Apa yang dimaksud dengan takwa

Maksud TAQWA (تقوى‎) adalah sikap yang mempercayai dan meyakini adanya Allah SWT yang terwujud dengan cara menjauhkan diri dari semua larangan-Nya dan mematuhi semua perintah-Nya. Sebutan untuk orang-orang yang bertakwa adalah AL-MUTTAQIN.

Pembahasan

Menurut IBNU ABBAS, apa yang dimaksud dengan takwa sesungguhnya adalah sikap meyakini Allah SWT dengan cara menjauhaknd iri dari syirik dan senantiasa patuh akan semua perintah Allah SWT.

Sementara menurut Ubay Bin Ka’ab, yang dimaksud dengan takwa adalah melindungi diri dari dosa dalam perjalanan hidup manusia di dunia.

Kata TAKWA ini disebutkan sebanyak 259 kali di dalam kitab suci Al-Quran. Al-Quran secara harfiah mengartikan takwa dalam beragam konteks seperti menghindari, memelihara, menjauhi, menyembunyikan, menutupi dan lain sebagainya.

Adapun secara peristilahan, pengertian Al-Quran mengenai takwa adalah sebagai berikut:

  1. Takut terhadap Allah SWT
  2. Taat serta beribadah kepada Allah SWT
  3. Pembersihan hati dari noda-noda pun dosa.

Pelajari Lebih Lanjut:

  • Materi tentang pengertian takwa brainly.co.id/tugas/8334356
  • Materi tentang contoh takwa brainly.co.id/tugas/2906517

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Detil Jawaban

Kode           : 5.14.9

Kelas          : 5 SD

Mapel         : Pendidikan Agama Islam

Bab             : Bab 9 – Perilaku Terpuji

Kata Kunci : Takwa, Muttaqin, Meyakini, Takut, Allah SWT

Jakarta

Takwa adalah istilah yang sering disebut dalam hal ibadah. Orang yang bertakwa akan mendapat banyak kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.

Perintah takwa termaktub dalam QS. Al Maidah ayat 35 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 35)

Ustadz Hanan Attaki dalam detikKultum detikcom (26/4/2020) mengatakan, takwa adalah sami’na wa’atho’na yakni menjadi orang yang lebih taat kepada Allah SWT. Takwa dapat dilakukan dengan cara menggali dan memahami hikmah setiap ibadah yang dilakukan.

Menurut beberapa ulama seperti Al Ghazali sebagaimana diterangkan Farid Ahmad dalam bukunya Quantum Takwa, takwa dapat didefinisikan sebagai upaya membersihkan diri dari dosa yang sebelumnya belum pernah dilakukan, sehingga lahir motivasi dalam diri untuk meninggalkannya. Dengan kata lain, takwa menjadi upaya untuk menjaga diri dari berbagai kemaksiatan.

Dalam Al Quran, takwa ditafsirkan ke dalam 3 makna. Berikut makna takwa menurut perintah-Nya dalam Al Quran:

1. Khasyyah (takut berbalut cinta) dan haibah (takut berbalut pengagungan)

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 41 dan 281 sebagai berikut:

وَإِيَّٰىَ فَٱتَّقُونِ

Artinya: “dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 41)

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ

Artinya:”dan Takutlah kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 41)

2. Taat dan beribadah

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 102 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

3. Membersihkan hati dari berbagai dosa

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 52 sebagai berikut:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

Artinya: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52).

Selain itu, dalam beberapa ayat juga telah dijelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa. Dua di antaranya sebagai berikut:

1. Orang yang beriman dan menjalankan perintah-Nya

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 2-5 sebagai berikut:

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (5)

Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Baqarah: 2-5)

2. Orang yang menafkahkan hartanya, menahan amarah, dan mamaafkan kesalahan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 133-134 sebagai berikut:

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapai derajat takwa. Orang yang dalam ibadahnya terbiasa taat (sesuai yang diperintahkan Allah), berarti ibadahnya sudah sampai pada derajat takwa. Ustadz Hanan Attaki memberikan contoh pada beberapa ibadah seperti sholat, puasa, zakat, hingga haji.

Menurutnya, orang yang mengerjakan sholat tetapi belum terbebas dari kemungkaran, berarti sholatnya orang tersebut belum mencapai derajat takwa. Derajat takwa dalam ibadah sholat adalah ketika seseorang menyegerakan untuk sholat saat panggilan adzan berkumandang.

Selain sholat, ibadah yang melatih untuk mencapai derajat takwa adalah puasa. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menahan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Orang yang taat akan menjalankan apa yang telah diatur oleh Allah, seperti makan sahur, menahan diri, dan berbuka ketika sudah waktunya.

Dilansir dari situs Kemenag Bengkulu, ada empat hal yang bisa dilakukan untuk mencapai takwa, antara lain 1) tawadhu’ atau rendah hati, 2) qona’ah atau ridho dan rela, 3) wara’ atau terhindar dari sifat ragu, dan 4) yakin.

Allah SWT terlibat dalam setiap masalah hamba-Nya yang bertakwa. Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath Thalaq ayat 3 sebagai berikut:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 3).

(nwy/nwy)

Takwa (bahasa Arab: تقوى taqwā / taqwá ) adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkannya, dan takut akan Allah.[1] Istilah ini sering ditemukan dalam Al-Qur’an, Al-Muttaqin (bahasa Arab: لِّلْمُتَّقِينَ Al-Muttaqin) yang merujuk kepada orang-orang yang bertakwa, atau dalam perkataan Ibnu Abbas, “orang-orang yang meyakini (Allah) dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintah-Nya.”[2]

Penafsiran secara agama

[

sunting

|

sunting sumber

]

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, arti dasar dari “takwa” adalah menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya.[butuh rujukan] Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai takwa. Ubay bertanya, “Pernahkah kamu berjalan di jalan yang penuh dengan duri?” Umar menjawab, “Ya.” Ubay bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan?” Umar menjawab, “Aku menggulung lengan bajuku dan berusaha (melintasinya).” Ubay berkata, “Inilah (makna) takwa, melindungi seseorang dari dosa dalam perjalanan kehidupan yang berbahaya sehingga ia mampu melewati jalan itu tanpa terkena dosa.”[3]

Perintah untuk bertakwa diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman pada Surah Ali Imran ayat 102. Dalam ayat ini, orang-orang beriman diminta untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Lalu pada Surah At-Tagabun ayat 16 disebutkan bahwa ketakwaan dilakukan sesuai dengan kesanggupan. Kemudian pada Surah Al-Ahzab ayat 70 disebutkan bahwa takwa yang benar adalah melalui ucapan yang benar. Surah Al-Ahzab ayat 70 menjadi penjelas bagi makna Surah Ali Imran ayat 102.

Ketakwaan dan keimanan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kaitan antara keduanya dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 2-3. Rangkaian ayat ini menjelaskan bahwa orang yang bertakwa merupakan orang yang beriman kepada hal yang gaib. Dalam hal ini, ketakwaan dilandasi oleh keimanan. Kedudukan takwa merupakan kedudukan tertinggi yang daapt dicapai oleh orang yang beriman. Kedudukan takwa hanya dicapai oleh orang beriman yang selalu menyucikan diri. Indikasi akan hal ini ada pada Surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat ini menjelaskan bahwa berpuasa dilakukan oleh orang-orang yang beriman agar dapat mencapai takwa. Ketakwaan diraih ketika keimanan telah maksimal, sehingga seorang yang beriman menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan dari Allah.   Dalam Islam, ketakwaan merupakan tolok ukur kemuliaan seseorang di hadapan Allah atas orang yang lainnya.

Ketakwaan kepada Allah akan memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia khususnya bagi kemudahan rezeki. Keterangan ini diperoleh dari Surah At-Talaq ayat 2-3. Selain itu, ketakwaan kepada Allah akan diberi balasan berupa karunia dari Allah dalam bentuk penghapusan dosa-dosa. Penghapusan dosa-dosa juga disebutkan pada Surah Al-Ahzab ayat 70-71.  

Kemudian pada Surah At-Talaq ayat 4 disebutkan bahwa orang yang bertakwa akan dimudahkan urusannya. Surah Al-A’raf ayat 96 juga menyebutkan bahwa orang yang bertakwa akan memperoleh kelimpahan berkah yang berasal dari langit dan Bumi. Dalam Surah Al-A’raf ayat 201 juga disebutkan bahwa ketakwaan dengan cepat akan menyadarkan seseorang akan kesalahan yang diperbuatnya. Ketakwaan juga memberikan petunjuk dan pengajaran kepada manusia. Ayat-ayat yang menyatakan hal ini adalah Surah Al-Baqarah ayat 2 dan 282, dan Surah Al-Ma’idah ayat 46. Ketakwaan juga bermanfaat dalam mencegah keburukan yang dilakukan oleh orang lain. Ayat yang menyatakan hal ini adalah Surah Ali Imran ayat 120.

Catatan kaki

[

sunting

|

sunting sumber

]

Daftar pustaka

[

sunting

|

sunting sumber

]

  • An-Nawawi (2019). Matan dan Terjemahan Lengkap Riyadhus Shalihin. Solo: Pustaka Arafah. ISBN 978-602-9024-87-6.

     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *