Arti dari it’s okay not to be okay

Saat kita dalam kondisi sulit dan merasa di titik terendah, kita terkadang ingin dapat mencurahkan perasaan kita kepada sahabat atau orang-orang terdekat kita dan mengharapkan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Seringkali dari teman-teman, kita mendapatkan kata-kata penyemangat yang dimaksudkan sebagai bentuk dukungan agar kita tetap dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

 Namun kadang-kadang penyemangat yang terlalu berlebihan malah berbalik menjadi sesuatu yang membuat kita semakin terpuruk. Kondisi inilah yang dikenal sebagai toxic positivity. Hal ini jika dibiarkan akan menjadi racun yang berbahaya bagi kesehatan mental kita.

Mengapa demikian? Pada dasarnya emosi negatif dihasilkan oleh otak untuk memperingatkan adanya bahaya. Namun apabila selalu diabaikan, emosi negatif tersebut akan menumpuk dan terus menumpuk, sehingga akhirnya kita jadi tidak dapat menilai realita secara berimbang dan kurang antisipatif karena menganggap semua masalah akan berlalu dengan sendirinya. Padahal tidak semua masalah dapat terselesaikan hanya dengan kata-kata inspiratif. Contohnya saat kita harus menghadapi kehilangan seseorang yang kita sayangi atau kita sedang mengalami sakit berat.

Kita terpancing untuk menutupi perasaan kita yang sebenarnya dan mengemukakan fake happiness atau kebahagiaan palsu untuk menutupinya. Kemudian kita jadi merasa bersalah pada diri sendiri bahwa kita memiliki emosi negatif dan berusaha keras menghilangkan emosi yang ada.

 Kecenderungan menutupi perasaan yang sebenarnya, entah karena malu atau tidak mau dianggap sebagai orang lemah, membuat kita menjadi kurang reaktif dalam merespons tingkat stress dalam diri.

Kadang-kadang ada saatnya kita membutuhkan sebuah pengesahan bahwa rasa terpuruk yang kita rasakan adalah manusiawi dan wajar. Bahwa bahagia dan sedih adalah sebuah siklus kehidupan yang memang terjadi sewajarnya. Bahwa ada saatnya kita dapat berkata it’s ok not to be ok.

Catatan Pengingat Diri

Tanjung ‘Tije’ Sari

Lihat Konten Diary Selengkapnya

Lihat Diary Selengkapnya

Video Pilihan

Webinar INSIGHT- It’s Okay not To Be Okay, Dealing with Anxiety & Overthinking

13 Agustus 2022, 10:00 – 12.00

place

Zoom, anywhere

INSIGHT (Insirasi Gaya Hidup Berintegritas) adalah program webinar series yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mengimplementasikan perilaku Antikorupsi di lingkungan masyarakat.

Pernah mengalami cemas atau gelisah sampai mikir berlebihan? Ternyata, di era serba media sosial, generasi muda jadi rentan loh dengan kondisi seperti ini. Gak jarang kondisi tadi dirasakan setelah melihat ada yang pamer pencapaiannya di media sosial. Eits, hal ini ternyata bisa mengganggu kesehatan mental #KawanAksi, lho! #KawanAksi udah tau belum gimana mengatasinya? Jangan malah ikutan pamer yaa, karna itu perilaku koruptif.Yuk, cari tahu tips mengatasi kecemasan dan overthinking di webinar:

It’s Okay Not To Be Okay: “Dealing with Anxiety & Overthinking”

Hari : Sabtu, 13 Agustus 2022

Jam : 10.00-12.00 WIB

1. Amir Arief (Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi

2. Rany Moran (Certified Life Coach and Trained Counsellor))

*Host: Darenth Tanaya

Yuk, segera registrasi dan ikutan webinar ini!

#INSIGHT #LawanKorupsi #BerawaldariKita

Jakarta, CNN Indonesia

Seperti judulnya, drama Korea bertajuk It’s Okay to Not Be Okay membawa pesan penting untuk bisa lebih menerima diri sendiri.

Secara garis besar, drama yang dibintangi Kim Soo-hyun dan Seo Ye-ji ini masih mengangkat cerita cinta seperti kebanyakan drama Korea.

Namun, isu kesehatan mental yang juga menjadi tema besar dalam drama ini menjadi nilai lebih It’s Okay to Not Be Okay sehingga terasa lebih menarik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Drama yang disutradarai Park Shin-woo ini menceritakan romansa antara Moon Kang-tae (diperankan Kim Soo-hyun) dan Ko Moon-young (Seo Ye-ji).

Moon Kang-tae merupakan pekerja di bangsal psikiatris yang tak percaya pada cinta. Ko Moon-young merupakan seorang penulis buku cerita anak-anak berkepribadian anti-sosial, sangat egois, dan sombong.

Meski plot drama ini bercerita tentang dua karakter tersebut, tapi ada satu peran lain yang tak kalah penting, yakni kakak laki-laki Kang-tae yang mengidap autisme, Moon Sang-tae (Oh Jung-se).

Keseluruhan drama ini bergerak di sekitar kehidupan ketiga tokoh tersebut. Mereka saling mengisi, menemukan penghiburan satu sama lain, dan menyembuhkan luka psikologis serta emosional.

Kisah dibuka dengan animasi tentang gadis kecil yang hidup terkungkung dalam kastel terkutuk di tengah hutan. Dia dijauhi oleh teman-temannya dan disebut sebagai monster.

Hingga suatu hari, hidupnya terasa berwarna ketika bertemu bocah laki-laki yang mengikuti kemana pun ia pergi. Namun tak lama, bocah itu kemudian lari ketika melihat hal mengerikan yang ia lakukan. Hidupnya pun kembali kelam.

Cuplikan animasi ini menjadi pembuka menarik dan memiliki ikatan yang cukup erat dengan garis besar cerita.

It's Okay to Not Be OkayTiga karakter utama It’s Okay to Not Be Okay. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Tiga karakter utama It’s Okay to Not Be Okay. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Pada beberapa episode awal, drama ini mulai menceritakan latar kehidupan masing-masing karakter. Intensitas drama ini cukup naik turun saat perlahan mengungkap bagian masa lalu tiap karakter utama serta ikatan mereka.

Alur maju mundur ini pun cukup sukses membuat penasaran, tapi di sisi lain aura kelam dari cuplikan di masa lalu membuat drama terasa horor pada beberapa bagian.

Suasana tersebut paling terasa ketika menceritakan masa lalu hidup Ko Moon-young yang masih menjadi bayang-bayang trauma kehidupannya masa ini.

Yang patut diapresiasi dari cerita hasil garapan Jo-yong adalah proses perkembangan para karakter utama juga pendukungnya. Ia dapat menggambarkan betapa masa lalu membentuk karakter para pemeran utama hingga akhirnya menerima diri juga keadaan.

Moon Kang-tae yang semula menutupi yang ia rasakan dan berlagak kuat serta bisa mengatasi semua masalah, pada akhirnya mulai menerima dan membuka diri.

Kang-tae perlahan sadar bahwa ia juga butuh hidup untuk kebahagiaan dirinya sendiri setelah selama beberapa waktu mengorbankan segalanya demi sang kakak.

Seperti kata Nam Joo-ri, kawan lama Moon Kang-tae, “Jika kau ingin membuat sekelilingmu bahagia, kau perlu mencari kebahagiaanmu sendiri. Menjadi egois tidak selalu buruk.”

It's Okay to Not Be Okaydok. tvN via HancinemaMoon Kang-tae. (Dok. tvN via Hancinema)

Moon Kang-tae. (Dok. tvN via Hancinema)

Lalu ada Ko Moon-young. Di awal, karakter ini beberapa kali cukup membuat dahi mengernyit karena berlaku semaunya, dan tak peduli pada kekacauan yang ia buat.

Namun, pertemuannya dengan dua Moon bersaudara membuat ia perlahan belajar memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Di sini, eksplorasi karakter Ko Moon-young juga mendalam karena dapat menangkap bagaimana masa lalu dan trauma membentuk dirinya kini. Di balik itu, ia pun sebenarnya cukup rentan dan kesepian. Yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang dan perhatian.

Aspek lain yang menarik perhatian dari It’s Okay to Not Be Okay adalah dinamika karakter kakak beradik Sang-tae dan Kang-tae.

Sang-tae merasa sudah membuka diri kepada sang adik, tapi ternyata tak demikian. Sementara itu, Kang-tae juga terlihat sangat mengenal kakaknya, ternyata juga tak seperti itu.

Diam-diam, Sang-tae masih menyimpan misteri dan belajar untuk menjadi kakak sepenuhnya yang bisa diandalkan bagi Kang-tae.

It's Okay to Not Be OkayMoon Sang-tae. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Moon Sang-tae. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Gambaran ini terlihat ketika di episode awal, Kang-tae aktif memastikan kondisi kakaknya ketika ia sedang bekerja. Ia selalu menjadi yang pertama untuk menelepon sang kakak untuk memastikan berbagai hal, mulai dari makan atau kegiatannya sehari-hari lainnya.

Pada satu titik, Sang-tae pun melakukan hal sebaliknya. Ia memberi perhatian sama, sebuah tindakan kecil yang terasa mengharukan.

Lebih jauh, chemistry di antara ketiga pemain pun cukup baik. Mereka dapat menggambarkan persahabatan ketiga karakter. Meski kerap terganjal masalah dan pertengkaran, tapi mereka tetap seperti keluarga yang sebenarnya saling membutuhkan.

Terlepas dari hidup ketiga tokoh itu, cerita It’s Okay to Not Be Okay ini juga berbicara soal menggapai mimpi dan tujuan, dan betapa orang butuh waktu untuk pulih dari trauma masa lalu dan melanjutkan hidup.

[Gambas:Youtube]

Drama ini juga mengangkat bahwa memaafkan dan mengakui kesalahan pun menjadi hal penting untuk melepas beban pada diri sendiri. Selain itu, ada pula pelajaran untuk melatih diri mengendalikan emosi.

Bisa dikatakan, drama ini memuat banyak pesan hidup yang bisa dipetik tanpa kesan menggurui. Menyaksikan drama ini sampai akhir layaknya menjadi seorang pasien yang baru disembuhkan.

Ada rasa haru serta lega setelah menyaksikan segala penderitaan yang dihadapi para tokoh utama berakhir bahagia, dan mulai mewujudkan mimpi mereka satu per satu. Bak drama Korea pada umumnya, kisah ini juga menyuguhkan adegan-adegan manis nan menggemaskan.

Seperti judulnya, film ini membawa pesan bahwa tidak apa-apa memiliki kekurangan. Tidak apa-apa merasa rentan. Tidak apa-apa untuk bersedih.

Ketika merasa lelah, istirahatlah. Ketika  bersedih, menangislah. Tidak apa-apa untuk rehat sejenak.Direktur Rumah Sakit Jiwa OK, Oh Ji-wang.

Mengutip kata Oh Ji-wang, Direktur Rumah Sakit Jiwa OK, “Ketika merasa lelah, istirahatlah. Ketika  bersedih, menangislah. Tidak apa-apa untuk rehat sejenak.”

Selain ketiga tokoh utama, para aktor dan aktris pendukung di drama ini memiliki porsi yang pas dan karakter cukup kuat, seperti Nam Joo-ri, Kang Soon-duk, Oh Ji-wang, Yoo Seung-jae, Lee Sang-in, serta Jo Jae-soo. Kameo di drama ini pun muncul tak sekadar selewat saja.

Ambil contoh karakter Kwon Gi-do (Kwak Dong-yeon). Di akhir drama, ia kembali dan nasibnya selepas keluar dari rumah sakit pun terungkap. Begitu juga dengan pasangan Joo Jung-tae dan Lee A-reum. Semuanya menemukan akhir yang manis.

Poin menarik lainnya dari drama ini yakni gaya busana serta penampilan Ko Moon-young yang memukau. Meski pada beberapa bagian terlihat tak masuk akal untuk mengenakan gaun untuk tidur, tapi tim tata busana tetap layak untuk diacungi jempol.

Lagu tema dalam drama ini juga cukup baik dan sesuai sebagai pendukung adegan dalam drama. Tak terkecuali lagu utama drama, In Silence, yang dinyanyikan Janett Suhh. Lagu tersebut cukup mewakili latar cerita tentang rasa kesepian.

Meski demikian, ada beberapa hal yang kurang tereksplorasi dari drama ini, khususnya latar belakang ceria ibu Ko Moon-young.

Namun secara keseluruhan, drama It’s Okay to Not Be Okay menjadi salah satu tontonan menarik bagi para pencinta drama Korea.

(has/has)

Pelajaran Hidup yang Dapat dipetik dari Drama korea it’s okay to not be okay

Selama masa pandemi ini, banyak aktivitas yang kita lakukan di dalam rumah. salah satunya menonton drama korea untuk mengisi waktu luang. Bagi pecinta drama korea pasti sudah tidak asing lagi dengan drama It’s Okay To Not Be Okay, drama yang selalu menjadi trending topic di media sosial setiap penayangan episode nya. Di antara banyaknya scene ikonic, drama ini selalu menyelipkan pelajaran hidup di setiap episode nya.

Dalam sinopsisnya, drama yang dirilis tvN ini mengisahkan tentang penulis buku cerita anak yang memiliki gangguan kepribadian Antisosial bernama Ko Mun Yeong yang diperankan oleh Aktris Seo Ye ji. Moon Gang Tae, seorang perawat kejiawaan di salah satu bangsal psiaktris rumah sakit jiwa yang diperankan oleh Aktor Kim Soo Hyun. Dan, Moon Sang Tae kakak laki-laki Moon Gang Tae yang menderita spektrum autisme sejak lahir. Dalam drama ini menceritakan bagaimana setiap karakter pulih dari luka masa lalu. 

Terlepas dari berbagai adegan romantis yang tidak biasa antara Ko Mun Yeong dan Moon Gang Tae, drama ini memiliki banyak pelajaran hidup yang sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan pesan-pesan untuk orang yang sedang berjuang untuk sembuh dari luka nya. Human Healing Drama kalimat itulah yang di lontarkan Aktor Kim Soo Hyun untuk mendeskripsikan drama It’s Okay To Not Be Okay. Berikut beberapa pelajaran hidup yang dapat diambil dari drama It’s Okay To Not Be Okay. 

1. Terimalah Kenyataan,maka kau akan bahagia?

    Seperti kalimat yang diucapkan oleh Ko Mun Yeong dalam drama It’s Okay To Not Be Okay ‘Jangan hanya melihat bintang di langit                yang indah, tetapi lihat juga kaki yang terjebak di selokan! itulah realitasmu’. ‘Setelah kalian menyadari dan menerima kenyataan itu,              kalian akan bahagia, bahagia sekali ‘ makna nya kita semua harus menerima kenyataan dengan besar hati “inilah diriku, dan itulah                dirimu” hanya perlu menerima.

2.  Hadapi Ketakutanmu

     ’Jangan lupakan itu semua (masalah). Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi kau hanya selalu menjadi abak kecil dengan jiwa yang             tak bertumbuh’. Baik Mun Yeong maupun Gang Tae, keduanya memiliki kesamaan, yakni lari dari rasa takut. Padahal, keputusan itu             akan membuat masalah semaklin rumit. Tetapi seiring berjalannya waktu mereka bersama-sama mencoba untuk sembuh dan                       menghadapi ketakutan mereka.

3.  Kendalikan Emosi

     Dalam drama ini, diselipkan sebuah metode untuk pengendalian emosi yaitu metode pelukan kupu-kupu. Serta cobalah berhitung dari           angka satu sampai tiga sebelum bertindak impulsif. Itu beberapa cara untuk mengontrol diri.

4.  Perjuangkan Kebahagiaan kamu

     It’s Okay To Not Be Okay mengajarkan kita untuk memperjuangkan kebahagiaan, keadaan yang tidak terduga bisa saja mempengaruhi         kebahagiaan kita, tetapi jangan biarkan orang lain atau peristiwa apapun mengambil kebahagiaan kita. tidak apa sedikit egois untuk               kebahagiaan kita. Karena setiap orang berhak untuk merasa bahagia.

5.  It’s Okay To Not Be Okay

     Setiap orang pasti pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, tetapi seperti judul drama ini, kondisi itu bisa dimaklumi. Mengakui           bahwa kita sedih, terluka dan butuh bantuan adalah langkah pertama untuk pemulihan diri.

6.  Cobalah Untuk Lebih Pengertian

     Terkadang kita sangat mudah untuk menilai orang lain dari kesan pertama, padahal banyak sekali hal yang kita tidak ketahui tentang             mereka. Drama ini menyadarkan kita bahwa setiap orang memiliki perjuangan hidupnya masing-masing yang mungkin saja berpengaruh       pada perilaku mereka yang kita pikir gak masuk akal.

7.  Tidak Ada Yang Salah Jika Berbeda Dari Orang Lain

     ‘Tidak apa-apa menjadi berbeda’. seperti yang diutarkan Gang Tae, Menjadi sosok yang berbeda, tidaklah salah. Justru unik, merupakan       suatu kelebihan yang patut dibanggakan dan hanya perlu menerima dan bersyukur.

8.  Ingatlah, Dirimu Seutuhnya Adalah Milikmu 

     Diriku adalah milikku, dirimu adalah milikkmu lakukan apapun yang kau mau. Kita semua memiliki kehidupan masing-masing, tak                   masalah untuk menikmati kehidupanmu.

itu dia beberapa pelajaran hidup yang dapat diambil dari drama It’s Okay To Not Be Okay. Tidak apa untuk tidak baik baik saja, kita adalah manusia dengan segala masalahnya. Sebagai manusia yang punya emosi, merangkul semua luapannya dinilai sangat penting.Dengan tak menolak keadaan, Anda akan menemukan cara untuk perlahan pulih dari luka atau kejadian traumatis. Dengan menerima, kita membuka pintu untuk menjadi versi diri yang lebih baik.

https://www.youtube.com/watch?v=

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *