Apa komentar kamu tentang banyaknya partai politik di indonesia

Jawabannya adalah :

PartaiPolitik adalah alat demokrasi untuk mengantarkan rakyat menyampaikanartikulasi kepentingannya. Tidak ada demokrasi sejati tanpa PartaiPolitik. Meski keberadaan Partai Politik saat ini dianggap kurang baik,bukan berarti dalam sistem ketatanegaraan kita menghilangkan peran daneksistensi Partai Politik.
Keadaan Partai Politik seperti sekarang ini hanyalah bagian dari prosesdemokrasi, lumayanlah namanya juga usaha untuk memakmurkan demokrasi.Namun klo kita berbicara ttg partai manakah yg diidamkan oleh masyarakatsepertinya hampir tak ada. bahkan para pelaku politik intern partai jgmeyakini hal itu sekalipun. Tdk ada satupun org di Indonesia yg begitumencintai partainya dg alasan utk mewujudkan demokrasi. Aktivisparpolpun menggunakan parpol hanya sbg kendaraan politik utk mewujudkancita2 (jabatan politik) mereka dan demi mengepulkan asap dapur mereka.
Akhirnya nilai demokrasipun hanya slogan belaka. Kedaulatan utk rakyathanya sbg simbol utk para wakil rakyat yg tlh dipilih cenderungmementingkan kepentingan rakyat untuk sesaat, namun kepentingan kelompokmereka utk selamanya. akhirnya sampailah Indonesia pada demokrasi semuyg kita temui saat ini. Kedaulatan dan kesengsaraan berada di tanganrakyat sekaligus.
semoga membantu^^

ortugisb. VOC tidak menjalankan kristenisasi perdaganganc. VOC lebih dahulu mengenal pusat rempah-rempahd. Portugis harus berperang melawan Spanyole. VOC mendapat bantuan dari Spanyolalasan : . . .2. Perhatikan beberapa nama bangsa berikut ini dengan saksama1) Inggris2) Belanda3) Cina4) Arab5) IndiaBangsa bangsa di atas yng masuk dalam geolongan timur jauh dalm strata kolonia ditunjukkan oleh nomer . . .a. 1 dan 2b. 1 dan 3c. 2 dan 3d. 2 dan 4e. 3 dan 5alasan : . . .3. Budaya barat di indonesia mulai berkembang ke berbagai daerah melalui prosesA. Dakwah dan perdaganganB. Pendidikan dan birokrasiC. Perdagangan dan perkawinanD. Perdagangan dan birokrasiE. Pentas seni dan perdaganganAlasan:4. beberapa hambatan masuk sekolah pada masa kolonial meliputia. adanya persamaan warna kulitb. sistem pendidikan di sesuaikan dengan status sosial masyarakatc. sistem pendidikan kelompok Bumiputera tidak dibedakan oleh status keturunanD. jarak tempuh menuju sekolah sangat jauhe. biaya pendidikan masyarakat pribumi sangat mahalalasan : . . .

“Ketahanan ideologi Pancasila kembali diuji ketika dunia masuk pada era globalisasi di mana banyaknya ideologi alternatif merasuki ke dalam segenap sendi-sendi bangsa melalui media informasi yang dapat dijangkau oleh seluruh anak bangsa,” kata Deputi Bidang Pengkajian Strategik Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P. membuka Focus Group Discussion (FGD) tentang Mencari Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Era Globalisasi bertempat di Ruang Gatot Kaca, Senin, 9 Maret 2020.

Reni menjelaskan bahwa Pancasila sejatinya merupakan ideologi terbuka, yakni ideologi yang terbuka dalam menyerap nilai-nilai baru yang dapat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup bangsa. Namun, di sisi lain diharuskan adanya kewaspadaan nasional terhadap ideologi baru. Apabila Indonesia tidak cermat, maka masyarakat akan cenderung ikut arus ideologi luar tersebut, sedangkan ideologi asli bangsa Indonesia sendiri yakni Pancasila malah terlupakan baik nilai-nilainya maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono, M.E., menjelaskan mengenai tantangan yang dihadapi saat ini. Tantangan pertama adalah banyaknya ideologi alternatif melalui media informasi yang mudah dijangkau oleh seluruh anak bangsa seperti radikalisme, ekstremisme, konsumerisme. Hal tersebut juga membuat masyarakat mengalami penurunan intensitas pembelajaran Pancasila dan juga kurangnya efektivitas serta daya tarik pembelajaran Pancasila.

Kemudian tantangan selanjutnya adalah eksklusivisme sosial yang terkait derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas, gejala polarisasi dan fragmentasi sosial yang berbasis SARA. Bonus demografi yang akan segera dinikmati Bangsa Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di tengah arus globalisasi.

Pada kesempatan tersebut Dave juga memberikan rekomendasi implementasi nilai-nilai Pancasila di era globalisasi. Pertama, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang menarik bagi generasi muda dan masyarakat.

Rekomendasi selanjutnya adalah membumikan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan dan/atau pembelajaran berkesinambungan yang berkelanjutan di semua lini dan wilayah. Oleh karena itu, Dave menganggap perlu ada kurikulum di satuan pendidikan dan perguruan tinggi yaitu Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (P3KN). 

Menanggapi pernyataan Dave, Analis Kebijakan Direktorat Sekolah Menengah Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) Dr. Juandanilsyah, S.E., M.A., menjelaskan bahwa Pancasila saat ini diajarkan dan diperkuat melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) dengan penekanan pada teori dan praktik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh perkembangan global juga berdampak pada anak-anak. 

Menurut Juan, Pancasila di masa mendatang akan mempertahankan otoritas negara dan penegakan hukum serta menjadi pelindung hak-hak dasar warga negara sebagai manusia. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan kesadaran terhadap potensi bahaya gangguan dari luar yang dapat merusak dan mengajak siswa untuk mempertahankan identitas bangsa serta meningkatkan ketahanan mental dan ideologi bangsa.

“Seharusnya representasi sosial tentang Pancasila yang diingat orang adalah Pancasila ideologi toleransi, Pancasila ideologi pluralisme, dan Pancasila ideologi multikulturalisme,” kata Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia Prof. Dr. Hamdi Moeloek.

Representasi sosial tentang Pancasila yang dimaksud adalah kerangka acuan nilai bernegara dan berbangsa yang menjadi identitas Bangsa Indonesia. Hamdi menjelaskan bahwa jika Pancasila menjadi acuan, maka implementasi nilai-nilai Pancasila akan lebih mudah terlihat dalam praktik bernegara, misalnya saat pengambilan kebijakan-kebijakan politik. Selanjutnya Hamdi menjelaskan bahwa terlihat Pancasila bisa memberikan solusi di tengah adanya beragam ideologi seperti sosialis dan liberal serta di tengah usaha politik identitas oleh agama, etnik, dan kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *