabe, pemimpin berbakat, yg unggul dalam perang gerilya. Kemenangannya yg pertama menentang pasukan raja, mendorong orang sebangsanya bergabung di bawah pimpinannya, termasuk banyak orang saleh Israel (orang-orang khasidim), yg menyadari bahwa perlawanan pasif tidaklah cukup menghadapi ancaman atas eksistensi bangsa dan agama mereka. Raja mengerahkan tentara lebih banyak lagi menumpas mereka, tapi pasukan ini pun dihancurkan oleh pasukan Yudas dengan taktik-taktik perang di luar dugaan.

Nyata bagi raja Antiokhus bahwa politiknya gagal total. Ia meminta Yudas supaya mengirim utusan ke Antiokhia untuk merundingkan perdamaian dan syarat-syaratnya. Antiokhus ingin merebut kembali daerah-daerah yg melepaskan diri di wilayah timur kerajaannya, karena itulah sangat penting bagi dia mengamankan perbatasannya dengan Mesir. Syarat utama dan asasi dari pihak Yahudi, tentu, adalah pembatalan tuntas larangan terhadap agama mereka. Syarat ini disetujui; orang Yahudi bebas mempraktikkan agama nenek moyang mereka. Kebebasan itu segera disusuli pensucian Bait Suci dari semua kegiatan agama berhala yg telah ditempatkan di dalamnya, dan penahbisan kembali Bait itu untuk kebaktian kepada Allah Israel yg telah berlangsung berabad-abad lamanya. Penahbisan Bait itu pada akhir thn 164 sM (sesudah itu senantiasa diperingati pada pesta Hanukah; bnd Yoh 10:22) mungkin tidak termasuk dalam syarat perdamaian, tapi nampaknya diterima sebagai fait accompli.

Tapi segera jelas bahwa Yudas, saudara-saudaranya dan pengikutnya tidak puas dengan memperoleh hanya kebebasan beragama saja. Setelah meraih kemenangan dengan kekuatan militer, mereka terus berjuang untuk merebut kemerdekaan politik. Penahbisan Bait Suci dilanjutkan dengan pembentengan bukit Bait itu, berhadapan dengan benteng atau Akra (*YERUSALEM, IV), yg ditempati oleh pasukan kerajaan. Yudas mengirim pasukan bersenjata ke Galilea, Transyordan dan daerah-daerah lain di mana ada persekutuan Yahudi terpencil, dan membawa mereka ke daerah-daerah aman di wilayah Yehuda yg berada di bawah kekuasaan pasukannya.

Rentetan tindakan permusuhan demikian tidak dapat dibiarkan oleh pemerintah keluarga Seleukus. Tentara segera dikerahkan untuk menumpas Yudas. Yudas gugur dalam pertempuran pada musim semi thn 160 sM, dan untuk sementara gerakan yg dipimpinnya kelihatannya sudah musnah. Tapi beberapa peristiwa yg terjadi kemudian sangat menguntungkan bagi penerusnya. Teristimewa kematian Antiokhus IV thn 163 sM, diikuti perang saudara yg menelan waktu lama dan yg terjadi berulang-ulang di kerajaan Seleukus, antara kelompok-kelompok yg bersaing merebut takhta kerajaan dengan melibatkan para pendukungnya.

Yonatan, saudara Yudas, yg menggantinya memimpin partai pemberontak itu, bersembunyi menunggu waktu yg tepat, dan setelah waktu itu tiba, melalui perundingan diplomatis ia meraih kemenangan luar biasa dan maju pesat. Pada thn 152 sM Aleksander Balas, yg menuntut baginya’takhta Seleukus dengan alasan bahwa dia adalah anak dari Antiokhus IV (kebenaran tuntutan ini sulit dinilai), menunjuk Yonatan untuk mengurus kekuatan militernya sendiri di Yehuda, dan mengakui Yonatan imam besar orang Yahudi, sebagai imbalan atas janji Yonatan membantu dia.

Antiokhus IV mulai mencampuri urusan agama Yahudi — campur tangannya itu yg melahirkan kelompok Hasmonaean — dengan memecat dan menunjuk imam-imam besar atas kemauannya sendiri, hal yg bertentangan dengan kebiasaan lama. Sekarang, seorang Hasmonaean menerima jabatan imam besar dari seorang yg berhak memberinya melulu berdasarkan tuntutan bahwa ia adalah anak dan penerus dari Antiokhus IV. Betapa cepatnya hilang cita-cita luhur itu!

Golongan-golongan saleh yg memberi bantuan kepada orang-orang Hasmonaean — mengingat bahwa hanya oleh Hasmonaean kebebasan beragama dapat diperoleh — merasa puas bila tujuan itu dicapai, dan mereka makin kritis terhadap ambisi-ambisi dinasti Hasmonaean. Tapi ambisi yg paling menjengkelkan mereka dari antara ambisi-ambisi orang Hasmonaean itu, ialah ambisi merebut jabatan imam besar. Di antara orang-orang saleh itu ada yg menolak untuk mengakui imam besar kecuali keturunan Zadok, dan mereka menantikan hari di mana anak-anak Zadok kembali memegang jabatan di Bait Suci yg disucikan itu (*GULUNGAN LAUT MATI). Suatu kelompok dari keluarga Zadok di izinkan membangun bait Yahudi di Leontopolis di Mesir, dan mereka diperbolehkan memegang jabatan imam di sana. Tapi bait suci di luar negeri Israel tidak dianggap sah oleh orang-orang khasidim, yg sangat menghormati hukum Taurat.

Pada thn 143 sM Yonatan terjebak dan dibunuh oleh salah seorang saingan penuntut kekuasaan atas kerajaan Seleukus. Tapi Yonatan diganti oleh saudaranya, Simon, yg dalam kepemimpinannya orang Yahudi memperoleh kemerdekaan sempurna dari kuk kafir. Kemerdekaan ini dituangkan dalam surat keputusan raja Seleukus Demetrius II bulan Mei 142 sM; orang Yahudi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti. Simon melanjutkan keberhasilan diplomasi ini dengan menghapuskan sisa-sisa terakhir dari pengaruh Seleukus di Yehuda — benteng Gazara (Gezer) dan benteng di Yerusalem. Demetrius memulai suatu perlawanan terhadap orang Partia, dan dia tidak mampu melawan Simon, seandainya dia mau. Simon menerima penghormatan dad Yahudi sesamanya karena kemerdekaan dan perdamaian yg dia capai untuk mereka. Pada pertemuan perserikatan orang-orang Yahudi bulan September 140 sM, diputuskan bahwa, dengan mempertimbangkan prestasi patriotik baik prestasi Simon sendiri dan saudara-saudaranya, maka dia ditunjuk menjadi gubernur bangsa itu, panglima tertinggi militer dan imam besar turun-temurun. Ketiga kekuasaan ini dia wariskan kepada keturunannya dan para penerusnya.

Simon terbunuh di Yerikho pada thn 134 sM oleh menantunya, Ptolemeus, anak Abubus, yg sangat berambisi memegang kekuasaan tertinggi di Yehuda. Tapi anak Simon, Yohanes Hyrkanus, menghancurkan ambisi iparnya itu, dan ia mencapai kedudukan sebagai pengganti ayahnya.

Raja Seleukus Antiokhus VII, yg mencoba mengokohkan kembali kekuasaannya atas Yehuda pada masa akhir pemerintahan Simon, berhasil membebankan upeti kepada Yohanes Hyrkanus selama beberapa thn pertama pemerintahannya. Tapi kematian Attiokhus VII dalam pertempuran dengan orang Partia thn 128 sM, mengakhiri untuk selama-lamanya kedaulatan kerajaan Seleukus atas Yehuda.

III. Keluarga Hasmonaean

Pada thn ke-7 pemerintahan Yohanes Hyrkanus, negara merdeka Yehuda tegak kukuh tegar, 40 thn sesudah Antiokhus IV menghapuskan keadaannya yg lama sebagai negara bait yg otonom dalam kerajaannya. Ketaatan orang-orang khasidim, kehandalan Yudas dalam kemiliteran dan kenegarawanan Simon yg piawai, ditambah perpecahan dan kelemahan yg makin memburuk dalam pemerintahan Seleukus, telah memberikan kepada orang Yahudi (umumnya memang nampak demikian) apa yg mereka peroleh melebihi apa yg hilang dari mereka pada pemerintahan Antiokhus IV. Tidaklah mengherankan, kalau thn-thn pertama kemerdekaan di bawah Yohanes Hyrkanus dianggap oleh generasi-generasi berikutnya sebagai zaman emas.

Pada masa Yohanes Hyrkanus terjadi perpecahan antan mayoritas golongan khasidim dan keluarga Hasmonaean. Yohanes tersinggung karena keberatan-keberatan khasidim atas jabatannya sebagai imam besar, dan terjadilah perpecahan antara mereka. Mulai dari saat ini dan seterusnya kelompok khasidim muncul sebagai golongan Farisi, biarpun tidak pasti apakah mereka menerima nama itu (Ibrani perusyim, ‘yg terasing’) sebab mereka menarik diri dari perserikatan mereka dulu dengan golongan Hasmonaean, seperti sering dianggap orang demikian. Kelompok khasidim terus bertahan sebagai pihak oposisi terhadap rezim pemerintahan selama 50 thn. Para pemimpin agama yg mendu. kung pemerintahan dan duduk dalam dewan nasional muncul pada waktu yg bersamaan, dan kelompok ini dikenal sebagai Saduki.

Yohanes Hyrkanus mengambil keuntungan dari makin melemahnya kerajaan Seleukus, dan mengembangkan kekuasaannya. Salah satu dari tindakannya yg terdahulu setelah menegakkan kemerdekaan Yahudi, adalah menyerbu daerah Samaria dan menaklukkan kota Samaria, yg bertahan selama satu thn, tapi kemudian direbut dan dimusnahkan. Sikhem juga direbut dan tempat suci Samaria di G Gerizim dihancurkan. Orang Samaria memohon bantuan dari raja Seleukus, tapi pemerintah Roma memperingatkan dia agar jangan mencampurinya. Orang-orang Hasmonaean, pada awal pergumulan mereka, telah membuat pakta perserikatan dengan pemerintah Roma dan pakta ini diperbaharui oleh Yohanes.

Ke arah selatan dari kerajaannya Yohanes menggempur orang Idumea, menaklukkan dan memaksa mereka disunat dan menerima agama Yahudi. Dia merebut kota-kota Yunani di Transyordan dan menyerbu Galilea.

Pekerjaannya di Galilea diteruskan oleh anaknya yg sekaligus penerusnya, Aristobulus 1(104-103 sM), yg memaksa orang Galilea taklukkan itu menerima Yudaisme, seperti diperbuat oleh ayahnya terhadap orang Idumea.

Menurut Yosefus, Aristobulus memilih gelar ‘raja’ ketimbang gelar ‘ethnarch’, yg dipakai neneknya dan (sejauh kita ketahui) ayahnya. Ia memakai mahkota sebagai pertanda status kerajaannya. Dengan jalan ini, dia pasti mengharapkan dapat menikmati prestise yg lebih besar di antara bangsa-bangsa tetangga non-Yahudi, biarpun dalam mata uang logamnya tertera kata-kata yg enak bagi perasaan orang Yahudi, yakni ‘Yehuda imam besar’.

Aristobulus meninggal (mungkin akibat tbc) sesudah satu thn memerintah. Ia diganti oleh saudaranya, Aleksander Yannaeus (103-76 sM), yg mengawini jandanya, Salome Aleksandra. Sukar membayangkan seorang imam besar sejelek Yannaeus. Dia berfungsi sebagai imam besar pada hari-hari upacara tertentu, dan dia sengaja berbuat demikian sehingga melukai hati banyak orang Yahudi yg taat beragama (teristimewa golongan Farisi). Ambisi Yannaeus yg paling besar ialah penaklukan secara militer. Ambisi politiknya ini memang sering mendapat tantangan, tapi pada akhirnya dia berhasil menguasai hampir semua daerah yg dulunya termasuk wilayah Israel pada masa gemilang sejarah bangsa itu — dengan menghapuskan segala yg berharga dalam warisan spiritual bangsanya.

Kota-kota Yunani di pantai Laut Tengah dan di Transyordan menjadi sasaran khusus serangannya; satu per satu diserbu dan ditaklukkannya. Yannaeus memperlihatkan sifat kejam dan suka merusak. Ia tidak mempedulikan sedikit pun nilai-nilai peradaban Yunani yg sejati. Dia menerapkan cara hidup kasar gaya pangeran-pangeran Yunani Asia Barat. Perasaan menentang dia yg timbul dalam diri banyak warga Yahudi makin memuncak, sehingga sewaktu dia mengalami kekalahan besar atas kekuatan Nabatae di Transyordan thn 94 sM, mereka memberontak terhadap Yannaeus, dan mendapat bantuan dari raja Seleukus, Demetrius III. Tapi warga Yahudi lainnya, sekalipun tidak menyukai Yannaeus, menganggap sangat memalukan meminta bantuan dari raja Seleukus untuk memberontak melawan raja dari keluarga Hasmonaean. Dengan sukarela mereka membantu Yannaeus yg sudah sedemikian tertekan, memampukan dia menumpas pemberontakan itu dan memukul mundur pasukan Seleukus. Kebiadaban Yannaeus membasmi pemberontakan itu, teristimewa tindakan sadisnya atas pemimpinnya (di antaranya beberapa tokoh terkemuka Farisi) diingat lama dengan kengerian.

Yannaeus mewariskan kerajaannya kepada jandanya, Salome Aleksandra, yg memerintah sebagai ratu selama 9 thn. Ratu melimpahkan jabatan imam besar kepada anaknya yg tertua, Hyrkanus II. Dalam satu hal penting ratu dikagumi. Ia memutar haluan politik pendahulunya; dia melindungi golongan Farisi dan memperhatikan nasihat mereka selama pemerintahannya.

Kematiannya thn 67 sM diikuti perang saudara antara pendukung kedua anaknya, Hyrkanus II dan Aristobulus II, yg bangkit memperebutkan kekuasaan tertinggi di Yehuda. Aristobulus adalah khas pangeran Hasmonaean, penuh ambisi dan agresif; Hyrkanus tidak becus dan dapat dengan mudah dimanipulasi oleh pendukungnya demi kepentingan pribadi para pendukung itu. Pemimpin kelompok Hyrkanus ialah Antipater, orang Idumea, yg ayahnya adalah gubernur wilayah Idumea di bawah Yannaeus.

Perang saudara antara kedua bersaudara dan pendukung masing-masing, dipadamkan oleh orang Roma pada thn 63 sM, sekaligus mengakhiri kemerdekaan Yehuda yg pendek usia di bawah orang-orang Hasmonaean.

VIII. Keunggulan Romawi

Pada thn 66 sM senat dan bangsa Roma mengutus jenderal paling ulung pada waktu itu, Pompius, untuk menyelesaikan perang, yg mereka lancarkan sewaktu-waktu selama lebih 20 thn terhadap Mithridates, raja dari Pontus, yg telah membentuk suatu kerajaan di Asia Barat meliputi daerah negeri-negeri kerajaan Seleukus yg makin lemah dan negara-negara yg berdekatan. Tidak lama Pompius mengalahkan Mithridates (yg lari ke Krimea dan bunuh diri di sana); tapi sebagai akibatnya Pompius dihadapkan kepada keharusan menata kembali kehidupan politik di Asia Barat. Thn 64 sM Pompius mencaplok Siria dan menjadikannya propinsi Roma. Ia juga diundang oleh beberapa golongan yg bertikai di negeri Yahudi, untuk mencampuri persoalan mereka dan mengakhiri perang saudara antara anak-anak Yannaeus.

Berkat analisis tajam Antipater mengenai situasi, maka partai yg mendukung Hyrkanus menunjukkan sikap bersedia bekerja sama dengan Roma, dan Yerusalem membuka gerbang-gerbangnya bagi Pompius pada musim semi thn 63 sM. Tapi Bait Suci, yg terpisah dibentengi dan dipertahankan oleh pendukung Aristobulus, menderita pengepungan selama 3 bulan, sebelum direbut oleh pasukan Pompius. Yehuda sekarang menjadi pembayar upeti kepada Roma. Kekuasaannya atas kota-kota Yunani yg ditaklukkan oleh raja-raja Hasmonaean dicabut, dan orang Samaria dibebaskan dari pengawasan Yahudi. Hyrkanus diberhentikan sebagai imam besar dan pemimpin bangsa itu; dan dia harus puas dengan gelar ‘ethnarch’ (wali negeri) karena pemerintah Roma menolak mengakuinya sebagai raja. Antipater terus membantunya, bertekad memanfaatkan perubahan yg baru itu demi kepentingannya sendiri yg (ini harus diakui) umumnya sesuai dengan keuntungan Yehuda.

Aristobulus dan keluarganya berupaya terus dari waktu ke waktu untuk menimbulkan pemberontakan terhadap Roma, sedemikian rupa, untuk menegakkan kekuasaan di Yehuda untuk dirinya sendiri. Tapi selama beberapa thn upaya ini selalu gagal. Gubernur-gubernur Romawi berusaha keras untuk tetap menguasai Yehuda dan Siria, karena kedua propinsi Roma ini sekarang berada di perbatasan timur wilayah kerajaan Roma, berbatasan dengan kerajaan saingan, Partia.

Akan betapa pentingnya letak strategis kedua daerah ini teracu dalam jumlah tokoh besar sejarah Romawi, yg turut berperan dalam perjalanan sejarah Yehuda pada kurun waktu itu — Pompius, yg mencaplok Yehuda dan menjadikannya propinsi Roma; Krassus, gubernur Siria thn 54-53 sM yg merampok Bait Suci Yerusalem dan banyak lagi kuil di Siria, sambil mengumpulkan sumber-sumber dana untuk biaya perang melawan orang Partia, tapi dikalahkan dan dibunuh oleh musuhnya di Karhae thn 53 sM; Yulius Caesar, yg menjadi pemimpin dunia Romawi setelah menyingkirkan Pompius di Farsalus thn 48 sM; Antonius, yg menguasai propinsi-propinsi wilayah Timur kerajaan Roma, setelah dia dan Oktavianus mengalahkan pembunuh Caesar dan komplotan pembunuh itu di Filipi thn 42 sM; kemudian Oktavianus sendiri, yg menyingkirkan Antonius dan Kleopatra di Aktium thn 31 sM dan sesudah itu memerintah dunia Romawi sebagai Kaisar Agustus.

Selama pergantian pemimpin pada perang saudara dan perang melawan kerajaan lain, Antipater dan keluarganya mempertahankan politik mendukung wakil utama kekuasaan Romawi dan Timur setiap waktu, siapa pun orangnya dan dari partai mana pun dia di negara Romawi. Khususnya Yulius Caesar mempunyai alasan untuk berterima kasih kepada Antipater atas bantuannya, sewaktu Yulius terkepung di Aleksandria selama musim dingin thn 48-47 sM. Yulius memberikan hak-hak istimewa bukan hanya kepada Antipater sendiri, tapi juga kepada orang Yahudi.

Kepercayaan ini, sebagai dampak dari jasa keluarga Antipater yg dinikmati oleh orang Roma, nyata mencolok pada thn 40 sM. Pada thn itu orang Partia menyerbu Siria dan Palestina dan memampukan Antigonus, anak terakhir yg masih hidup dari Aristobulus II, untuk memperoleh kembali takhta Hasmonaean dan memerintah sebagai raja sekaligus imam besar atas orang Yahudi. Hyrkanus II dipuntungkan sehingga tidak boleh menjadi imam besar lagi. Pada waktu ini Antipater telah meninggal. Tapi orang mencoba menangkap dan menghancurkan keluarganya. Seorang anaknya, Fasael, ditangkap dan dibunuh, tapi Herodes, anak Antipater yg paling cakap, lari ke Roma.

Senat Roma memilihnya menjadi raja orang Yahudi, atas permintaan Antonius dan Oktavianus. Tugasnya ialah merebut kembali Yehuda dari Antigonus (yg tidak diganggu oleh komandan pasukan Romawi di Siria, sewaktu pasukan penyerbu dari Partia diusir ke luar) dan memerintah daerah itu demi kepentingan Romawi, sebagai ‘teman dan sekutu’ mereka. Tugas itu tidak mudah dan baru tuntas thn 37 sM dengan penyerbuan Yerusalem setelah pengepungan selama 3 bulan. Nyata bagi Herodes bahwa kebencian terhadap dirinya membara pada pihak warganya yg baru itu, yg tidak dapat disingkirkannya betapapun ia berusaha. Antigonus dibelenggu dan dikirim kepada Antonius, yg menjatuhinya hukuman mati. Herodes mencoba mengukuhkan kedudukannya di mata orang Yahudi dengan mengawini Mariamne, seorang putri Hasmonaean, tapi perkawinan ini bahkan menambah kesulitan bukan mengurangi.

Kedudukan Herodes sangat gawat dalam 6 thn pertama pemerintahannya. Biarpun Antonius adalah teman dan pelindung Herodes, tapi Kleopatra bertekad memasukkan Yehuda ke dalam kerajaannya, seperti diperbuat oleh nenek moyangnya, orang Ptolemeus. Untuk tujuan itu ia berusaha mempengaruhi Antonius. Tergulingnya Antonius dan Kleopatra thn 31 sM, dan dikukuhkannya kedudukan Herodes dalam kerajaannya oleh sang penakluk, Agustus, mendampakkan beberapa keringanan dalam hal urusan luar negeri, tapi dia tidak memiliki kedamaian dalam negeri baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dalam hubungannya dengan bangsa Yahudi. Namun dia memerintah Yehuda dengan tangan besi, dengan melayani kepentingan-kepentingan Roma lebih baik dibandingkan gubernur Romawi mana pun juga. (Mengenai rincian pemerintahannya selanjutnya, *HERODES, 1.)

Sesudah Herodes meninggal thn 4 sM, kerajaannya dibagi oleh ketiga anaknya yg masih hidup. Arkhelaus memerintah Yehuda dan Samaria sebagai wali negeri sampai thn 6 M; Antipas memerintah Galilea dan Perea sebagai raja wilayah sampai thn 39 M; Filipus menerima daerah timur dan timur laut dari Tasik Galilea, yg ditenteramkan ayahnya untuk kepentingan Kaisar, dan memerintah sebagai raja wilayah sampai kematiannya thn 34 M (*HERODES, 2,3; *FILIPUS, 2).

Antipas mewarisi kecerdasan politik ayahnya, dan meneruskan tugas memajukan kepentingan Romawi di wilayahnya dan sekitarnya. Tapi Arkhelaus mewarisi kebengisan ayahnya tanpa kecerdasan. Segera warganya bangkit menentang dia, yg mencapai puncaknya ketika mereka memohon supaya kaisar Romawi menggesernya guna menghindari timbulnya pemberontakan. Sesuai permohonan itu Arkhelaus dipecat dan diasingkan. Wilayahnya diatur kembali sebagai satu propinsi Romawi tingkat tiga. Dan guna pengaturan upeti tahunan kepada bendahara kekaisaran, maka gubernur Siria, Kirenius, mengadakan sensus di Yehuda dan Samaria. Sensus ini menyulut pemberontakan Yudas dari Galilea. Pemberontakan itu dipatahkan, namun cita-citanya tetap hidup dalam kelompok orang Zelot, yg menyatakan bahwa membayar upeti kepada Kaisar atau kepada pemerintah kafir mana pun, adalah merupakan pengkhianatan terhadap Allah Israel.

Sesudah sensus, Yudea (propinsi Yehuda dan Samaria diperintah oleh seorang wali negeri Romawi sebagai gubernur. Wali negeri ini ditunjuk oleh kaisar dan tunduk pada pengawasan umum para gubernur Siria. Para wali negeri terdahulu menerapkan hak menghunjuk imam besar Israel — suatu hak yg, sejak akhir keluarga Hasmonaean, telah diterapkan oleh Herodes dan Arkhelaus. Para wali negeri menjual jabatan kudus itu kepada penawar tertinggi, dan harkat spiritualnya menjadi sangat rendah. Berdasarkan jabatannya, imam besar mengetuai Sanhedrin (Mahkamah Agung) yg mengurus soal-soal intern bangsa itu.

Dari para wali negeri terdahulu, satu-satunya yg terkenal ialah Pontius Pilatus. Sifatnya yg kasar dan keras kepala dicatat dalam halaman-halaman buku Yosefus dan Filo — tanpa menyebut peranannya dalam PB. Bahwa ia membangun saluran air yg baru guna memperbaiki penyediaan air untuk Yerusalem dan Bait Suci, menandakan keuntungan-keuntungan pemerintah Romawi; bahwa ia meremehkan keberatan-keberatan religius orang Yahudi dengan berkeras membiayai pembangunan saluran air itu dengan dana Bait Suci, menunjukkan segi pemerintahan Romawi yg bertanggung jawab atas pemberontakan thn 66 M; artinya, kekebalan tanggung jawab gubernur atas perasaan lokal.

Dalam kurun waktu yg singkat antara thn 41 dan 44 Yudea menikmati kelegaan administrasi dari wali Romawi. Kepada Herodes Agripa I, cucu dari Herodes Agung dan Mariamne, Kaisar Gayus memberikan bekas wilayah Filistin thn 37 M, lalu memperluasnya dengan penambahan Galilea dan Perea thn 39, setelah Antipas dipecat dan dibuang. Kemudian ia menerima Yudea dan Samaria sebagai tambahan bagi kerajaannya dari Kaisar Klaudius thn 41 M (*HERODES, 4). Karena dia adalah keturunan Hasmonaean (melalui Mariamne) dia cukup disenangi kalangan Yahudi. Tapi sesudah kematiannya thn 44 M, dlm usia 54 thn, propinsi Yudea (sekarang di dalamnya termasuk baik Galilea maupun Samaria) kembali kepada pemerintahan para wali negeri sebab anak Agripa, Agripa Muda (*HERODES, 5), terlalu muda untuk menerima tanggung jawab kerajaan ayahnya. Tapi kelonggaran diberikan memenuhi keinginan Yahudi, yakni: hak istimewa menunjuk imam besar, yg diwarisi Agripa dari pada wali negeri yg mendahuluinya, tidak kembali kepada para wali negeri yg menggantinya, melainkan diberikan pertama kepada saudaranya, Herodes dari Khalkis, dan sesudah kematian Herodes thn 48 sM, diberikan kepada Agripa Muda.

IX. Akhir negara Yahudi II

Kira-kira selama 20 thn sesudah kematian Herodes Agripa I, kesulitan beruntun dan lebih parah menimpa Yudea. Rakyat umumnya jengkel akibat kehadiran wali negeri asing yg menggantikan pemerintahan mereka yg singkat di bawah seorang raja Yahudi; dan para wali negeri itu sendiri tidak berusaha meredakan ketidakpuasan warganya, orang Yahudi. Pemberontakan timbul beruntun oleh hasutan mesias-mesias palsu, seperti Teudas yg dibunuh oleh pasukan berkuda yg dikerahkan oleh wali negeri Fadus (44-46 M), atau pemberontakan oleh para pemimpin Zelot, seperti Yakobus dan Simon (keduanya anak Yudas dari Galilea), yg disalibkan oleh wali negeri berikutnya, yaitu Tiberius Yulius Aleksander (46-48 M). Aleksander adalah Yahudi murtad, keturunan dari suatu keluarga Yahudi terkenal di Aleksandria, sama sekali tidak mau mengambil hati orang Yahudi.

Pada masa wali negeri Fadus dan Aleksander, Yudea ditimpa bala kelaparan seperti disebut dalam Kis 11:28. Yosefus memberitakan, bagaimana Helena, ibu suri ratu Adiabene, di timur Tigris, membeli gandum di Mesir dan buah ara di Siprus pada waktu itu untuk membantu rakyat Yahudi yg dilanda kelaparan. Keluarga ratu dari Adiabene itu adalah pemeluk agama Yahudi terkemuka pada waktu itu; beberapa orang dari mereka berjuang di pihak Yahudi dalam perang melawan Roma, yg pecah pada thn 66 M.

Di bawah pemerintahan wali negeri *Feliks, ketidakpuasan bertambah di Yehuda. Dengan segala daya Feliks membersihkan propinsi itu dari gerombolan-gerombolan pengacau. Tindakan-tindakannya yg penuh kekerasan memang disertai keberhasilan sementara. Tapi hal itu sangat menjengkelkan hati sejumlah besar penduduk, sebab di mata mereka para pemberontak itu bukanlah penjahat kriminal, melainkan pahlawan.

Tahun-tahun terakhir pemerintahan Feliks dijejali kerusuhan sengit antara penduduk non-Yahudi dan Yahudi di Kaisarea, yg timbul akibat pertengkaran mengenai hak-hak istimewa kewarganegaraan. Feliks menyuruh pemimpin kedua partai itu ke Roma, agar persoalan mereka diputuskan oleh kaisar. Tapi Feliks ditarik kembali dan diganti oleh Festus (59 M). Pertengkaran Kaisarea diputuskan dengan memenangkan pihak non-Yahudi. Dendam Yahudi atas keputusan itu, yg dibakar oleh tindakan kekerasan non-Yahudi karena kemenangan mereka, adalah salah satu unsur penyulut timbulnya huru-hara thn 66 M.

Dari satu sisi Festus adalah gubernur yg adil dan lembut. Tapi thn 62 M sewaktu masih memangku jabatannya ia meninggal. Kedua penggantinya, Albinus dan Florus, melalui tindakan mereka yg sangat menyakiti perasaan nasional Yahudi dan agama Yahudi, memacu timbulnya ekstrimis anti-Roma. Puncak tindak kebrutalan pemimpin Roma itu, ialah perampasan 17 talenta dari perbendaharaan Bait Suci, tindakan yg melanggar kesucian dan kedaulatan Bait Suci. Hal ini menimbulkan kerusuhan yg dipadamkan oleh pasukan Roma dengan menelan banyak korban. Golongan moderat bangsa itu, dibantu oleh Agripa Muda, menasihatkan supaya pihak Yahudi menekan perasaan, tapi rakyat tidak peduli. Hubungan antara benteng Antonia dan halaman Bait Suci di putus, dan pemimpin Bait Suci yg juga adalah pemimpin partai perang di Yerusalem, secara formal melepaskan otoritas kaisar dengan menghentikan upacara penyerahan korban harian untuk keselamatan kaisar.

Florus sekarang tidak mampu menguasai keadaan. Campur tangan Cestius Gallus, gubernur Siria, dengan mengerahkan pasukan tangguh memperkuat pasukan Florus, ternyata tidak berkutik. Gallus terpaksa mundur dan pasukannya menderita kerugian besar sewaktu mundur melalui jurang di Bet-Horon (Nopember 66 M).

Keberhasilan ini, yg begitu mencolok bagi orang Yahudi pemberontak itu, merasuki mereka dengan optimisme palsu. Kesimpulan para ekstrimis itu nampaknya mutlak: Roma tidak mampu mempertahankan diri terhadap mereka. Seluruh Palestina berada dalam keadaan perang.

Tapi Vespasianus, yg dipercayakan menumpas pemberontakan itu, memulai tugasnya secara metodik. Thn 67 dia membasmi pemberontakan di Galilea. Tapi beberapa dari pemimpin pemberontak Galilea itu lari ke Yerusalem. Kedatangan mereka di Yerusalem menambah percekcokan intern, yg menyiksa kota itu selama thn-thn dan bulan-bulan terakhir. Pada musim panas thn 68 Vespasianus menuju Yerusalem. Sementara dalam perjalanan, kabar tiba mengatakan bahwa Nero telah turun takhta dan meninggal di Roma. Perang saudara yg terjadi di pusat kekaisaran itu meneguhkan hati pembela-pembela Yerusalem dengan pengharapan baru; dari sudut pandang mereka Roma dan kekaisaran sedang berada di ambang kehancuran dan kerajaan kelima Daniel akan didirikan di atas puing-puingnya.

Dari Kaisarea, Vespasianus mengamati perkembangan di Roma. Pada 1 Juli 69 M, dia diumumkan sebagai kaisar di Aleksandria oleh gubernur Mesir (orang Yahudi murtad yg sama, yaitu Aleksander, yg dulunya adalah wali negeri Yudea); pengumuman di Aleksandria segera diikuti di Kaisarea dan Antiokhia dan oleh pasukan tentara di kebanyakan propinsi wilayah timur. Vespasianus kembali ke Roma untuk menduduki takhta kekaisaran, meninggalkan anaknya, Titus, untuk menyelesaikan penindasan pemberontakan di Yudea. Menjelang akhir thn 69 M seluruh Yudea ditaklukkan, kecuali Yerusalem dan 3 benteng yg menghadap ke Laut Mati.

Yerusalem dikepung pada musim semi thn 70 M. Pada bulan Mei setengah dari kota itu telah dikuasai oleh pasukan Roma, tapi para pembelanya menolak menerima syarat-syarat penyerahan. Pada 24 Juli benteng Antonia diserbu; dua belas hari kemudian kebaktian penyerahan persembahan korban harian di Bait Suci dihentikan, dan pada 29 Agustus tempat suci itu dibakar dan musnah. Empat minggu kemudian seluruh Yerusalem jatuh ke tangan Titus. Kota itu diratakan dengan tanah, kecuali sebagian dari tembok barat, dengan 3 menara dari istana Herodes di tembok itu, yg dijadikan markas besar untuk pasukan (garnisun) Romawi. Pusat pemberontakan terakhir yg harus ditindas adalah benteng Masada yg hampir tidak terkalahkan di bagian barat daya Laut Mati, di mana suatu kekuatan Zelot bertahan sampai musim semi thn 73 M dan kemudian melakukan bunuh diri masal, melulu menghindari tertangkap hidup-hidup.

Yudea ditata kembali sebagai suatu propinsi di bawah duta kaisar Romawi, langsung bertanggung jawab kepada kaisar dan sekali-kali tidak dibawahi oleh duta Romawi di Siria. Berbeda dari para wali negeri, duta-duta Romawi di Yudea mempunyai beberapa pasukan tentara di bawah pimpinan mereka. Pajak Bait Suci, yg selama ini dibayar oleh orang Yahudi di seluruh dunia untuk pemeliharaan Bait Suci Yerusalem, terus diberlakukan, tapi sekarang dialihkan untuk pemeliharaan kuil Yupiter di bukit Kapitoline di Roma.

Hirarki Bait Suci Sanhedrin seperti diatur dahulu telah lenyap. Maka kekuasaan dalam dan terutama di tengah-tengah bangsa Yahudi, diserahkan kepada suatu Sanhedrin yg baru terdiri dari para Rabi, yg untuk pertama kalinya dipimpin oleh Yohanan bin Zakai, guru dari Sekolah Hillel. Lembaga keagamaan ini menjalankan pengawasannya melalui rumah-rumah ibadat, dan mulai membentuk suatu badan untuk menyusun hukum lisan tradisional ke dalam bentuk tertulis dalam Misnah menjelang akhir abad 2 M. Adalah kebijaksanaan Yohanan bin Zakai dan rekan sekerjanya, sehingga identitas nasional dan agama Israel dapat hidup terus sesudah Bait Suci dan negara ke-2 Yahudi runtuh pada thn 70 M. *TALMUD DAN MIDRASY; *YEHUDA; *YUDEA; *ARKEOLOGI; *KORBAN; *TAURAT; dan artikel tentang raja-raja dan tempat-tempat.

KEPUSTAKAAN: M Noth, The History of Israel’, 1960; J Bright, A History of Israel’, 1972; E. L Ehrlich, A Concise History of Israel, 1962; F. F Bruce, Israel and the Nations, 1963; R de Vaux, Ancient Israel’, 1965; The Early History of Israel, 2 jld, 1977; S Herrmann, A History of Israel in OT Times, 1975; J. H Hayes dan J. M Miller (red), Israelite and Judaean History, 1977. FFB/AL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *