Apa yang dimaksud berani

Diterbitkan :

Kehidupan bermasyarakat selalu terjadi banyak hal yang tidak disangka bahkan hal yang mungkin tidak diinginkan. Banyak hal yang bersifat menekan atau memberikan tuntutan baik dari dalam diri kita sendiri maupun tuntutan yang asalnya dari luar. Semua tuntutan hidup yang ada, ada kalanya tidak mampu dilakukan dengan maksimal atau adanya kendala lain yang membatasi.

Ketika tuntutan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka tekanan lain juga bisa datang dari luar seperti kena marah dari atasan, digunjing oleh teman- teman sekitar atau lainnya. Tuntutan dari dalam diri sendiri juga bisa terjadi misalnya keinginan untuk sempurna dalam melakukan semua hal. Faktor faktor inilah yang kemudian menyebabkan stres. Maka dari itu perlu sekali bagi semua orang untuk memiliki mental yang kuat agar berani menghadapi apapun dalam hari- harinya. Berikut ini adalah cara melatih mental agar berani:

  1. Berfikirlah Positif

Selalu terapkan berfikir positif bahwa setiap tantang hidup atau cobaan selalu memiliki tujuan baik untuk diri kita masing- masing. Meskipun dampaknya secara langsung tidak dapat terlihat, namun pengalaman dari kejadian- kejadian yang dialami akan teringat dan menjadikan perbaikan pada diri untuk masa depan atau perencanaan. Berfikir negatif justru akan membuat diri secara fisik semakin lelah, kemudian pikiran penuh dan stres. Dengan pikiran pikiran negatif, maka apa yang kita lakukan juga akan takut salah sehingga tidak ada keberanian. Maka dari itu berfikirlah positif untuk melatih mental Anda mampu menghadapi tantangan dengan berani.

  1. Ingat pada Tuhan Sang Pencipta

Hal yang paling utama adalah ingat akan kekuasaan Tuhan dan selalu kembalilah pada-Nya ketika memiliki kesulitana tau tantangan hidup yang berat. Bersimpuhlah dan memohon bantuannya dan hasil akhir yang baik, bukan hanya mengeluhkan betapa beratnya hidup yang harus dijalani. Memohonlah untuk diberikan mental yang kuat, jalan keluar yang efektif, dan selesainya permasalahan dengan cepat. Mengembalikan semuanya pada Tuhan dan berserah diri juga membantu diri Anda untuk tetap berfikir positif dan percaya semuanya pasti berakhir dengan indah.

  1. Jangan terlalu khawatir terhadap anggapan orang lain

Terlalu khawatir terhadap persepsi orang lain kepada diri Anda justru akan membuat diri Anda sangat stres dan tertekan. Karena ketika pikiran itu muncul, maka anggapan yang selalua da bersifat negatif. Jika ada kekhawatiran yang terus menerus maka Anda tidak akan memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu. Maka hindari untuk selalu mencemaskan hal ini. Hiduplah secara mandiri dan berfokuslah kepada diri Anda sendiri sehingga mental Anda akan kuat.

  1. Asah terus kemampuan Diri

Membentuk mental yang kuat dan dan berani perlu diimbangi dengan kemampuan diri yang tinggi. Maka dari itu terus belajar dan mengasah kemampuan diri sehingga tingkat percaya diri akan meningkat dan mental menjadi lebih siap dalam menghadapi segala tantangan yang akan terjadi. Asah kemampuan diri bisa dilakukan dengan belajar, melatih skill, mencari informasi- informasi terkait untuk menambah wawasan, dan lain sebagainya.

  1. Percaya diri tinggi

Rasa percaya diri merupakan modal utama untuk memiliki mental yang kuat dan berani. Dengan rasa percaya diri, segala kondisi mampu dihadapi dan difiikirkan lebih matang lagi dan bukannya malah lari dari masalah. Rasa percaya diri juga mendukung pelaksanaan dan tekad yang kuat.

  1. Sering berolahraga

Olahraga secara rutin membuat otak menjadi lebih fresh dan siap menghadapi hari- hari yang berat dengan pikiran yang jernih. Olahraga juga memperlancar peredaran darah dan metabolisme tubuh. olahraga menjadikan mental lebih kuat dan lebih berani karena kondisi fisik sangat fit.

  1. Lakukan meditasi

Meditasi merupakan salah satu teknik manajemen stres dengan terapi rileksasi dan menghilangkan stres dari pikiran. Tekanan yang ada dari tempat kerja, rumah, maupun diri sendiri seringkali menyebabkan stres sehingga dengan teknik ini stres dapat berkurang. Meditasi bisa dilakukan di rumah atau di tempat lainnya yang tenang. Meditasi dilakukan dengan menenangkan diri di tempat yang tenang kemudian mengosongkan pikiran, menarik nafas dalam beberapa kali untuk rileksasi tubuh, kemudian mulai berfikir positif dan melatih fokus pikiran pada satu benda atau titik. menghilangkan segala kekhawatiran yang dirasakan.

  1. Seringlah berbagi pengalaman dengan teman

Kurangnya informasi yang Anda dapatkan tetnang lingkungan baru akan menghambat dalam beradaptasi dan menjadi takut. Untuk mempersiapkan dan melatih mental yang kuat, Anda perlu menggali banyak informasi dari teman atau kenalan Anda yang paham menganai suatu kondisi atau tempat. Sehingga Anda bisa lebih siap.

 

  1. Beraktivitas di luar ruangan

Aktivitas di luar ruangan lebih menarik dan meningkatkan kinerja. Didukung dengan udara luar dan pemandangan segar juga menyejukkan pikiran. Hal ini bisa mengurangi stres dan membuat mental lebih siap lagi dalam bekerja.

  1. Jangan membesar- besarkan hal sepele

Banyak hal terjadi di sekitar kita. Kebiasaan manusia adalah membicarakan manusia lainnya atau suatu kondisi yang menarik menurutnya kepada orang lain atau lawan bicara. Bicaralah apa adanya dan tidak membesar- besarkan cerita. Karena ketika orang lain sudah tidak mempercayai cerita Anda, maka akan berakibat pada isolasi sosial yang berpengaruh pada ketahanan mental Anda nantinya. Begitupula jika ada masalah yang terjadi di tempat kerja, jangan membesar- besarkan masalah, dan justru bantulah untuk mencari solusi efektifnya bersama- sama.

  1. Hargai diri sendiri

Kekuatan mental seseorang turun karena terlalu sering membanding- bandingkan diri dengan orang lain. Cobalah untuk lebih menghargai diri sendiri dan menganggap bahwa diri Anda juga tidak kalah dengan yang lainnya. Identifikasi kekuatan atau keahlian yang Anda miliki dan tunjukkan. Berfokuslah pada keahlian atau bakat Anda tersebut, kembangkan dan perolehlah karya karya hebat yang bermanfaat sehingga rasa percaya diri Anda akan lebih meningkat dan lebih mencintai diri sendiri.

  1. Ambil keputusan dan tanggung jawab

Mengambil tanggungjawab merupakan salah satu latihan mental. Menjadi orang yang bertanggungjawab itu tidak mudah, seseorang merasa memiliki kewajiban atau beban yang harus diselesaikannya dan menyita perhatiannya. Komitmen untuk menyelesaikan tanggungjawab inilahyang berguna dalam meningkatkan ketangguhan mental.

  1. Berani mencoba untuk mengambil resiko

Cara lain untuk menguatkan mental adalah dengan ebrani mengambil resiko. Setiap resiko yang diambil membuat diri mengalami tantangan baru sehingga mengasah diri untuk dapat berfikir dan mengerahkan kemampuan dalam menyelesaikannya.

 

  1. Lupakan masa lalu dan move on

Apabila Anda memiliki masa lalu yang tidak begitu bagus, maka lupakanlah atau buat agar Anda tidak selalu teringat padanya. Apabila terdapat pengalaman buruk di masa lalu, berfikirlah positif dan anggap hal tersebut sebagai pembelajaran, lalu lupakan dan siap memulai menghadapi banyak hal baru yang lebih menantang lagi. Dengan begitu keberanian mental Anda akan meningkat. semakin Anda tidak bisa meninggalkan masa lalu, maka masa depan juga akan terus terganggu dan tidak bisa maksimal dalam melakukan apapun.

  1. Berhenti bersikap perfeksionis

Menjadi orang yang perfeksionis mungkin terlihat sempurna dari luar, terlihat pandai, dan sebagainya. Namun menjadi orang yang perfeksionis namun tidak dapat menyeimbangkan semua elemen kehidupan seperti hubungan sosial, psikis, dengan lingkungan dan lain sebagainya akan menjadikan mental tidak tahan banting. Ketika dihadapkan pada lingkungan sosial yang berbeda- beda, tuntutan diri sendiri terhadap apa yang dilihat namun tidak sesuai dengan ekspektasi dan harapa akan memicu tekanan psikis tersendiri.

  1. Konsultasi dengan psikologis

Pada keadaan yang kronis dan sulit untuk diberikan stimulus perubahan, maka lebih baik konsultasikan pada psikologis. Ketahanan mental memang perlu dilatih, diasah dan juga merupakan proses dari pengalaman yang berlalu. Maka dari itu semakin banyak manusia mengalami pengalaman buruk maka mentalnya juga lebih kuat daripada sebaliknya. Konsultasi dengan psikologi juga membantu Anda menggali sumber dukungan paling dominan dan juga merubah pola pikir begatif menjadi positif. Namun perubahan tetap tergantung pada diri sendiri.

  1. Carilah media penguat mental misalnya dari video motivator atau media lainnya.

Beberapa orang membutuhkan sosok inspiratif yang membantu menguatkan motivasi dan mentalnya dalam menjalani hari- hari. Hal itu bisa dilakukan dengan menonton video motivasi atau tutorial tentang bagaimana menyikapi sesuatu. Media bisa digunakan sebagai perantara, atau mungkin ada yang lebih suka langsung datang ke acara- acara motivasi dan konsultasi langsung dengan pembicara yang ahli. Mental yang kuat pada dasarnya dalam perkembangannya membutuhkan panutan, tuntunan, dan dukungan. Apabila selalu berada di lingkungan orang- orang yang bermental kuat, maka akan tertular dan menjadi lebih kuat juga.

Cara Melatih mental agar berani seperti yang sudah disebutkan diatas, perlu perubahan dalam diri sendiri dan juga dukungan dari lingkungan luar. Seseorang perlu memodifikasi dirinya yang memiliki sifat perfeksionis menjadi lebih fleksibel, kemudian dukungan dari luar adalah berkumpul dengan orang- orang yang bermental kuat, sering berbagi pengalaman masa lalu tentang bagaimana mereka meghadapi kesulitan hidup dan lainnya. Mental yang kuat artinya mampu menerima tekanan dari dalam diri maupun tekanan yang berasal dari luar. Mental yang kuat mampu mengelola diri sendiri dari berbagai macam stres dan menstabilkannya kembali.

Ketika seseorang memiliki mental yang kuat, maka juga akan memiliki keberanian untuk berbicara di depan umum, mengambil resiko, bertanggung jawab akan suatu hal. Mental yang kuat dan keberanian dalam bersikap sangat dibutuhkan dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat karena disalah tempat datangnya berbagai tekanan dan tuntutan hidup demi penyesuaian diri agar diterima dengan baik dalam lingkungan.

Sumber : https://dosenpsikologi.com/cara-melatih-mental-agar-berani

KEJUJURAN.

Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan.

Tersebab sudah lama sekali, kami lupa. Dimana dan kapan kami membaca kata mutiara itu.

Tapi kami masih ingat. Pesan bernas itu ditulis di pintu bak sebuah prahoto.

Setiap huruf penyusunnya, ditulis dengan warna putih. Terang, bersih dan suci.

Sebelum itu, kami pernah beberapa kali membaca kalimat tersebut di tempat berbeda. Di beberapa tulisan.

Jadi kami tahu, itu bukan rangkaian kata pengemudi dan/atau pemilik truk tersebut. Itu kata mutiara kepunyaan Thomas Jefferson.

Thomas Jefferson adalah presiden ketiga Amerika Serikat. Masa jabatan dari tahun 1801 hingga 1809.

Thomas Jefferson juga seorang filsuf. Pencetus Deklarasi Kemerdekaan dan ‘Bapak Pendiri Amerika Serikat’.

“Honesty is the first chapter in the book of wisdom”, itulah kalimat aslinya yang ditulisnya.

Melalui kata mutiara ini, Thomas Jefferson menekankan pentingnya kejujuran.

Bahkan, menurutnya, kejujuran adalah hal pertama yang dibutuhkan untuk menjadi seseorang yang bijaksana.

Dia mengumpamakan kejujuran sebagai “the first chapter” atau “bab pertama.”

Bagi yang seakidah, tentu tahu betul jika Islam mengajarkan kepada seluruh pengikutnya untuk selalu jujur dalam setiap keadaan.

Islam juga mengharamkan sifat dusta. Mencela perbuatan dusta.

Firman Allah Swt., yang menunjukkan mulianya sifat jujur, diantaranya surah At-Taubah ayat 119.

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!”, demikian terjemahan surah itu.

Sedangkan dalil bahwa dusta itu buruk, antara lain, sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

“Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: jika dia berbicara dia dusta, jika dia berjanji dia mengingkarinya dan jika dia dipercaya dia berkhianat”, demikian arti hadis tersebut.

Jujur itu kebenaran. Bukan pembenaran.

Jujur itu adalah keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya.

Jujur itu tidak diada-adakan. Bukan mengada-ada.

Jujur itu adalah sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada.

Jujur itu bukan proses, cara atau perbuatan membenarkan. Karena esensi membenarkan adalah dibuat-dibuat. Dijadikan benar, walau realita yang sesungguhnya adalah lawan katanya; salah.

Jujur itu seperti pisau. Akan tajam jika diasah. Bila terus digerinda.

Artinya, untuk menjadi orang jujur, seseorang bisa melatihnya. Meskipun dalam kenyataannya, tentu tak selancar mengucapkannya. Tak semudah membalikkan telapak tangan.

Orang yang berani jujur pasti orang hebat.

Setidaknyanya itulah makna tiga kata “Berani Jujur Hebat” milik Komisi Pemberantasan Korupsi; Komisi Anti Rasywah; (KPK).

Tapi orang hebat belum tentu berani jujur.

Berani jujur hebat.

Karena menjadi orang yang jujur itu memang sulit. Tak mudah. Bahkan sangat sulit. Apatah lagi untuk sampai ke derajat ash-shiddiq (orang yang sangat jujur).

Berani jujur itu hebat.

Menjadi orang jujur itu berarti sudah siap sedia ditempatkan dalam posisi sulit. Bahkan serba sulit.

Walau sulit dan bakal ditempatkan diposisi sulit, namun siapa pun kita tentu harus senantiasa saling asah, saling asuh, saling asih dalam mempraktikkan kejujuran di setiap perkataan dan perbuatan.

Sebab, seperti kata mutiara Thomas Jefferson tentang kejujuran ‘honesty is the best policy’, menjadi jujur adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Terus dicoba untuk kita tingkatkan kuantitas dan kualitasnya.

Bila tidak, siapa pun kita akan sulit mengamalkan butir-butir sila keempat: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.

Itu untuk di dunia yang fana ini.

Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.

Kejujuran itu tak hanya pada ucapan, juga di perbuatan.

Mengapa Islam menjadikan jujur sebagai sifat yang mulia?

Karena di lobang sempit, kejujuran akan menjadi prajurit-prajurit penghilang jerit.

Kami tahu itu. Tapi jujur dan sejujur-jujurnya, sampai saat ini, jangankan ke orang lain, pada diri sendiri pun terkadang kami belum bisa jujur.

Berani jujur itu memang hebat. Tapi, hingga setakat ini kami belum bisa jadi orang hebat.

Jujur sejujur-jujurnya, kami memang masih sangat perlu banyak nasihat dari para sejawat, pejabat dan mantan pejabat, kerabat, orang dan jiran tetangga dekat, serta karib sahabat.

Dan, tentunya juga, bimbingan dan tunjuk ajar dari para ustad agar kami tak tersesat. #####

Bengkalis, 22 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *